4.7.3 Nyeri Neuropatik

Nyeri neuropatik, yang terjadi akibat kerusakan jaringan saraf, termasuk diantaranya neuralgia pasca herpes, phantom limb pain, complex regional pain syndrome (reflex sympathetic dystrophy, causalgia) compression neuropathies, neuropati perifer (misalnya akibat diabetes mellitus, keganasan hematologi, artritis rheumatoid, alkoholisme, penyalahgunaan obat-obatan), trauma, nyeri sentral (central pain) (misalnya nyeri yang menyertai stroke, jejas korda spinalis (spinal cord injury), syringomyelia) dan neuropati idiopatik. Sensasi nyeri muncul pada area yang saraf sensoriknya sedikit dan dapat digambarkan sebagai rasa terbakar, nyeri tembakan atau nyeri lepuh dan sering disertai dengan nyeri yang dipicu oleh stimulan yang tidak berbahaya/non-noxiuous (allodynia). Neuralgia trigeminal juga disebabkan oleh disfungsi jaringan saraf, namun penanganannya berbeda dari bentuk nyeri neuropatik yang lain.

Nyeri neuropatik biasanya ditangani dengan antidepresan trisiklik dan antiepileptik tertentu. Nyeri neuropatik hanya dapat memberi respon sebagian terhadap analgesik opioid. Dari golongan metadon, tramadol, dan oksikodon mungkin paling efektif untuk nyeri neuropatik dan obat-obat ini dapat dipertimbangkan untuk diberikan jika obat lain gagal. Blok saraf, transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS), dan, pada kasus tertentu, stimulasi elektrik sentral dapat membantu. Banyak pasien dengan nyeri neuropatik kronik memerlukan penanganan multidisiplin, termasuk fisioterapi dan dukungan fisiologis.

Gabapentin dan pregabalin digunakan untuk pengobatan nyeri neuropatik.

Obat-obatan yang saat ini dicadangkan digunakan untuk nyeri neuropatik dengan pengawasan dokter termasuk natrium valproat, dan kadang fenitoin. Kortikosteroid dapat membantu melepaskan penekanan pada neuropatik dan akhirnya mengurangi nyeri.

Neuralgia trigeminal
Operasi dapat menjadi pilihan penanganan pada banyak pasien; diperlukan kajian neurologi untuk mengidentifikasi pasien yang akan memperoleh manfaat. Karbamazepin yang diminum pada tahap akut neuralgia trigeminal, mengurangi frekuensi dan keparahan serangan. Karbamazepin sangat efektif untuk nyeri berat yang terkait neuralgia trigeminal dan (lebih jarang) neuralgia glosofarigeal. Hitung darah (blood count) dan elektrolit sebaiknya dimonitor jika diberikan dosis tinggi. Dosis rendah sebaiknya diberikan pada awal pengobatan untuk mengurangi efek samping, seperti pusing. Beberapa kasus memberikan respon terhadap fenitoin; fenitoin diberikan secara infus intravena (kemungkinan sebagai fosfenitoin) pada keadaan krisis (khusus penggunaan oleh dokter spesialis).

Neuralgia postherpetik
Neuralgia posterpetik dapat terjadi setelah infeksi herpes zoster akut (shingles), terutama pada pasien lansia. Jika amitriptilin gagal menangani nyeri secara memadai, gabapentin dapat meningkatkan kontrol. Penggunaan sediaan anestetik lokal topikal dapat membantu pada beberapa pasien.

Nyeri kronik pada wajah
Nyeri wajah dan mulut (seperti nyeri wajah atipikal, dan disfungsi temporomandibular) memerlukan penggunaan jangka panjang analgesik atau obat lain. Peresepan obat jangka panjang untuk mengatasi gangguan seperti ini sebaiknya didahului dengan pemeriksaan lengkap dan biasanya melibatkan dokter spesialis. Kelainan jenis ini memerlukan rujukan spesialis dan dukungan psikologis selain terapi dengan obat. Pasien yang dalam terapi jangka panjang perlu dimonitor baik kemajuan penyakit maupun efek samping obat.