4.7.1 Analgesik Non-Opioid

Asetosal diindikasikan untuk sakit kepala; nyeri muskuloskeletal sementara, dismenore; dan demam. Pada peradangan kebanyakan klinisi lebih menyukai pengobatan antiinflamasi dengan AINS lain yang mungkin lebih dapat ditoleransi dan lebih nyaman bagi pasien. Asetosal makin banyak dipakai karena kerja antiplateletnya (lihat 2.9). Tablet asetosal atau tablet terlarut (dispersible) asetosal memadai untuk sebagian besar penggunaan karena efeknya yang cepat. Iritasi lambung dapat menjadi masalah namun dapat dikurangi dengan meminum obat setelah makan. Tersedia juga sediaan salut enterik tetapi mempunyai mula kerja yang lambat dan karena itu tidak sesuai untuk penggunaan analgesik dosis tunggal (walaupun kerja yang lebih panjang mungkin berguna untuk nyeri pada malam hari). Asetosal secara nyata berinteraksi dengan beberapa obat lain dan interaksinya dengan warfarin menimbulkan bahaya khusus (special hazard), lihat interaksi; Lampiran 1 (asetosal).

Parasetamol mempunyai efikasi yang mirip dengan asetosal, tetapi tidak dapat menunjukkan aktivitas antiinflamasi, parasetamol kurang mengiritasi lambung dan karena itu lebih disukai daripada asetosal, khususnya pada orang lansia.

Overdosis dengan parasetamol secara khusus berbahaya karena dapat mengakibatkan kerusakan hati yang kadang-kadang tidak tampak dalam 4–6 hari pertama (lihat Informasi tentang Penanganan Darurat pada Keracunan).

Analgesik antiinflamasi nonsteroid khususnya berguna untuk pengobatan pasien dengan penyakit kronis yang disertai nyeri dan inflamasi. Beberapa AINS juga digunakan untuk pengobatan jangka pendek nyeri ringan sampai sedang termasuk nyeri muskuloskeletal ringan, tetapi parasetamol sekarang lebih disukai, terutama pada orang lansia. AINS juga sesuai untuk mengurangi nyeri pada dismenore dan untuk mengobati nyeri yang disebabkan tumor sekunder pada tulang yang beberapa diantaranya menimbulkan lisis tulang dan melepaskan prostaglandin (lihat Peresepan pada Perawatan Paliatif). Inhibitor selektif COX-2 dapat juga digunakan menggantikan AINS non-selektif untuk pasien dengan risiko tinggi efek samping serius saluran cerna. AINS termasuk ketorolak juga digunakan untuk analgesia perioperatif; lihat 15.1.4.

Asam mefenamat merupakan analgesik kelompok AINS tetapi sifat antiinflamasinya rendah. Berbeda dengan AINS lainnya, asam mefenamat mempunyai efek samping diare dan kadang-kadang anemia hemolitik bisa terjadi sehingga pengobatan harus dihentikan.

Nyeri daerah orofacial dan gigi. Kebanyakan nyeri gigi dapat diringankan secara efektif dengan AINS. Asetosal efektif terhadap nyeri gigi ringan hingga sedang; bentuk sediaan tablet larut asetosal (dispersable) diabsorpsi dengan cepat dan sesuai untuk berbagai tujuan.

Efek analgesik parasetamol dalam mengatasi nyeri gigi ringan sampai sedang lebih kecil dibanding asetosal, namun parasetamol tidak mempengaruhi waktu pendarahan (bleeding time) ataupun berinteraksi secara bermakna dengan warfarin. Dan lagi, parasetamol kurang mengiritasi lambung. Parasetamol adalah analgesik yang sesuai untuk anak-anak.

SEDIAAN ANALGESIK KOMBINASI

Sediaan kombinasi analgesik yang mengandung analgesik sederhana (seperti asetosal atau parasetamol) dan senyawa opioid memperkecil kemungkinan untuk dapat melakukan titrasi terhadap masing- masing komponen dalam penanganan nyeri dengan berbagai intensitas. Sediaan kombinasi analgesik yang mengandung parasetamol atau asetosal dan analgesik opioid dosis rendah (misalnya 8 mg kodein fosfat per tablet kombinasi) sering digunakan; tetapi manfaatnya belum terbukti. Opioid dosis rendah cukup untuk menimbulkan efek samping opioid (khususnya konstipasi) dan dapat memperumit penanganan bila terjadi overdosis; lagipula tidak memberi tambahan efek pengurangan nyeri yang berarti.

Dosis penuh opioid (misalnya kodein fosfat 60 mg) dalam sediaan kombinasi analgesik dapat memperbesar aktivitas analgesiknya namun disertai dengan efek samping opioid (meliputi mual, muntah, konstipasi berat, rasa mengantuk, depresi pernapasan, dan risiko ketergantungan pada penggunaan jangka panjang). Untuk efek samping; peringatan dan kontraindikasi opioid analgesik yang lebih rinci; lihat 4.7.2 (penting: penderita lansia lebih mudah mengalami efek samping opioid dan sebaiknya diberikan dosis yang lebih rendah).Secara umum, pada saat menilai rasa sakit, pentin g untuk menimbang secara seksama apakah diperlukan pemberian analgesik non-opioid dan opioid sekaligus. Kafein, merupakan suatu stimulan lemah, sering ditambahkan ke dalam sediaan analgesik dalam dosis kecil. Penambahan kafein ini dinyatakan dapat menambah efek analgesik, tetapi efek perangsang, efek kecanduan ringan, dan kemungkinan terpicunya sakit kepala belum tentu diinginkan. Lebih-lebih dosis yang berlebihan atau penghentian kafein itu sendiri dapat memicu sakit kepala.

Monografi: 

ASAM MEFENAMAT

Indikasi: 

nyeri ringan sampai sedang seperti sakit kepala, sakit gigi, dismenore primer, termasuk nyeri karena trauma, nyeri otot, dan nyeri pasca operasi.

Peringatan: 

Risiko kardiovaskular; AINS dapat meningkatkan risiko kejadian trombotik kardiovaskuler serius, infark miokard, dan stroke, yang dapat fatal. Risiko ini bertambah dengan lamanya penggunaan. Pasien dengan penyakit kardiovaskuler atau faktor risiko untuk penyakit kardiovaskuler berada dalam risiko yang lebih tinggi. Gunakan dengan hati-hati pada pasien lansia, pengobatan jangka lama lakukan tes darah.

Interaksi: 

Lampiran 1 (AINS).

Kontraindikasi: 

pengobatan nyeri peri operatif pada operasi CABG, peradangan usus besar.

Efek Samping: 

gangguan sistem darah dan limpatik berupa agranulositosis, anemia aplastika, anemia hemolitika autoimun, hipoplasia sumsum tulang, penurunan hematokrit, eosinofilia, leukopenia, pansitopenia, dan purpura trombositopenia.
Dapat terjadi reaksi anafilaksis. Pada sistem syaraf dapat mengakibatkan meningitis aseptik, pandangan kabur; konvulsi, mengantuk. Diare, ruam kulit (hentikan pengobatan), kejang pada overdosis.

Dosis: 

500 mg 3 kali sehari sebaiknya setelah makan; selama tidak lebih dari 7 hari.

ASETOSAL (ASAM ASETILSALISILAT)

Indikasi: 

nyeri ringan sampai sedang; demam (lihat keterangan di atas).

Peringatan: 

asma; penyakit alergi; gangguan fungsi ginjal (lampiran 3); menurunnya fungsi hati; dehidrasi; sebaiknya hindarkan pengunaan pada demam atau infeksi virus pada remaja (risiko Sindrom Reye, lihat keterangan di bawah); kehamilan (lampiran 4); pasien lansia; defisiensi G6PD (lihat 9.1.5);

Interaksi: 

Lampiran 1 (asetosal).

Kontraindikasi: 

anak dan remaja di bawah usia 16 tahun dan ibu menyusui (Sindrom Reye; lihat bawah); riwayat maupun sedang menderita tukak saluran cerna; hemofilia; tidak untuk pengobatan gout. HIPERSENSITIVITAS. Asetosal dan AINS lainnya tidak boleh diberikan kepada penderita dengan riwayat hipersensitivitas terhadap asetosal atau AINS lain; termasuk mereka yang terserang asma; angioudema; urtikaria atau rinitis yang ditimbulkan oleh asetosal atau AINS lain. SINDROM REYE. Karena hubungannya dengan Sindrom Reye, maka sediaan yang mengandung asetosal tidak diberikan pada anak dan remaja di bawah usia 16 tahun, kecuali ada indikasi yang spesifik misalnya untuk pengobatan Sindrom Kawasaki.

Efek Samping: 

biasanya ringan dan tidak sering, tetapi kejadiannya tinggi untuk terjadinya iritasi saluran cerna dengan perdarahan ringan yang asimptomatis; memanjangnya bleeding time; bronkospasme; dan reaksi kulit pada pasien hipersensitif. Overdosis: lihat Pengobatan Darurat pada Keracunan.

Dosis: 

300-900 mg tiap 4-6 jam bila diperlukan; maksimum 4 g per hari. Anak dan remaja tidak dianjurkan (lihat keterangan di atas).

ASETOSAL KOMBINASI DENGAN BUKAN PSIKOLEPTIK

Keterangan: 

Sediaan yang dijual bebas. Berikut ini daftar sediaan yang dijual bebas yang mengandung asetosal atau parasetamol dengan bahan aktif lain. Penting: pada overdosis hubungi Sentra Informasi Keracunan untuk penjelasan lengkap tentang isinya.

IBUPROFEN

Indikasi: 

Nyeri ringan sampai sedang antara lain nyeri pada penyakit gigi atau pencabutan gigi, nyeri pasca bedah, sakit kepala, gejala artritis reumatoid, gejala osteoartritis, gejala juvenile artritis reumatoid, menurunkan demam pada anak.

Peringatan: 

Tidak dianjurkan pada lansia, kehamilan, persalinan, menyusui, pasien dengan perdarahan, ulkus, perforasi pada lambung, gangguan pernafasan, gangguan fungsi jantung, gangguan fungsi ginjal, gangguan fungsi hati, hipertensi tidak terkontrol, hiperlipidemia, diabetes melitus, gagal jantung kongestif, penyakit jantung iskemik, penyakit serebrovaskular, penyakit arteri periferal, dehidrasi, meningitis aseptik.

Interaksi: 

AINS dan penghambat selektif COX-2: berpotensi menimbulkan efek adiktif. Glikosida jantung: menurunkan kecepatan filtrasi glomerulus dan meningkatkan konsentrasi plasma glikosida jantung. Kortikosteroid: meningkatkan risiko ulkus atau perdarahan lambung. Antikoagulan (warfarin): meningkatkan efek dari antikoagulan. Antiplatelet dan golongan SSRI (klopidogrel, tiklopidin): meningkat risiko perdarahan lambung. Asetosal: meningkatkan risiko efek samping. Anti hipertensi: menurunkan efek anti hipertensi. Diuretik: meningkatkan risiko nefrotoksik. Litium: mempercepat eliminasi litium. Metotreksat: mengurangi bersihan metotreksat. Siklosporin dan takrolimus: meningkatkan risiko nefrotoksik. Zidovudin: meningkatkan risiko gangguan hematologi. Kuinolon: meningkatkan risiko kejang. Aminoglikosida: menurunkan eksresi aminoglikosida. Mifepriston: jangan gunakan AINS selama 8 – 12 hari setelah terapi mifepriston karena dapat mengurangi efek mifepriston. Ginkgo biloba: meningkatkan risiko perdarahan.

Kontraindikasi: 

Kehamilan trimester akhir, pasien dengan ulkus peptikum (ulkus duodenum dan lambung), hipersensitivitas, polip pada hidung, angioedema, asma, rinitis, serta urtikaria ketika menggunakan asam asetilsalisilat atau AINS lainnya.

Efek Samping: 

Umum: pusing, sakit kepala, dispepsia, diare, mual, muntah, nyeri abdomen, konstipasi, hematemesis, melena, perdarahan lambung, ruam. Tidak umum: rinitis, ansietas, insomnia, somnolen, paraestesia, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, tinnitus, vertigo, asma, dispnea, ulkus mulut, perforasi lambung, ulkus lambung, gastritis, hepatitis, gangguan fungsi hati, urtikaria, purpura, angioedema, nefrotoksik, gagal ginjal. Jarang: meningitis aseptik, gangguan hematologi, reaksi anafilaktik, depresi, kebingungan, neuritis optik, neuropati optik, edema. Sangat jarang: pankreatitis, gagal hati, reaksi kulit (eritema multiform, sindroma Stevens – Johnson, nekrolisis epidermal toksik), gagal jantung, infark miokard, hipertensi.

Dosis: 

Dewasa, dosis yang dianjurkan 200-250 mg 3-4 kali sehari. Anak 1-2 tahun, 50 mg 3-4 kali sehari. 3-7 tahun, 100-125 mg 3-4 kali sehari. 8-12 tahun, 200-250 mg 3-4 kali sehari. Tidak boleh dipergunakan pada anak dengan berat badan kurang dari 7 kg. Sebaiknya diminum setelah makan. Osteoartritis, artritis reumatoid. 1200 mg – 1800 mg 3 kali sehari. Eksaserbasi akut. Dosis maksimum 2400 mg/hari, jika kondisi sudah stabil selanjutnya dosis dikurangi hingga maksimum 1800 mg/hari.

PARASETAMOL (ASETAMINOFEN)

Indikasi: 

nyeri ringan sampai sedang, nyeri sesudah operasi cabut gigi, pireksia.

Peringatan: 

gangguan fungsi hati, gangguan fungsi ginjal (lampiran 3), ketergantungan alkohol.

Interaksi: 

lihat lampiran 1, peningkatan risiko kerusakan fungsi hati pada pengunaan bersama alkohol.

Kontraindikasi: 

gangguan fungsi hati berat, hipersensitivitas.

Efek Samping: 

jarang terjadi efek samping, tetapi dilaporkan terjadi reaksi hipersensitivitas, ruam kulit, kelainan darah (termasuk trombositopenia, leukopenia, neutropenia), hipotensi juga dilaporkan pada infus, PENTING: Penggunaan jangka panjang dan dosis berlebihan atau overdosis dapat menyebabkan kerusakan hati, lihat pengobatan pada keadaan darurat karena keracunan.

Dosis: 

oral 0,5–1 gram setiap 4–6 jam hingga maksimum 4 gram per hari; anak–anak umur 2 bulan 60 mg untuk pasca imunisasi pireksia, sebaliknya di bawah umur 3 bulan (hanya dengan saran dokter) 10 mg/kg bb (5 mg/kg bb jika jaundice), 3 bulan–1 tahun 60 mg–120 mg, 1-5 tahun 120–250 mg, 6–12 tahun 250– 500 mg, dosis ini dapat diulangi setiap 4–6 jam jika diperlukan (maksimum 4 kali dosisdalam 24 jam), infus intravena lebih dari 15 menit, dewasa dan anak–anak dengan berat badan lebih dari 50 kg, 1 gram setiap 4–6 jam, maksimum 4 gram per hari, dewasa dan anak–anak dengan berat badan 10 -50 kg, 15 mg/kg bb setiap 4–6 jam, maksimum 60 mg/kg bb per hari.