4.4 Gangguan Pemusatan Perhatian

(Attention Deficit Hyperactivity Disorder-ADHD)

Amfetamin (terutama deksamfetamin) dan obat–obat terkait (misalnya metilfenidat) termasuk ke dalam pemacu/stimulan sistem saraf pusat. Obat–obat ini memiliki indikasi yang sempit dan tidak boleh digunakan untuk mengatasi depresi, obesitas, keadaan lemah semasa pemulihan, debilitas atau menghilangkan rasa lesu.

Metilfenidat digunakan untuk mengatasi gangguan pemusatan perhatian (ADHD) pada anak dan remaja sebagai bagian dari program pengobatan yang komprehensif. Obat ini secara umum tidak mempengaruhi pertumbuhan, tetapi disarankan untuk melakukan monitor selama masa pengobatan. Deksamfetamin merupakan obat alternatif pada anak yang tidak memberikan respon terhadap metilfenidat. Atomoksetin digunakan untuk mengatasi ADHD pada anak. Namun keamanan jangka panjangnya belum diketahui dengan pasti. Obat yang digunakan untuk mengatasi ADHD sebaiknya diberikan mula–mula oleh dokter spesialis ADHD dan dapat dilanjutkan oleh dokter umum di bawah pengawasan dokter spesialis. Pengobatan seringkali berlanjut hingga remaja, dan dapat dilanjutkan hingga pasien dewasa. Antidepresan trisiklik seperti imipramin kadang digunakan untuk mengatasi ADHD, tetapi tidak boleh diresepkan bersamaan dengan stimulan SSP.

Modafinil digunakan untuk mengatasi rasa mengantuk pada siang hari yang disebabkan narkolepsi dan obstructive sleep apnoea syndrome; ketergantungan yang timbul pada penggunaan jangka panjang tidak boleh diabaikan, oleh karena itu sebaiknya digunakan dengan hati-hati.
Pasien dengan narkolepsi dapat diatasi dengan deksamfetamin.

Monografi: 

ATOMOKSETIN

Indikasi: 

ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).

Peringatan: 

hipertensi, takikardia, penyakit jantung, riwayat kejang. Kehamilan dan menyusui. Anak di bawah 6 tahun.

Interaksi: 

memerlukan penyesuaian dosis atomoksetin pada penggunaan bersama dengan penghambat CYP2D6 (SSRI seperti: fluoksetin, paroksetin, kuinidin, dan terbinafin). Sebaiknya tidak digunakan bersama dengan salbutamol, antidepresan, neuroleptik, meflokuin, bupropion, tramadol, agen pressor, penghambat MAO.

Kontraindikasi: 

hipersensitif; glaukoma sudut sempit; pemberian bersama dengan penghambat MAO.

Efek Samping: 

rasa tidak nyaman di perut, nafsu makan berkurang, mual, muntah, pusing, kelelahan, suasana hati mudah berubah, konstipasi, mulut kering, gangguan tidur, gangguan fungsi seksual, masalah buang air kecil, kram saat haid.

Dosis: 

Dewasa dan anak/remaja dengan berat badan > 70 kg: dimulai dengan dosis harian total 40 mg dan ditingkatkan setelah minimum 3 hari untuk mencapai dosis total harian sekitar 80 mg dalam dosis tunggal (pagi hari) atau dalam dosis terbagi (pagi dan malam hari). Setelah 2-4 minggu, dosis dapat ditingkatkan. Dosis maksimum 100 mg.
Anak/remaja dengan berat badan hingga 70 kg: dosis awal dimulai dengan dosis harian total 0,5 mg/kgBB dan ditingkatkan setelah minimum 3 hari untuk mencapai dosis total harian 1,2 mg/kgBB, diberikan dalam dosis tunggal (pagi hari) atau dosis terbagi (pagi dan malam hari).

METILFENIDAT HIDROKLORIDA

Indikasi: 

attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) pada anak 6-17 tahun dan dewasa 18-65 tahun yang memenuhi kriteria DSM-IV untuk ADHD.

Peringatan: 

psikosis, hipertensi, riwayat ketergantungan obat atau alkohol, epilepsi (hentikan pengobatan jika meningkatkan frekuensi kejang), monitoring hematologi (untuk pengobatan jangka panjang), hindari pemutusan obat secara mendadak, monitor pertumbuhan (untuk pengobatan jangka panjang), gangguan penglihatan, kehamilan, menyusui.

Kontraindikasi: 

ansietas berat, depresi berat, tegang, agitasi, hipersensitivitas, glaukoma,tics atau riwayat keluarga mengalami sindroma Tourette, (kanker kelenjar adrenal), anak dibawah 6 tahun, dalam terapi inhibitor monoamin ok sidase (MAO), 14 hari setelah penghentian terapi inhibitor monoamin oksidase (MAO ), pencegahan atau terapi kondisi letih (normal fatigue states).

Efek Samping: 

umum terjadi pada anak: nasofaringitis, insomnia, sakit kepala, pusing, batuk, nyeri orofaring, nyeri abdomen atas, muntah, pireksia; umum terjadi pada dewasa: infeksi saluran pernapasan atas, sinusitis, penurunan nafsu makan, anoreksia, insomnia, ansietas, perasaan tertekan, gelisah, agitasi, gugup, bruxism, depresi, labil, penurunan libido, serangan panik, tegang, agresi, bingung, sakit kepa la, pusing, tremor, kesemutan, tension headache , gangguan akomodasi mata, penglihatan kabur, verti go, takikardi, palpitasi, hipertensi, hot flush, nyeri orofaringeal, batuk, dispnea, mulut kering, mual, dispepsia, muntah, konstipasi, hiperhidrosis, mialgia, artalgia, otot kaku, kejang otot, disfungsi ereksi, irratibilitas, lelah, haus, lemah, penurunan berat badan, peningkatan detak jantung, peningkatan tekanan darah, peningkatan alanin amino transferase, tics, mood swings , somnolens, diare, rasa tidak nyaman pada abdomen, nyeri abdomen, ruam, feeling jittery, tidak umum : leukopenia, rasa marah, gangguan tidur, hypervigilance , rasa ingin menangis, gangguan mood , hiperaktif psikomotor, sedasi, letargi, mata kering, rashmacular , cardiac murmur ; telah dilaporkan terjadi pada pasca pemasaran dalam frekeunsi yang tidak diketahui : pansitopenia, trombositopenia, thrombocytopenic purpura , halusinasi, halusinasi penglihatan, konvulsi, konvulsi grand mal , miopia, bradikardi, takikardi supraventrikel, fenomena Raynaud , hiperpireksia, penurunan respons terapi, peningka tan fosfatase alkali, penurunan jumlah platelet, abnormalitas jumlah sel darah putih; umum : artralgia, mialgia; tidak umum : mania, diskinesia, alopesia, muscle twitching, reaksi hipersensitivitas seperti angioedema, reaksi anafilaktik, auricular swelling , ballous condition , exfoliative condition , urtikaria, pruritus, ruam, erupsi, eksantema, nyeri dada, rasa tidak nyaman di dada, penurunan efek obat, peningkatan bilirubin, peningkatan enzim hepatik; jarang: halusinasi pendengaran, gangguan penglihatan, diplopia, midriasis, eritema; sangat jarang: angina pektoris, ekstrasistol, ekstrasistol ventrikel.

 

Dosis: 
dewasa: 5 mg dosis awal 5 mg, 2-3 kali sehari,naikkan dosis jika perlu dengan interval tiap minggu berdasarkan respon maksimal 100 mg dalam dosisi terbagi 2-3 kali; anak usia 6-8 tahun: dosis awal 5 mg, 1–2 kali sehari, naikkan dosis jika perlu dengan interval tiap minggu sebanyak 5–10 mg per hari hingga maksimum 60mg per hari dalam dosis terbagi 2-3 kali, dapat pula ditingkatkan hingga 2,1 mg/kg per harinya dalam dosis dosis terbagi 2-3 (maksimum 90 mg per hari) dibawah pengawsan dokter spesialis, hentikan pemakaian jika tidak ada respon setelah 1 bulan, dan juga hentikan secara periodik untuk menilai kondisi anak (biasanya pada akhirnya dihentikan selama atau setelah pubertas), jika efek berkurang pada malam hari, pemberian satu kali dosis pada sesaat sebelum tidur dapat dilakukan.
Dosis extended release: dosis awal : belum pernah menggunakan metilfenidat atau stimulan lainnya: anak dan remaja usia 6-17 tahun : 18 mg satu kali sehari, Dewasa : 18 atau 36 mg satu kali sehari, pasien yang telah menggunakan metilfenidat direkomendasikan untuk mengikuti dosis pengganti dari tablet ke table pelepasan diperlambat sebagai berikut:

Dosis metilfenidat sebelumnya

Dosis metifenidat extended release yang

direkomendasikan

5 mg metilfenidat 2-3 kali sehari

5 mg metilfenidat 2-3 kali sehari

10 mg metilfenidat 2-3 kali sehari

36 mg tiap pagi

15 mg metilfenidat 2-3 kali sehari

54 mg tiap pagi

20 mg metilfenidat 2-3 kali sehari

72 mg tiap pagi

Dosis dapat ditingkatkan jika perlu dan sesuai respon, peningkatan dosis sebesar18 mg secara bertahap dengan interval tiap minggu, dengan dosis per hari di atas 54 mg untuk anak usia 6-12 tahun, 72 mg untuk remaja usia 12-18 tahun, sedangkan untuk dewasa tidak direkomendasikan.