4.3.4 Antidepresan Lain

Duloksetin menghambat ambilan kembali serotonin dan noradrenalin dan digunakan untuk mengobati gangguan depresi major. Tioksanten flupentiksol memiliki efek antidepresan, dan dengan dosis rendah (1-3 mg per hari), diberikan secara oral. Flupentiksol juga digunakan untuk mengatasi psikosis. Mirtazapin, suatu α2-antagonis presinapsis, meningkatkan neurotransmitter noradrenergik dan serotonergik. Memiliki sedikit efek antimuskarinik tetapi menyebabkan sedasi selama awal pengobatan.

Reboksetin, penghambat selektif ambilan kembali noradrenalin digunakan untuk menangani depresi.

Triptofan digunakan sebagai terapi tambahan untuk depresi yang tidak dapat diatasi lagi dengan antidepresan standar. Obat ini dikaitkan dengan sindroma eosinofilia- mialgia. Triptofan sebaiknya diberikan di bawah pengawasan dokter spesialis. Venlafaksin adalah penghambat ambilan kembali serotonin dan noradrenalin; tetapi tidak memiliki efek sedatif dan antimuskarinik seperti antidepresan trisiklik.

Monografi: 

AGOMELATIN

Indikasi: 

pengobatan episode depresi mayor pada pasien dewasa.

Peringatan: 

Pasien dengan riwayat mania atau hipomania, riwayat percobaan bunuh diri, pasien dengan peningkatan serum trans aminase, intoleransi laktosa. Belum ada data khasiat dan keamanan pada pasien lansia dengan demensia, kehamilan dan menyusui.

Interaksi: 

Penghambat CYP1A2 sedang seperti propanolol, grepafloksasin, enoksasin dan estrogen dapat meningkatkan kadar agomelatin.

Kontraindikasi: 

hipersensitif, gangguan fungsi hati seperti sirosis atau penyakit hati aktif, penggunaan bersamaan dengan penghambat CYP1A2 seperti fluvoksamin, siprofloksasin.

Efek Samping: 

sakit kepala, pusing, lemas, insomnia, migrain, mual, diare, konstipasi, nyeri perut bagian atas, hiperhidrosis, nyeri punggung, kelelahan, peningkatan ALAT/ ASAT pada pemeriksaan fungsi hati, kecemasan.

Dosis: 

25 mg 1 kali sehari diminum saat akan tidur malam.
Jika tidak ada perbaikan setelah 2 minggu pengobatan, dosis dapat ditingkatkan menjadi 50 mg sekali sehari. Pasien dengan depresi harus diobati minimal selama 6 bulan untuk memastikan pasien sudah tidak mengalami gejala lagi.
Tidak dianjurkan untuk pasien di bawah 18 tahun.

DULOKSETIN HCL

Indikasi: 

gangguan depresi mayor.

Peringatan: 

interval QT memanjang, gangguan konduksi jantung, pemakaian bersama dengan obat-obatan yang memperpanjang interval QT, gagal jantung kongestif, hamil dan menyusui; aktivasi mania/hipomania.

Interaksi: 

tidak boleh digunakan bersamaan dengan MAOI irreversibel non selektif seperti obat SSRI (paroksetin, fluoksetin) karena risiko sindrom serotonin, diberikan 14 hari setelah penghentian MAOI atau MAOI dapat diberikan minimal 5 hari setelah penghentian duloksetin. Tidak boleh digunakan bersamaan dengan fluvoksamin, siprofloksasin atau enoksasin karena dapat meningkatkan kadar duloksetin dalam plasma.

Kontraindikasi: 

hipersensitif terhadap duloksetin dan komponen produk; kerusakan ginjal berat, penyakit hati yang menyebabkan kerusakan hati.

Efek Samping: 

konstipasi, mulut kering, mual; lebih jarang, diare, muntah, nafsu makan berkurang, berat badan berkurang, lelah, pusing (kecuali vertigo), mengantuk, tremor, keringat berlebih, wajah memerah, pandangan kabur, anorgasmia, insomnia, libido menurun, ejakulasi tertunda, gangguan ejakulasi, disfungsi ereksi.

Dosis: 

Dosis awal, 60 mg satu kali sehari (maksimal 120 mg dua kali sehari). Tidak direkomendasikan untuk ANAK dan REMAJA di bawah 16 tahun.

MIRTAZAPIN

Indikasi: 

depresi mayor.

Peringatan: 

gangguan jantung, hipotensi, riwayat retensi urin, sensitif mengalami glaukoma sudut sempit, diabetes melitus, penyakit jiwa (dapat memperburuk gejala gangguan kejiwaan), riwayat seizure atau depresi bipolar; gangguan fungsi hati; gangguan fungsi ginjal; kehamilan (lampiran 4); menyusui (lampiran 5). Gangguan darah: Pasien harus melaporkan setiap gejala demam, nyeri kerongkongan, stomatitis atau gejala lain dari infeksi selama terapi. Obat harus segera dihentikan jika terjadi diskrasia darah. Gejala putus obat : mual, muntah, pusing, agitasi, ansietas dan sakit kepala merupakan gejala yang umum terjadi jika obat dihentikan secara tiba-tiba atau jika dosis obat diturunkan secara bermakna; dosis sebaiknya diturunkan perlahan dalam beberapa minggu.

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (mirtazapin).

Efek Samping: 

meningkatkan nafsu makan dan berat badan; edema, sedasi; kurang umum terjadi, pusing, sakit kepala; jarang, hipotensi postural, mimpi yang abnormal, mania, perilaku ingin bunuh diri, seizure, tremor, mioklonik, paraestesia, artralgia, mialgia, akatisia, ruam kulit dan gangguan darah termasuk agranulositosis yang terjadi secara reversibel (lihat peringatan); sangat jarang, glaukoma sudut sempit.

Dosis: 

Awal, 15 mg sehari, diminum menjelang tidur pada malam hari, dapat ditingkatkan dalam 2-4 minggu menurut respons; maksimal 45 mg sehari sebagai dosis tunggal pada malam hari menjelang tidur atau dalam dua dosis terbagi; ANAK dan REMAJA di bawah 18 tahun, tidak direkomendasikan.

VENLAFAKSIN

Indikasi: 

Depresi sedang sampai berat, termasuk depresi yang disebabkan karena ansietas.

Peringatan: 

Diperlukan pemeriksaan EKG sebelum pengobatan, lakukan pengukuran tekanan darah sebelum dan secara periodik selama pengobatan; riwayat epilepsi, glukoma sudut sempit, penggunaan bersama obat lain dapat meningkatkan risiko perdarahan, riwayat gangguan perdarahan, gangguan fungsi hati, gangguan fungsi ginjal (lampiran 3), dapat mempengaruhi kewaspadaan (misal: mengemudi).Gejala putus obat : gangguan gastrointestinal, sakit kepala, anxietas, pusing, paraestesia, tremor, gangguan tidur, dan berkeringat. Hal-hal tersebut di atas sering muncul pada gejala putus obat jika pengobatan dihentikan mendadak atau dosis diturunkan secara bermakna; Dosis sebaiknya diturunkan secara bertahap dalam beberapa minggu.

Kontraindikasi: 

Penyakit jantung, gangguan elektrolit, hipertensi, gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat, kehamilan (lampiran 4) dan menyusui (lampiran 5), penggunaan bersamaan venlafaksin dengan inhibitor monoamin oksidase.

Efek Samping: 

konstipasi, mual, pusing, mulut kering, insomnia, gugup, mengantuk, astenia, sakit kepala, disfungsi seksual, berkeringat. Umum terjadi : anoreksia, perubahan berat badan, diare, dispepsia, muntah, sakit perut, hipertensi, palpitasi, vasodilatasi, perubahan kolesterol dalam serum, rasa dingin, pireksia, dispnoea, yawning, mimpi aneh, agitasi, anxietas, bingung, hipertonia, paraestesia, tremor, sering buang air kecil, gangguan menstruasi, arthralgia, mialgia, gangguan penglihatan, midriasis, tinnitus, pruritus, ruam kulit. Tidak umum terjadi : apathy, bruxism, gangguan mengecap, hipotensi, postural hipotensi, arhitmia, sindroma kurangnya sekresi hormon antidiuretik, halusinasi, myoclonus, retensi urin, gangguan perdarahan (meliputi echymosis dan hemoragik), alopesia, reaksi hipersensitivitas meliputi angioedema, urtikaria, fotosensitivitas, jarang terjadi, perpanjangan interval QT, ataksia, inkoordinasi, gangguan bicara, efek ekstrapiramidal, keinginan bunuh diri, mania dan hipomania, agresi, seizure, sindroma serotonin dan sindroma malignansi neuroleptik, peningkatan kadar prolaktin, diskrasia darah, rabdomiolisis, eritema multiforma, Sindroma Stevens?ohnson, hepatitis, dan dilaporkan terjadinya pankreatitis.

Dosis: 

Depresi, dosis awal 75 mg per hari dalam 2 dosis terbagi, naikkan dosis jika perlu setelah 3-4 minggu menjadi 150 mg per hari dalam 2 dosis terbagi; depresi berat atau pasien rawat inap dosis dinaikkan lebih cepat dan bertahap sebanyak 75 mg setiap 2-3 hari hingga maksimum 375 mg per hari, selanjutnya dosis diturunkan secara bertahap. Anak-anak dan dewasa di bawah umur 18 tahun tidak direkomendasikan.Sediaan lepas lambat, 75 mg sekali sehari, jika dalam 2 minggu dibutuhkan peningkatan efek klinik, dosis dapat ditingkatkan hingga 150 mg sekali sehari. Jika diperlukan, dosis dapat ditingkatkan kembali hingga 275 mg sekali sehari. Peningkatan dosis sebaiknya dalam interval waktu 2 minggu atau lebih namun tidak boleh kurang dari 4 hari. Obat sebaiknya diberikan sekali sehari pada waktu yang sama, pagi hari atau sore hari.