4.3.2 Selective Serotonin Re-uptake Inhibitor (SSRI) dan Sejenisnya

Sitalopram, esitalopram, fluoksetin, fluvoksamin, paroksetin, dan sertralin menghambat ambilan kembali serotonin secara selektif (5-hydroxytryptamine, 5-HT); kelompok obat ini disebut penghambat ambilan kembali serotonin secara selektif (SSRI).

Gangguan depresi pada anak dan remaja
Berdasarkan rasio manfaat dan risiko, penanganan gangguan depresi pada anak dan remaja dengan menggunakan SSRI sitaploram, esitalopram, proksetin, sertralin, dan mirtazapin serta venlafaksin tidak membantu. Uji klinik tidak dapat membuktikan efektifitasnya dan menunjukkan peningkatan risiko. Namun, dokter spesialis dapat menggunakan obat ini tergantung pada kondisi individual pasien; penggunaan pada anak dan remaja sebaiknya dimonitor secara ketat terutama terhadap munculnya keinginan bunuh diri, mencelakai diri sendiri atau keinginan bermusuhan yang terjadi pada awal pengobatan.
Hanya fluoksetin yang menunjukkan efektifitas pada uji klinik, untuk mengatasi gangguan depresi pada anak dan remaja. Namun, seperti halnya SSRI yang lain, fluoksetin juga sedikit menimbulkan pikiran untuk bunuh diri dan mencelakai diri sendiri. Secara umum, dengan mempertimbangkan manfaat dan risiko, penggunaan fluoksetin untuk mengatasi gangguan depresi pada anak dan remaja pada pasien di bawah umur 18 tahun cukup membantu, tetapi harus dipantau penggunaannya secara ketat, sebagaimana obat SSRI lainnya.

Perhatian. SSRI sebaiknya digunakan dengan hati-hati pada pasien epilepsi (hindari jika kejang tidak terkendali, hentikan jika kejang meningkat), penyakit jantung, diabetes melitus, dicurigai adanya glaukoma sudut sempit, riwayat mania atau gangguan perdarahan (terutama perdarahan pada saluran cerna) dan jika digunakan dengan obat lain yang dapat meningkatkan risiko perdarahan, gangguan fungsi hati, gangguan fungsi ginjal, kehamilan dan menyusui.
Obat ini juga harus digunakan dengan hati-hati pada pasien yang menerima electro-convulsive therapy (kejang yang berkepanjangan dilaporkan terjadi pada pemberian fluoksetin).
Risiko tindakan bunuh diri mungkin tinggi pada orang dewasa muda, sehingga diperlukan pengawasan yang ketat terhadap pasien yang menggunakan SSRI karena dapat mempengaruhi kemampuan (seperti mengemudi). Interaksi dapat dilihat di bawah dan pada lampiran.

Penghentian obat. Gangguan saluran cerna, sakit kepala, ansietas, pusing, paraestesia, gangguan tidur, lelah, gejala seperti flu, serta berkeringat merupakan hal yang umum timbul dari penghentian obat SSRI secara tiba-tiba, atau penurunan dosis yang nyata secara tiba-tiba. Dosis sebaiknya diturunkan sedikit demi sedikit selama beberapa minggu untuk menghindari efek–efek tersebut.

Interaksi. SSRI dan antidepresan terkait baru boleh digunakan setelah penggunaan MAO dihentikan 2 minggu. Sebaliknya, MAO baru boleh digunakan setelah SSRI dan antidepresan terkait dihentikan paling tidak 1 minggu (2 minggu pada penggunaan sertralin, paling tidak 5 minggu pada penggunaan fluoksetin). Untuk interaksi antidepresan SSRI lainnya lihat pada lampiran 1.

Kontraindikasi. SSRI tidak boleh digunakan jika pasien memasuki fase manik.

Efek samping. Efek sedasi SSRI lebih ringan dan dibanding antidepresan trisiklik efek muskarinik dan kardiotoksiknya lebih sedikit. Efek samping SSRI termasuk efek pada saluran cerna (dipengaruhi dosis dan sering meliputi, mual, muntah, dispepsia, sakit perut, diare, konstipasi), anoreksia dengan penurunan berat badan (dilaporkan juga terjadi peningkatan nafsu makan dan peningkatan berat badan) serta reaksi hipersensitifitas termasuk gatal, urtikaria, angioudem, anafilaksis, artralgia, mialgia, fotosensitifiti, efek samping lain termasuk mulut kering, gugup, ansietas, halusinasi, mengantuk, kejang (lihat peringatan di atas), galaktorea, gangguan fungsi seksual, retensi urin, berkeringat, hipomania atau mania (lihat peringatan di atas), gangguan pergerakan dan diskinesia, gangguan penglihatan, hiponatremia, dan gangguan perdarahan termasuk ecchymoses dan purpura. Perilaku bunuh diri telah dikaitkan dengan penggunaan antidepresan. Glaukoma sudut sempit sangat jarang memburuk selama terapi dengan SSRI.

Monografi: 

AMINEPTIN

Indikasi: 

depresi.

Peringatan: 

hamil, menyusui

Interaksi: 

penghambat MAO.

Kontraindikasi: 

Huntington's chorea, riwayat hepatitis karena amineptin.

Efek Samping: 

reaksi kulit, sakit kuning, mudah tersinggung, gugup, insomnia, hipotensi, konstipasi, mulut kering

Dosis: 

200 mg/hari dalam dua dosis bagi, pagi dan siang. Pada awal terapi ditambahkan dosis kecil ansiolitik

ESITALOPRAM OKSALAT (MERUPAKAN ISOMER DARI SITALOPRAM)

Indikasi: 

Episode depresi mayor, gangguan panik dengan atau tanpa agorafobia, gangguan ansietas secara umum, gangguan ansietas sosial (fobia sosial), gangguan obsesif konvulsif.

Peringatan: 

Anak, remaja <18 tahun, lansia, kehamilan, menyusui, berencana hamil, mengemudi, penurunan fungsi ginjal, penyakit jantung koroner, ansietas paradoksikal, kejang, mania/hipomania, diabetes, keinginan untuk bunuh diri, akatisia/kegelisahanpsikomotor, hiponatremia, perdarahan, terapi elektrokonvulsi, sindroma serotonin. 

Interaksi: 

Penghambat selektif, reversibel MAO-A (moklobemid), selegilin: risiko sindroma serotonin. Golongan serotonergik (tramadol, sumatriptan, dan derivat triptan): risiko sindroma serotonin. Litium, triptofan: meningkatkan efek esitalopram. Antikoagulan oral: meningkatkan efek antikoagulan. Penghambat CYP2C19 (omeprazol, fluoksetin, fluvoksamin, lansoprazol, tiklopidin) dan dengan simetidin: peningkatan kadar plasma esitalopram. Obat dengan indeks terapi sempit (flekainid, propafenon, metoprolol), antidepresan (desipramin, klomipramin, nortriptilin), antipsikotik (risperidon, tioridazin, haloperidol): peningkatan kadar  plasma.

Kontraindikasi: 

Hipersensitivitas, penggunaan bersama dengan penghambat MAO (nonselektif dan ireversibel), dan pimozid.

Efek Samping: 

Sangat umum: mual. Umum: penurunan dan peningkatan nafsu makan, peningkatan berat badan, ansietas, kegelisahan, penurunan libido, mimpi buruk, anorgasmia, insomnia, somnolen, pusing, paraestesia, tremor, sinusitis, menguap, diare, konstipasi, muntah, mulut kering, peningkatan keringat, artralgia, mialgia, gangguan ejakulasi, impotensi, lelah, demam. Tidak umum: penurunan berat badan, bruksisme, agitasi, gugup, serangan panik, kebingungan, gangguan perasa, gangguan tidur, pingsan, midriasis, gangguan penglihatan, tinitus, takikardi, epistaksis, pendarahan gastrointestinal (termasuk pendarahan rektal), urtikaria, alopesia, ruam, pruritus, metroragia, menoragia, udem. Jarang: reaksi anafilaktis, agresi, depersonalisasi, halusinasi, sindroma serotonin, bradikardi. Frekuensi tidak diketahui: trombositopenia, sekresi ADH tidak sesuai, hiponatremia, anoreksia, mania, keinginan bunuh diri, perilaku bunuh diri, diskinesia, gangguan gerak, kejang, akatisia/kegelisahan psikomotor, perpanjangan QT elektrokardiogram, hipotensi ortostatik, hepatitis, kelainan hasil uji fungsi hati, ekimosis, angioedema, retensi urin, galaktorea, priapisme.

Dosis: 

Satu kali sehari, dengan atau tanpa makanan. Episode depresi mayor: 10 mg satu kali sehari, maksimal 20 mg satu kali sehari. Lama terapi 2-4 minggu, dilanjutkan minimal 6 bulan setelah gejala diatasi. Gangguan panik dengan atau tanpa agorafobia: dosis awal: 5 mg selama 1 minggu dilanjutkan 10 mg satu kali sehari, maksimal 20 mg satu kali sehari. Pengobatan efektif setelah 3 bulan dan dapat berlangsung beberapa bulan. Gangguan ansietas sosial: 10 mg satu kali sehari, maksimal 20 mg satu kali sehari. Lama terapi 2-4 minggu, dilanjutkan selama 3 bulan setelah gejala diatasi. Pengobatan dapat dilanjutkan hingga 6 bulan untuk menghindari relaps. Gangguan ansietas secara umum: 10 mg satu kali sehari, maksimal 20 mg satu kali sehari. Pengobatan efektif setelah 3 bulan dan dapat dilanjutkan hingga 6 bulan untuk menghindari relaps. Gangguan obsesif konvulsif: 10 mg satu kali sehari, maksimal 20 mg satu kali sehari. Pengobatan efektif setelah 16-24 minggu, dan dapat dilanjutkan hingga terbebas dari gejala.

FLUOKSETIN

Indikasi: 

lihat pada Dosis.

Peringatan: 

penyakit jantung, epilepsi (hindari bila sulit dikendalikan), bersama dengan terapi elektro syok, riwayat mania, gangguan hati dan ginjal, hamil dan menyusui, hindari pemutusan mendadak.

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (antidepresan, SSRI).

Efek Samping: 

saluran cerna, reaksi hipersensitivitas, mulut kering, gugup, cemas, nyeri kepala, insomnia, palpitasi, tremor, bingung, pusing, hipotensi, hipomania atau mania, mengantuk, astenia, kejang, demam, disfungsi seksual, berkeringat, gangguan gerak dan diskinesia, sindrom neuroleptik maligna, hiponatremia, gangguan fungsi hati, anemia aplastika, gangguan peredaran darah otak, ekomosis, pneumonia eusinofilik, hiperprolaktinemia, anemia hemolitik, pankreatitis, pansi?openia, kecenderungan bunuh diri, trombositopenia, purpura trombositopenik, perdarahan vagina pada pemutusan obat, perilaku kekerasan, rambut rontok

Dosis: 

depresi: 20 mg/hari. ANAK: tidak dianjurkanBulimia nervosa : 60 mg/hari.ANAK: tidak dianjurkan. Gangguan obsesif kompulsif: dosis awal 20 mg/hari, naikkan dosis bila dalam beberapa minggu tak ada respons. Maksimal: 60 mg/hari. ANAK: tidak dianjurkan.

FLUVOKSAMIN MALEAT

Indikasi: 

depresi.

Peringatan: 

lihat Fluoksetin; hindari penghentian mendadak, dapat menyebabkan penurunan denyut jantung.

Kontraindikasi: 

lihat Fluoksetin.

Efek Samping: 

lihat Fluoksetin. jarang menaikkan enzim hati, biasanya dengan gejala (hentikan pengobatan), galaktorea.

Dosis: 

dosis awal 100 mg/hari. Maksimal: 300 mg/hari, dosis terbagi. ANAK: tidak dianjurkan.

PAROKSETIN

Indikasi: 

depresi gangguan obsesif konpulsif, gangguan panik.

Peringatan: 

lihat Fluoksetin.

Kontraindikasi: 

lihat Fluoksetin.

Efek Samping: 

lihat Fluoksetin. Reaksi ekstrapiramidal dan sindrom putus obat lebih sering dibanding SSRI lain.

Dosis: 

biasanya 20 mg tiap pagi, bila perlu naikkan dosis bertahap dengan 10 mg, sampai maksimal 50 mg/hari (lansia 40 mg/hari). ANAK tidak dianjurkan.

SERTRALIN

Indikasi: 

Depresi termasuk depresi yang timbul karena ansietas pada pasien dengan atau tanpa riwayat mania, kelainan obsesif-kompulsif (obsessive-compulsive disorder), kelainan stres post-trauma (post traumatic stress disorder).

Peringatan: 

Lihat keterangan di atas.

Interaksi: 

lihat lampiran 1.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas komponen obat, penggunaan bersama dengan inhibitor monoamin oksidase (MAOIs) dan penggunaan bersama dengan pimozide.

Efek Samping: 

Lihat keterangan di atas, takikardi, hipotensi postural, bingung, amnesia, perilaku agresif, psikosis, pankreatitis, hepatitis, jaundice, kegagalan hati, iregular menstruasi, paraestesia, juga dilaporkan terjadinya trombositopenia (belum ada bukti hubungan sebab akibatnya).

Dosis: 

Depresi, dosis awal 50 mg per hari, naikkan dosis jika perlu sebesar 50 mg dalam beberapa minggu hingga maksimum 200 mg per hari; dosis perawatan 50 mg per hari; anak-anak dan remaja di bawah 18 tahun tidak direkomendasikan; kelainan obsesif-kompulsif (obsessive-compulsive disorder), dewasa dan remaja lebih dari 13 tahun, dosis awal 50 mg per hari, naikkan dosis jika perlu secara bertahap sebanyak 50 mg selama beberapa minggu; interval dosis lazim 50-200 mg per hari; anak-anak umur 6-12 tahun dosis awal 25 mg per hari, naikkan dosis hingga 50 mg per hari setelah satu minggu, selanjutnya naikkan dosis kembali jika perlu sebanyak 50 mg dengan interval paling tidak satu minggu (maksimum 200 mg per hari); anak-anak dibawah 6 tahun tidak direkomendasikan; kelainan stres post-trauma (post traumatic stress disorder), dosis awal 25 mg per hari, naikkan setelah satu minggu menjadi 50 mg per hari; jika respon yang terjadi hanya sebagian dan jika obat menjadi ditoleransi, dosis dinaikkan bertahap sebanyak 50 mg selama beberapa minggu hingga maksimum 200 mg per hari. Anak-anak dan remaja di bawah 18 tahun tidak direkomendasikan.

SITALOPRAM

Indikasi: 

penyakit depresi, gangguan panik.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas.

Kontraindikasi: 

lihat keterangan di atas.

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; juga palpitasi, takikardia, hipotensi postural, batuk, yawning, rasa bingung, gangguan konsentrasi, malaise, amnesia, migrain, paraestesia, mimpi yang abnormal, gangguan pengecapan, peningkatan salivasi, rinitis, tinnitus, poliuria, gangguan mikturisi, euforia; memberikan efek yang berlawanan berupa peningkatan depresi pada saat awal terapi pada gangguan panik (kurangi dosis).

Dosis: 

Penyakit depresi, 20 mg satu kali sehari pada pagi hari atau malam, ditingkatkan jika perlu hingga maksimal 60 mg sehari (LANSIA, maksimal 40 mg per hari); ANAK dan REMAJA di bawah 18 tahun, tidak direkomendasikan. Gangguan panik, dosis awal 10 mg sehari ditingkatkan hingga 20 mg setelah 7 hari, dosis lazim 20-30 mg sehari; maksimal 60 mg sehari (LANSIA, maksimal 40 mg per hari); ANAK dan REMAJA di bawah 18 tahun, tidak direkomendasikan.