Antipsikotik Atipikal

Antipsikotik atipikal seperti amisulprid, aripiprazol, klozapin, olanzapin, kuetiapin, risperidon dan zotepin dapat ditoleransi lebih baik dan frekuensi gejala ekstrapiramidal lebih sedikit dibandingkan antipsikotik generasi sebelumnya.

Aripiprazol, klozapin, kuetiapin, dan sertindol tidak menyebabkan peningkatan kadar prolaktin atau hanya sedikit; jika menggantikan antipsikotik lain, pengurangan kadar prolaktin dapat meningkatkan fertilitas. Klozapin digunakan untuk pengobatan skizofrenia hanya pada pasien yang tidak memberi respon, atau intoleransi pada obat antipsikotik konvensional. Obat ini dapat menyebabkan agranulositosis sehingga penggunaannya terbatas hanya pada pasien yang dipantau khusus (lihat keterangan pada sediaan klozapin).

Sertindol digunakan kembali setelah terkait kejadian aritmia; obat ini digunakan terbatas pada pasien dalam studi klinik dan pasien yang intoleransi minimal pada satu macam antipsikotik lain.

Rekomendasi untuk antipsikotik atipikal pada pasien skizofrenia:

  • Penggunaan antipsikotik atipikal (amisulprid, olanzapin, kuetiapin, risperidon, dan zotepin) dapat dipertimbangkan sebagai obat lini pertama untuk pasien yang baru didiagnosa skizofrenia.
  • Antipsikotik atipikal dipertimbangkan sebagai terapi pilihan untuk mana- ngani episoda skizofrenia akut bila pasien tidak memungkinkan untuk diajak berdiskusi.
  • Antipsikotik atipikal dapat dipertimbangkan untuk pasien yang tidak tahan pada efek samping antipsikotik konvensional.
  • Antipsikotik atipikal dapat dipertimbangkan untuk pasien kambuhan di mana gejala-gejala sebelumnya tidak cukup terkontrol.
  • Penggunaan antipsikotik atipikal tidak diperlukan jika antipsikotik konvensional dapat mengontrol gejala dan pasien dapat mentoleransi efek samping yang tidak diinginkan.
  • Klozapin dapat diberikan jika skizofrenia tidak cukup terkontrol. Walau sudah digunakan dua atau lebih antipsikotik secara berselang (dimana salah satunya adalah antipsikotik atipik) masing-masing digunakan paling tidak selama 6-8 minggu.

Peringatan dan Kontraindikasi.
Bila antipsikotik atipikal secara umum tidak menyebabkan pada perpanjangan interval QT, obat ini tetap sebaiknya digunakan secara hati-hati bila diresepkan bersama obat lain yang dapat meningkatkan interval QT. Antipsikotik atipikal sebaiknya digunakan secara hati-hati pada pasien penyakit kardiovaskular atau pasien dengan riwayat epilepsi, serta pada pasien lansia; interaksi Lampiran 1 (antipsikotik).

Antipsikotik atipikal dan stroke
Olanzapin dan risperidon dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke pada pasien lansia yang menderita demensia. Disarankan:

  • Risperidon dan olanzapin tidak boleh digunakan untuk mengatasi gangguan tingkah laku pada demensia;
  • Digunakan pada pasien lansia yang menderita demensia dengan kondisi psikotik akut; risperidon hanya diberikan untuk penggunaan jangka pendek dan di bawah pengawasan dokter spesialis; olanzapin tidak digunakan pada psikosis akut;
  • Sebelum memberikan pengobatan pada pasien dengan riwayat stroke atau transient ischaemic attack sebaiknya dipertimbangkan dengan hati-hati kemungkinan mengalami serangan serebrovaskular;sebaiknya dipertimbangkan juga faktor risiko penyakit serebrovaskular (misal hipertensi, diabetes melitus, merokok dan atrial fibrillation)

Mengemudi
Antipsikotik atipikal dapat mempengaruhi kemampuan melakukan tugas yang membutuhkan keahlian dan konsentrasi (misal mengemudi); alkohol dapat meningkatkan pengaruh antipsikotik atipikal.

Penghentian obat
Penghentian penggunaan obat antipsikotik setelah pengobatan jangka panjang sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan pemantauan yang ketat untuk mencegah risiko sindrom putus obat akut atau gejala kambuh yang terjadi secara cepat.

Efek samping
Efek samping antipsikotik atipikal adalah bertambahnya berat badan, pusing, hipotensi postural (terutama selama titrasi dosis awal) yang dapat menyebabkan syncope atau refleks takikardi pada beberapa pasien, gejala ekstrapiramidal (biasanya ringan, dan dapat diatasi dengan pengurangan dosis atau obat antimuskarinik), dan kadang-kadang tardive dyskinesia pada pemberian jangka panjang (hentikan pemakaian obat bila terlihat gejala awal). Dapat terjadi hiperglikemia dan kadang-kadang diabetes melitus, terutama pada penggunaan klozapin dan olanzapin; pemantauan berat badan dan kadar glukosa dalam plasma dapat mengidentifikasi perkembangan hiperglikemia. Kadang- kadang dilaporkan terjadi sindrom keganasan neuroleptik.

 

 

Monografi: 

AMISULPRID

Indikasi: 

skizofrenia akut dan kronis (dengan gejala positif dan/atau negatif).

Peringatan: 

penyesuaian dosis pada insufisiensi ginjal, riwayat kejang, lansia; pada pasien penyakit parkinson, hanya diberikan jika sangat diperlukan.

Interaksi: 

tidak boleh dikombinasi dengan obat agonis dopaminergik (amantadin, apomorfin, bromokriptin, kabergolin, entakapon, lisurid, pergolid, priribedil, pramipeksol, kuinagolid, ropinirol) kecuali pada pasien penyakit Parkinson. Pada kondisi harus mengatasi gejala ekstrapiramidal akibat neuroleptik, jangan diatasi dengan agonis dopaminergik tapi gunakan antikolinergik. Kombinasi dengan sultoprid, meningkatkan risiko aritmia ventrikel, terutama torsades de pointes.

Kontraindikasi: 

hipersensitif pada amilsuprid atau komponen obat, feokromositoma yang sedang menggunakan obat antidopaminergik; kehamilan, menyusui; anak usia di bawah 15 tahun.

Efek Samping: 

peningkatan kadar prolaktin serum sehingga menyebabkan galaktorea, amenorea, ginekomastia, payudara membengkak, impotensi, frigiditas; berat badan meningkat, gejala ekstrapiramidal (tremor, hipertonia, hipersalivasi, akatisia, hipokinesia); mengantuk, gangguan saluran cerna seperti konstipasi, mual, muntah, mulut kering.

Dosis: 

Oral, 50-300 mg/hari, Dosis disesuaikan dengan kebutuhan individual, dosis optimum 100 mg/hari. Untuk gejala campuran (gejala positif dan negatif), awal terapi 400-800 mg/hari. Dosis maksimal 1200 mg. Jika dosis harian kurang dari 400 mg, diberikan sebagai dosis tunggal. Dan dosis dua kali sehari jika lebih dari 400 mg.

ARIPIPRAZOL

Indikasi: 

skizofrenia, gangguan bipolar (terapi tunggal atau terapi tambahan terhadap litium atau valproat untuk episode mania akut akibat gangguan bipolar), terapi tambahan pada gangguan depresi mayor, iritabilitas akibat gangguan autisme, agitasi akibat skizofrenia atau gangguan bipolar.

Peringatan: 

lihat catatan di atas, riwayat kejang, geriatri (kurangi dosis awal), gangguan fungsi hati, kehamilan.

Interaksi: 

Hati-hati jika diberikan dalam kombinasi dengan obat yang bekerja sentral dan alkohol. Dapat meningkatkan efek antihipertensi tertentu karena sifatnya sebagai antagonis reseptor adrenergik alfa 1.

Kontraindikasi: 

lihat catatan di atas, menyusui.

Efek Samping: 

umum pada pasien dewasa: mual, muntah, konstipasi, sakit kepala, pusing, akatisia, ansietas, insomnia, gelisah, penglihatan kabur, dispepsia, mulut kering, sakit gigi, rasa tidak nyampan pada perut, letih, nyeri, kekakuan pada muskuloskeletal, nyeri ekstremitas, mialgia, spasme otot, sedasi, gangguan ekstrapiramidal, tremor, somnolens, agitasi, insomnia, ansietas, gelisah, nyeri faringolaringeal, batuk; umum pada anak dan remaja: somnolen, sakit kepala, muntah, gangguan ekstrapiramidal, letih, peningkatan nafsu makan, insomnia, mual, nasofaringitis dan peningkatan berat badan; jarang: takikardia, kejang; sangat jarang: salivasi meningkat, pankreatitis, nyeri dada, agitasi, gangguan bicara, kekakuan, rhabdomiolisis.

Dosis: 

skizofrenia: dewasa, oral 10 atau 15 mg/hari, peningkatan dosis tidak boleh dilakukan sebelum 2 minggu, dosis lebih tinggi tidak lebih efektif, remaja: 10 mg/hari, gangguan bipolar: dewasa 30 mg/hari, anak dan remaja 10 mg/hari, gangguan depresi mayor: dewasa 2-15 mg/hari, pada anak dan remaja belum ada data, agitasi terkait skizofrenia atau mania bipolar: injeksi intramuskular 9,75 mg.

KLOZAPIN

Indikasi: 

skizofrenia (termasuk psikosis pada penyakit Parkinson) pada pasien yang tidak respon atau intoleran dengan obat antipsikotik konvensional.

Peringatan: 

lihat catatan di atas; monitor jumlah leukosit dan hitung jenis (lihat agranulositosis, di bawah); hentikan bertahap neuroleptik konvensional sebelum memulai terapi; kelainan hati; kelainan ginjal; hipertrofi prostat, glaukoma sudut tertutup.
PENGHENTIAN. Penghentian yang direncanakan kurangi dosis dalam 1-2 minggu untuk menghindari risiko psikosis rebound. Jika penghentian tiba-tiba dibutuhkan, observasi pasien dengan seksama.
AGRANULOSITOSIS. Dilaporkan neutropenia dan agranulositosis berpotensi fatal. Jumlah leukosit dan hitung jenis harus normal sebelum memulai terapi, monitor leukosit dan hitung jenis selama 18 minggu setelah itu minimal tiap 2 minggu, dan jika klozapin tetap diberikan dan hasil hitung darah stabil selama 1 tahun maka pemeriksaan minimal tiap 4 minggu (dan 4 minggu setelah dihentikan); jika jumlah leukosit <3000/mm3 atau jika hitung neutrofil absolute <1500/ mm3 hentikan sementara dan rujuk ke hematolog. Hindari pemberian obat-obatan yang menekan leukopoesis; pasien harus segera melaporkan gejala infeksi, terutama penyakit mirip influenza.
MIOKARDITIS DAN KARDIOMIOPATI
Dilaporkan miokarditis fatal (sering pada 2 bulan pertama) dan kardiomiopati. Disarankan:

  • Pemeriksaan fisik dan riwayat medis sebelum mulai menggunakan klozapin.
  • Jika dari pemeriksaan oleh spesialis ditemukan adanya abnormalitas jantung atau riwayat penyakit jantung-pemberian klozapin hanya bila tidak ada penyakit jantung berat dan bila manfaat yang diperoleh lebih besar daripada risikonya.
  • Takikardi menetap terutama 2 bulan pertama membutuhkan observasi seksama untuk miokarditis atau kardiomiopati lainnya.
  • Jika dicurigai ada miokarditis atau kardiomiopati, pemberian klozapin harus dihentikan dan pasien segera dievaluasi oleh dokter ahli jantung.
  • Penghentian menetap bila terjadi miokarditis atau kardiomiopati yang diinduksi oleh pemberian klozapin.

OBSTRUKSI GASTROINTESTINAL. Dilaporkan reaksi yang menggambarkan obstruksi gastrointestinal. Hati-hati bila memberikan klozapin bersamaan dengan obat-obatan yang menyebabkan konstipasi (contoh: obat antimuskarinik) atau riwayat penyakit kolon atau operasi usus besar. Monitor untuk konstipasi dan berikan laksan bila perlu.

Kontraindikasi: 

kelainan jantung berat (contoh: miokarditis; lihat Miokarditis dan Kardiomiopati, di atas); penyakit hati aktif, kerusakan ginjal berat,; riwayat neutropenia atau agranulositosis; kelainan sumsum tulang; ileus paralitik (lihat obstruksi gastrointestinal, di atas); psikosis alkoholik dan psikosis toksik; riwayat kolaps sirkulasi; keracunan obat; koma atau depresi SSP berat; epilepsi tidak terkontrol; kehamilan dan menyusui.

Efek Samping: 

lihat catatan di atas; konstipasi (lihat obstruksi gastrointestinal, di atas), hipersalivasi, mual, muntah; takikardia, perubahan pada EKG, hipertensi; mengantuk, pandangan kabur, sakit kepala, tremor, rigiditas, gejala ekstrapiramidal, kejang, fatigue, gangguan pengaturan suhu, demam; hepatitis, jaundice kolestatik, pankreatitis; inkontinensia urin dan retensi urin; agranulositosis (penting: lihat Agranulositosis, di atas), leukopenia, eosinofilia, leukositosis; jarang: disfagia, kopars sirkulasi, aritmia, miokarditis (penting: lihat Miokarditis dan Kardiomiopati, di atas), perikarditis, tromboemboli, bingung, delirium, gelisah, agitasi, diabetes melitus; juga dilaporkan, obstruksi usus halus, ileus paralitik (lihat obstruksi gastrointestinal, di atas), pembesaran kelenjar parotis, nekrosis heptatis fulminan, trombositopenia, trombositemia hipertrigliseridemia, hiperkolesterolemia, kardiomiopati, henti jantung, henti nafas, nefritis interstisial, priapismus, reaksi kulit.

Dosis: 

skizofrenia, DEWASA > 16 tahun (pengawasan medis ketat saat inisiasi/awal-risiko kolaps sehubungan dengan hipotensi) 12,5 mg 1 atau 2 kali pada hari pertama lalu 25-50 mg pada hari ke 2 dan dinaikkan bertahap (jika ditoleransi dengan baik) pada 25-50 mg sehari selama 14-21 hari hingga 300 mg sehari dengan dosis terbagi (dosis malam lebih besar, hingga 200 mg sehari dapat dikonsumsi sebagai dosis tunggal menjelang tidur); jika perlu dapat ditingkatkan hingga 50-100 mg sekali (dianjurkan)-dua kali seminggu; dosis lazim 200-450 mg sehari (maksimal 900 mg sehari). CATATAN: memulai setelah interval lebih dari 2 hari, 12,5 mg 1-2 kali sehari pada hari pertama (namun dosis dapat ditingkatkan lebih cepat daripada saat inisasi)- perhatian ekstrim jika sebelumnya terjadi henti nafas atau henti jantung dengan pemberian dosis awal. GERIATRI DAN KELOMPOK RISIKO KHUSUS. Pada geriatri, 12,5 mg sekali pada hari pertama- penyesuaian berikutnya terbatas hingga 25 mg sehari.Psikosis pada penyakit Parkinson, dewasa >16 tahun, 12,5 mg sebelum tidur malam ditingkatkan menjadi 12,5 mg hingga 2 kali seminggu hingga 50 mg sebelum tidur malam; rentang dosis lazim 25-37,5 mg sebelum tidur malam; pengecualian, dosis mungkin ditingkatkan hingga 12,5 mg tiap minggu sampai maksimal 100 mg sehari dalam 1-2 dosis terbagi.

OLANZAPIN

Indikasi: 

lihat pada Dosis.

Peringatan: 

Lihat keterangan di atas (termasuk anjuran pada antipsikotik atipik dan stroke); hipertrofi prostat, ileus paralitik, diabetes melitus (risiko eksaserbasi atau ketoasidosis), angka leukosit dan neutrofil rendah, depresi sumsum tulang, kelainan hipereosinofil, myeloproliferatif, penyakit parkinson, gangguan fungsi hati; gangguan fungsi ginjal (Lampiran 3); kehamilan (Lampiran 4).

Interaksi: 

Lampiran 1 ( Antipsikotik). Depresi pernapasan dan sistem saraf pusat. Tekanan darah, kecepatan pernapasan dan denyut nadi harus dimonitor selama paling tidak 4 jam setelah injeksi intramuskular, terutama yang juga mendapat antipsikotik lain atau benzodiazepin.

Kontraindikasi: 

glaukoma sudut sempit; wanita menyusui (Lampiran 5); untuk infeksi, infark miokardiak akut, angina tak stabil; hipotensi atau bradikardi berat; sick sinus syndrome; pasca bedah jantung.

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; efek antimuskarinik ringan dan sementara; mengantuk, kesulitan bicara; memburuknya penyakit parkinson; gaya berjalan abnormal, halusinasi, akathisia, asthenia, nafsu makan meningkat, sutu tubuh meningkat, konsentrasi trigleserida meningkat, udem, hiperprolaktin (tetapi manifestasi klinik jarang); inkontinensia urin; eosinofilia; hipotensi, bradikardi, fotosensitif; kadang tromboembolisme, kejang, retensi urin, priapismus, leukopenia, neutropenia, trombositoenia, rhabdomiolisis, ruam kulit, hepatitis, pankreatitis; dengan injeksi, reaksi lokasi injeksi: sinus pause, hipoventilasi.

Dosis: 

skizofrenia, kombinasi terapi mania, mencegah kambuhnya kelainan bipolar, oral, DEWASA : lebih dari 18 tahun, 10 mg sehari disesuaikan dengan dosis umumnya 5-20 mg per hari; dosis lebih dari 10 mg sehari hanya setelah penilaian kembali; maksimal 20 mg sehari.Monoterapi untuk mania, oral, DEWASA: lebih dari 18 tahun, 15 mg sehari disesuaikan dengan dosis umumnya 5-20 mg sehari; dosis lebih besar dari 15 mg hanya setelah penilaian kembali; maksimal 20 mg sehari. Kontrol agitasi dan gangguan perilaku pada skizofrenia atau mania, dengan injeksi intramuskular, DEWASA : lebih dari 18 tahun, dosis awal 5-10 mg (dosis biasa 10 mg) sebagai dosis tunggal diikuti 5-10 mg setelah 2 jam apabila diperlukan; LANSIA: dosis awal 2,5 -5 mg sebagai dosis tunggal diikuti 2,5-5 mg setelah 2 jam apabila diperlukan; maksimal 3 kali pemberian injeksi setiap hari untuk 3 hari; dosis maksimal kombinasi sediaan oral dan parenteral 20 mg Catatan: Jika ada satu atau lebih faktor yang dapat memperlambat metabolisme (seperti jenis kelamin wanita, lansia dan bukan perokok) pertimbangkan dosis awal yang lebih rendah dan peningkatan dosis sedikit demi sedikit.

QUETIAPIN

Indikasi: 

skizofrenia; pengobatan episode mania yang disertai gangguan bipolar.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas; kehamilan (lihat Lampiran 4), gangguan hati, gangguan ginjal (lihat Lampiran 3), penyakit serebrovaskuler, kardiovaskuler dan yang mengarah pada hipotensi, obat-obatan yang diketahui dapat memperpanjang interval QT, terutama pada lansia.

Interaksi: 

penggunaan quetiapin dengan kombinasi obat yang mempengaruhi sistem saraf pusat dan alkohol harus hati-hati.; farmakokinetik litium tidak berubah apabila digunakan bersama quetiapin; farmakokinetik quetiapin tidak diubah secara signifikan jika diberikan bersama anti depresan impiramin (inhibitor CYP2D6) atau fluoksetin (inhibitor CYP3A4 dan CYP2D6); Penggunaan bersama dengan inhibitor CYP3A4 seperti antijamur azol dan antibiotik golongan makrolid harus hati-hati.

Kontraindikasi: 

menyusui (lihat Lampiran 5).

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; mengantuk, dispepsia, konstipasi, mulut kering, asthenia ringan, rhinitis, takikardi; leukopenia, neutropenia dan kadang-kadang dilaporkan eosinofilia; peningkatan plasma trigliserida; dan kadar kolesterol, penurunan kadar plasma hormon tiroid; kemungkinan perpanjangan interval QT; udem (jarang); priapismus (sangat jarang).

Dosis: 

skizoprenia 25 mg 2 kali sehari pada hari ke-1, 50 mg 2 kali sehari pada hari ke-2, 100 mg 2 kali sehari pada hari ke-3, 150 mg 2 kali sehari pada hari ke-4, kemudian disesuaikan dengan respon, dosis lazim 300-450 mg per hari dalam dosis terbagi 2; maksimal 750 mg sehari; LANSIA: dosis awal 25 mg per hari sebagai dosis tunggal, dinaikkan 25-50 mg per hari dalam dosis terbagi 2; ANAK dan REMAJA : tidak dianjurkanMania, 50 mg 2 kali sehari pada hari ke-1, 100 mg 2 kali sehari pada hari ke-2, 150 mg 2 kali sehari pada hari ke-3, 200 mg 2 kali sehari pada hari ke-4, kemudian disesuaikan dengan respons, secara bertahap hingga 200 mg per hari sampai maksimal 800 mg per hari; dosis lazim 400-800 mg per hari dalam dosis terbagi 2; LANSIA: dosis awal 25 mg per hari sebagai dosis tunggal, dinaikkan bertahap 25-50 mg per hari dalam dosis terbagi 2; ANAK dan REMAJA tidak dianjurkanUntuk pasien yang menderita gangguan hati dan ginjal, dosis awal 25 mg sehari. Dosis dapat ditingkatkan perhari dengan kenaikan 25-50 mg sampai dosis efektif.

RISPERIDON

Indikasi: 

psikosis akut dan kronik, mania.

Peringatan: 

Lihat keterangan di atas (termasuk saran pada antipsikotik atipikal, dan stroke); penyakit parkinson, kehamilan (lampiran 4), gangguan fungsi hati, gangguan fungsi ginjal (lampiran 3).

Interaksi: 

lihat lampiran 1.

Kontraindikasi: 

Menyusui (Lampiran 5).

Efek Samping: 

Lihat keterangan di atas; insomnia, agitasi, ansietas, sakit kepala. Kurang umum terjadi: Mengantuk, gangguan konsentrasi, lelah, pandangan kabur, konstipasi, mual dan muntah, dispepsia, nyeri abdominal, hiperprolaktinemia (dengan galaktorea, gangguan menstruasi, ginekomastia), disfungsi seksual, priapisme, inkontinensia urin, takikardi, hipertensi, udem, ruam kulit, rhinitis, trauma serebrovaskular, dilaporkan juga terjadinya neutropenia dan trombositopenia. Jarang terjadi: kejang, hiponatremia, pengaturan temperatur yang abnormal, serta epitaksis.

Dosis: 

Psikosis, 2 mg dalam 1-2 dosis terbagi pada hari pertama, kemudian 4 mg dalam 1-2 dosis terbagi pada hari kedua (titrasi dosis yang lebih lambat dibutuhkan dibutuhkan pada beberapa pasien). Dosis lazim 4-6 mg per hari. Dosis di atas 10 mg per hari hanya jika manfaatnya lebih besar daripada risikonya (maksimum 16 mg per hari). Lansia (atau pada gangguan fungsi hati atau ginjal) dosis awal 500 mcg dua kali sehari dan naikkan bertahap sebesar 500 mcg hingga mencapai 1-2 mg, dua kali sehari. Anak-anak di bawah 15 tahun tidak direkomendasikan. Mania, Dosis awal 2 mg, satu kali sehari, naikkan dosis jika perlu secara bertahap sebanyak 1 mg per hari. Dosis lazim 1-6 mg per hari; lansia (atau pada gangguan fungsi hati atau ginjal) dosis awal 50 mcg dua kali sehari, naikkan dosis bertahap sebesar 500 mcg dua kali sehari hingga mencapai 1-2 mg dua kali sehari.

ZOTEPIN

Indikasi: 

Skizofrenia.

Peringatan: 

Lihat keterangan di atas; riwayat epilepsi pada pasien atau keluarganya; penghentian obat depresan SSP yang diberikan secara bersamaan, QT interval prolongation- diperlukan pemeriksaan EKG (pada awal terapi dan setiap peningkatan dosis) pada pasien memiliki risiko aritmia; monitor kadar elektrolit, terutama pada awal terapi dan setiap peningkatan dosis; gangguan fungsi hati (lampiran 2); gangguan fungsi ginjal (lampiran 3); hipertrofi prostat, retensi urin, cenderung untuk mengalami glaukoma sudut sempit, ileus paralisis, kehamilan (lampiran 4).

Kontraindikasi: 

Intoksikasi akut dengan depresan SSP, penggunaan bersamaan antipsikosis dosis tinggi; gout akut (hindari selama 3 minggu setelah serangan membaik); riwayat nefrolitiasis; menyusui (lampiran 5).

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas, konstipasi, dispepsia, mulut kering, takikardia, QT interval prolongation, rinitis, agitasi, ansietas, depresi, astenia, sakit kepala, abnormalitas EEG, insomnia, mengantuk, hipertermia atau hipotermia, salivasi meningkat, diskrasia darah (termasuk leukositosis, leukopenia), peningkatan laju endap darah, penglihatan kabur, berkeringat; kurang sering, anoreksia, diare, mual dan muntah, nyeri abdomen, hipertensi, sindrom mirip influenza, batuk, dispnea, rasa bingung, kejang, penurunan libido, gangguan berbicara, vertigo, hiperprolaktinemia, anemia, trombositemia, edema, rasa haus, impotensi, inkontinensia urin, artralgia, mialgia, konjungtivitis, akne, kulit kering, ruam kulit; jarang, bradikardi, epistaksis, pembesaran abdomen, amnesia, ataksia, koma, delirium, hipaestesia, mioklonik, trombositopenia, ejakulasi abnormal, retensi urin, menstruasi yang tidak teratur, miastenia, alopesia, fotosensitivitas; sangat jarang, glaukoma sudut sempit.

Dosis: 

Awal, 25 mg, tiga kali sehari, dapat ditingkatkan berdasarkan respons, dengan interval waktu 4 hari hingga maksimal 100 mg tiga kali sehari; LANSIA, dosis awal 25 mg dua kali sehari ditingkatkan berdasarkan respons, hingga maksimal 75 mg dua kali sehari; ANAK dan REMAJA di bawah 18 tahun, tidak direkomendasikan.