4.11. Demensia

Obat penghambat asetilkolinesterase digunakan pada terapi penyakit Alzheimer, khususnya untuk tingkat ringan hingga sedang. Rivastigmin digunakan untuk terapi demensia yang terkait dengan penyakit Parkinson ringan hingga menengah. Bukti yang mendukung penggunaan obat terkait dengan kemampuan obat dalam meningkatkan fungsi kognitif.

Pemberian obat sebagai terapi demensia sebaiknya dilakukan oleh seorang dokter spesialis dalam penanganan demensia. Kemajuan dapat dinilai dengan melakukan penilaian berulang kemampuan kognitif sekitar selama 3 bulan. Penilaian ini tidak dapat menggambarkan bagaimana perkembangan penyakit tanpa terapi, namun dapat memberikan panduan yang baik terhadap respon.

Lebih dari setengah pasien yang mendapatkan terapi akan menunjukkan penurunan kognitif yang lebih lambat. Terapi sebaiknya segera dihentikan bila diperkirakan pasien tidak memberikan respon terhadap terapi. Banyak dokter spesialis melanjutkan penilaian kognitif hingga 4-6 bulan pasca penghentian terapi untuk menilai perburukan/kemunduran; bila pada periode ini ditemukan adanya kemunduran yang bermakna, maka perlu dipertimbangkan untuk memulai kembali terapi.

Donepezil merupakan penghambat asetilkolinesterase yang bersifat sementara (reversibel). Galantamin adalah penghambat asetilkolinesterase yang bersifat sementara (reversibel) dan memiliki aktivitas agonis reseptor nikotinik. Rivastigmin merupakan penghambat asetilkolinesterase non kompetitif yang bersifat sementara (reversibel).

Penghambat asetil kolinesterase dapat menyebabkan efek kolinergik yang tidak diinginkan, yang berhubungan dengan dosis. Oleh karena itu, obat sebaiknya dimulai pada dosis rendah dan ditingkatkan sesuai dengan respons dan toleransi pasien.

Memantin merupakan antagonis reseptor NMDA yang dapat mempengaruhi transmisi glutamat, digunakan untuk terapi penyakit Alzheimer tingkat sedang hingga berat.

Panduan untuk Penyakit Alzheimer
Direkomendasikan penggunaan donepezil, galantamin, dan rivastigmin sebagai terapi tambahan untuk Penyakit Alzheimer tingkat ringan hingga menengah bagi pasien dengan angka mini mental-state examination (MMSE) di atas 12, yang memenuhi kondisi-kondisi berikut ini:

  • Penetapan diagnosa penyakit Alzheimer harus dilakukan klinik spesialis, dan klinik dimaksud sebaiknya melakukan penilaian fungsi kognitif, fungsi global dan fungsi perilaku, aktivitas harian dan kecenderungan terhadap kepatuhan minum obat.
  • Terapi sebaiknya dimulai oleh dokter spesialis namun dapat diteruskan oleh seorang dokter umum dengan menggunakan protokol pengobatan yang sama.
  • Pemahaman orang yang merawat pasien tentang kondisi pasien sebaiknya dinilai sebelum dan selama terapi.
  • Pasien sebaiknya dinilai selama 2-4 bulan pasca dosis pemeliharaan ditetapkan; terapi hanya diteruskan bila nilai/skor MMSE meningkat atau tidak mengalami perburukan dan bila penilaian perilaku dan fungsi menunjukkan perbaikan.
  • Pasien sebaiknya dievaluasi tiap 6 bulan dan terapi dapat dilanjutkan jika skor/ nilai MMSE tetap di atas 12 dan jika terapi dinilai memberi dampak besar terhadap fungsi global, dan kondisi perilaku.
Monografi: 

DONEZEPIL HIDROKLORIDA

Indikasi: 

demensia ringan hingga sedang pada penyakit Alzheimer.

Peringatan: 

sick sinus syndrome atau abnormalitas konduksi supraventrikular lainnya, sensitif untuk mengalami tukak peptik, asma, penyakit paru obstruksi kronik, eksaserbasi gejala ekstrapiramidal, gangguan fungsi hati.

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (parasimpatomimetik).

Kontraindikasi: 

kehamilan dan menyusui.

Efek Samping: 

mual, muntah, anoreksi, diare; fatigue, insomnia, sakit kepala, pusing, pingsan, gangguan kejiwaan, kram otot, inkotinensia urin, ruam kulit, pruritus; kurang sering terjadi, bradikardi, kejang dan tukak gastrik dan duodenum, perdarahan gastrointestinal; jarang, sinoatrial block, AV block, hepatitis, potensi mengalami obstruksi aliran keluar dari kandung kemih.

Dosis: 

Awal 5 mg satu kali sehari menjelang tidur malam hari, ditingkatkan jika diperlukan setelah satu bulan menjadi 10 mg sehari; Maksimal 10 mg sehari.

GALANTAMIN

Indikasi: 

demensia ringan hingga sedang pada Penyakit Alzheimer.

Peringatan: 

sick sinus syndrome atau abnormalitas konduksi supraventrikular lainnya, mudah terkena ulkus/tukak peptik, asma, penyakit paru-paru obstruktif kronik, hindari pada retensi urin dan obstruksi gatrointestinal, kerusakan hati (hindari jika berat), kehamilan.

Interaksi: 

lihat lampiran 1.

Kontraindikasi: 

gangguan fungsi ginjal berat, menyusui.

Efek Samping: 

mual, muntah, diare, nyeri abdomen, dispepsia, rinitis; mengantuk, pusing, insomnia, bingung, depresi, sakit kepala, fatigue, anoreksia; berat badan turun, jarang bradikardia, sinkop, kejang, halusinasi, agitasi, agresif, eksaserbasi penyakit Parkinson, hipokalemia, ruam; sangat jarang: perdarahan gastrointestinal, disfagia, dehidrasi, hipotensi, AV block, tremor, dan berkeringat.

Dosis: 

awal 4 mg dua kali sehari selama 4 minggu ditingkatkan menjadi 8 mg dua kali sehari selama 4 minggu, dosis rumatan 8-12 mg.

MEMANTIN HIDROKLORIDA

Indikasi: 

demensia sedang hingga berat pada penyakit Alzheimer.

Peringatan: 

riwayat kejang, gangguan fungsi ginjal (hindari jika berat, lampiran 3); kehamilan (lampiran 4).

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (memantin).

Kontraindikasi: 

menyusui.

Efek Samping: 

konstipasi, sakit kepala, pusing, mengantuk; jarang, muntah, rasa bingung, fatigue, halusinasi dan cara berjalan yang abnormal; sangat jarang, seizure, pankreatitis, psikosis, depresi dan dilaporkan adanya keinginan untuk bunuh diri.

Dosis: 

Awal 5 mg pada pagi hari, ditingkatkan sebesar 5 mg setiap minggu, hingga maksimal 10 mg dua kali sehari; dosis yang melebihi 5 mg diberikan dalam dua dosis terbagi.

RIVASTIGMIN

Indikasi: 

demensia ringan hingga sedang pada penyakit Alzheimer atau parkinson.

Peringatan: 

tukak duodenum atau gastrik (sensitif mengalami tukak); monitor berat badan; sindrom sinus; abnormalitas konduksi jantung; riwayat asma atau penyakit paru obstruksi kronis; riwayat seizure; obstruksi aliran keluar dari kandung kemih; gangguan fungsi hati (hindari jika berat-lampiran 2); gangguan fungsi ginjal; kehamilan (lampiran 4).

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (parasimpatomimetik).

Kontraindikasi: 

menyusui (lampiran 5).

Efek Samping: 

mual, muntah, diare, dispepsia, anoreksia, nyeri abdomen, pusing, sakit kepala, mengantuk, tremor, astenia, malasia, agitasi, rasa bingung; berkeringat, berat badan berkurang; kurang sering terjadi, pingsan, depresi, insomnia; jarang, tukak duodenum atau gastrik, angina pektoris, seizure; sangat jarang, perdarahan saluran cerna, pankreatitis, aritmia jantung, bradikardi, hipertensi, halusinasi, gejala ekstrapiramidal (termasuk memperburuk penyakit parkinson) dan ruam kulit.

Dosis: 

Awal, 1,5 mg dua kali sehari, ditingkatkan sebesar 1,5 mg dua kali sehari dalam waktu sekurang-kurangnya 2 minggu menurut respon dan toleransi; rentang dosis lazim 3-6 mg dua kali sehari; maksimal 6 mg dua kali sehari.