Ketergantungan Alkohol

Disulfiram digunakan sebagai terapi tambahan ketergantungan alkohol. Mengkonsumsi alkohol walaupun dalam jumlah sedikit menimbulkan reaksi sistemik yang tidak nyaman karena akumulasi asetaldehid dalam tubuh. Reaksi tersebut meliputi kemerahan pada wajah (flushing), nyeri kepala, palpitasi, takikardi, mual, muntah serta pada dosis alkohol tinggi terjadi aritmia, hipotensi dan kolaps.

Alkohol dalam jumlah kecil yang terkandung dalam obat (bentuk cairan), sudah cukup dapat memperburuk reaksi (oleh karena itu obat kumur yang mengandung alkohol sebaiknya dihindari).

Benzodiazepin kerja panjang (bagian 4.1.1) juga digunakan untuk mengurangi gejala putus alkohol, namun obat ini sendiri memiliki potensi ketergantungan. Untuk mengurangi ketergantungan, pemberiannya sebaiknya dibatasi selama periode tertentu (contoh: klordiaksepoksid 10-50 mg 4 kali sehari, dihentikan bertahap selama 7-14 hari). Benzodiazepin tidak boleh diresepkan bila pasien cenderung untuk terus mengkonsumsi alkohol.

Klometiazol (klormetiazol) (bagian 4.1.1) hanya digunakan untuk program penanganan putus alkohol pasien yang dirawat. Hal ini karena obat ini dapat menyebabkan risiko ketergantungan dan tidak boleh diresepkan bila pasien cenderung untuk terus mengkonsumsi alkohol.

Akamprosat, dikombinasikan dengan program konseling, mungkin dapat membantu dalam mempertahankan keadaan tanpa alkohol pada pasien dengan ketergantungan alkohol. Obat ini sebaiknya diberikan segera setelah dicapai keadaan tanpa alkohol dan obat sebaiknya tetap diberikan bila terjadi kekambuhan. Penyalahgunaan yang terus berlangsung dapat menurunkan manfaat terapetik akamprosat.

Monografi: 

DISULFIRAM

Indikasi: 

tambahan pada pengobatan alkoholisme kronik (di bawah supervisi spesialis).

Peringatan: 

Dipastikan bahwa alkohol tidak diminum sekurang-kurangnya 24 jam sebelum pengobatan dimulai; gangguan hati dan ginjal, penyakit pernapasan, diabetes mellitus, epilepsi

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (disulfiram).

Kontraindikasi: 

gagal jantung, penyakit jantung koroner, riwayat stroke, hipertensi, psikosis, kelainan kepribadian berat, risiko bunuh diri, hamil dan menyusui.

Efek Samping: 

awalnya mengantuk dan fatigue; mual, muntah, halitosis, libido menurun; jarang: reaksi psikotik (depresi, paranoia, skizofrenia, mania) dermatitis alergi, neuropati perifer, kerusakan sel hati.

Dosis: 

800 mg sebagai dosis tunggal pada hari pertama, dikurangi selama 5 hari menjadi 100-200 mg/hari. Tidak dapat digunakan lebih dari 6 bulan tanpa evaluasi. ANAK: tidak dianjurkan.