4.1.2 Ansietas

Ansiolitik benzodiazepin efektif dalam meredakan keadaan ansietas. Walaupun obat ini sering diresepkan pada hampir semua orang dengan gejala terkait stres, ketidakbahagiaan (unhappiness), atau penyakit fisik minor (minor physical disease), penggunaannya dalam berbagai kondisi tidak dapat dibenarkan. Pada umumnya, obat ini tidak tepat untuk mengatasi depresi atau psikosis kronik. Penyesuaian psikologis dapat dihambat oleh benzodiazepin. Pada anak, obat ansiolitik hanya digunakan untuk mengatasi ansietas akut (dan insomnia yang terkait) yang disebabkan oleh rasa takut (contoh: sebelum operasi).
Pengobatan ansiolitik sebaiknya dibatasi dengan pemberian dosis terkecil dengan masa pengobatan yang sesingkat mungkin. Ketergantungan pada umumnya terjadi pada pasien dengan riwayat penyalahgunaan alkohol atau penyalahgunaan obat dan pada pasien dengan gangguan kepribadian. Ansiolitik, khususnya benzodiazepin telah dikelompokkan menjadi ‘transquiliser minor’. Istilah ini menyesatkan karena ansiolitik jelas berbeda dengan obat antipsikotik (’transquiliser major’), selain itu manfaatnya juga tidak minor. Antipsikosis, pada dosis rendah, terkadang digunakan pada ansietas berat sebagai pemberi efek sedatifnya tetapi penggunaan jangka panjang sebaiknya dihindari dengan mengingat kemungkinan risiko tardive dyskinesia yang dapat timbul. Beberapa antidepresan (bab 4.3) disetujui untuk digunakan pada ansietas dan kelainan terkait; lihat bab 4.3 untuk penggunaan pada ansietas kronik, gangguan ansietas umum, dan panic disorder. Penggunaan antihistamin (contoh hidroksizin, bab 3.4.1) untuk efek sedatifnya pada ansietas tidak dianjurkan digunakan.