3.9.1 Antitusif

Batuk mungkin merupakan gejala dari suatu penyakit dasar seperti asma atau penyakit refluks gastroesofagus yang harus dipastikan dulu sebelum meresepkan antitusif. Batuk mungkin juga mempunyai komponen kebiasaan yang nyata.

Pada keadaan dimana penyebabnya tidak diketahui, penggunaan antitusif mungkin berguna yaitu untuk batuk yang mengganggu tidur. Antitusif dapat menyebabkan retensi sputum, yang mungkin membahayakan bagi pasien bronkitis kronis dan bronkiektasis. Antitusif opioid seperti kodein, efektif tetapi berefek konstipasi dan dapat menyebabkan ketergantungan

Antihistamin yang menyebabkan kantuk seperti difenhidramin yang sering dicampur dalam berbagai preparat obat batuk tanpa resep, semuanya memberikan efek samping mengantuk.

Anak
Penggunaan antitusif yang mengandung kodein atau analgesik opioid sejenis tidak dianjurkan pada anak dan harus dihindari pada anak usia < 1 tahun.

Terapi Paliatif
Diamorfin dan metadon telah digunakan untuk mengontrol batuk pada pasien dengan kanker paru stadium akhir, meskipun sekarang morfin lebih disukai. Pada keadaan yang lain, obat-obat ini merupakan kontraindikasi karena dapat menginduksi retensi sputum dan gagal nafas, selain menyebabkan ketergantungan opiod.

Monografi: 

DEKSTROMETORFAN

Indikasi: 

batuk kering tidak produktif.

Peringatan: 

kehamilan dan menyusui, data keamanan pada anak kurang lengkap.

Kontraindikasi: 

asma, batuk produktif, gangguan fungsi hati, sensitif terhadap dekstrometorfan.

Efek Samping: 

psikosis (hiperaktif dan halusinasi) pada dosis besar, depresi pernapasan pada dosis besar.

Dosis: 

Dewasa 10-20 mg tiap 4 jam atau 30 mg tiap 6-8 jam maksimal 120 mg/hari Anak 1 mg/kg bb/hari dalam 3-4 dosis terbagi.

KODEIN FOSFAT

Indikasi: 

batuk kering atau batuk dengan nyeri.

Peringatan: 

asma, gangguan fungsi hati dan ginjal, riwayat penyalahgunaan obat.

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (analgesik opioid).

Kontraindikasi: 

batuk berdahak, penyakit hepar, gangguan ventilasi.

Efek Samping: 

konstipasi, depresi pernafasan pada pasien yang sensitif atau pada dosis besar.

Dosis: 

Dewasa: 10-20 mg tiap 4-6 jam maksimal 120 mg/hari; jarang diberikan sebagai obat batuk pada anak-anak. Anak: 6-12 tahun 5-10 mg atau 0,5-1,5 mg/kg bb tiap 4-6 jam maksimal 60 mg/hari; 2-6 tahun 0,5-1 mg/kg bb/hari dalam dosis terbagi tiap 4-6 jam maksimal 30 mg/hari.