3.6 Oksigen

Oksigen harus dianggap sebagai obat. Oksigen diresepkan untuk pasien hipoksemia untuk meningkatkan tekanan oksigen alveolar, dan mengurangi kerja pernapasan. Kadar tergantung pada kondisi yang diterapi, dimana kadar yang tidak sesuai dapat berakibat serius atau bahkan fatal.

Terapi oksigen kadar tinggi, dengan kadar hingga 60%, aman pada kondisi tanpa komplikasi seperti pneumonia, tromboembolisme paru, alveolitis fibrosing. Pada kondisi ini tekanan oksigen arterial (PaO2 ) yang rendah biasanya berkaitan dengan kadar karbondioksida arterial (PaCO2) yang rendah atau normal, sehingga hanya sedikit risiko hipoventilasi dan retensi karbondioksida. 

Pada asma akut berat, PaCO2 sering kali di bawah normal tetapi dengan memburuknya asma, PaCO2 dapat naik dengan cepat (terutama pada anak-anak). Pasien ini sering kali memerlukan oksigen kadar tinggi dan jika PaCO2 tetap tinggi dengan adanya obat lain, diperlukan ventilasi tekanan positif intermiten. Pada saat fasilitas untuk analisis gas darah tidak segera tersedia (misal dalam perjalanan ke rumah sakit), direkomendasikan untuk memberikan 40%-60% oksigen melalui masker aliran tinggi.

Terapi oksigen kadar rendah (terapi oksigen terkontrol), disediakan untuk pasien dengan kegagalan ventilasi karena penyakit paru obstruktif kronis atau sebab yang lain. Kadar O2 tidak boleh melebihi 28%, pada beberapa pasien kadar di atas 24% mungkin sudah berlebihan. Tujuannya untuk memberikan cukup O2 kepada pasien untuk mencapai tekanan O2 arterial yang dapat diterima tanpa memperburuk retensi CO2 dan asidosis pernapasan. Terapi harus dimulai di rumah sakit karena diperlukan analisis gas darah berulang untuk menetapkan kadar yang tepat.

Oksigen hanya diresepkan untuk pasien di rumah setelah evaluasi seksama di rumah sakit oleh spesialis paru, dan tidak boleh diresepkan sebagai plasebo. Pasien harus diingatkan tentang risiko kebakaran ketika menerima terapi oksigen.

Pada pasien dengan hipoksemia arteri diperlukan pemberian oksigen tambahan pada perjalanan dengan pesawat udara dan harus didiskusikan dengan pihak maskapai penerbangan sebelum perjalanan.

Terapi oksigen jangka pendek(short-burst oxygen therapy)
Terkadang oksigen diresepkan untuk penggunaaan intermiten (short-burst) pada episode hipoksemia jangka pendek, misalnya asma.

Sesak napas yang tidak dapat diperbaiki dengan terapi lain pada penyakit paru obstruktif kronis, penyakit paru interstisial, gagal jantung, dan pada pengobatan paliatif. Di sini penting bahwa, pasien tidak bergantung pada oksigen dan tetap harus minta pertolongan medis atau terapi yang lebih spesifik lainnya. Terapi oksigen short-burst dapat digunakan untuk meningkatkan kapasitas latihan dan pemulihan.

Terapi oksigen jangka panjang
Pemberian oksigen jangka panjang (minimal 15 jam/hari), dapat memperpanjang umur pasien dengan penyakit paru obstruktif kronik. Penilaian untuk terapi oksigen jangka panjang dilakukan dengan mengukur tekanan gas darah arteri. Pengukuran harus dilakukan dua kali dengan interval minimal 3 minggu untuk menunjukkan kestabilan klinik dan tidak lebih cepat dari 4 minggu setelah eksaserbasi akut.

Terapi oksigen jangka panjang direkomendasikan untuk pasien dengan:

  • penyakit paru obstruktif kronik dengan PaO2< 7,3 kPa sewaktu menghirup udara selama periode stabil secara klinis;
  • penyakit paru obstruktif kronik dengan PaO2 7,3-8 kPa dengan adanya polisitemia sekunder, hipoksemia nokturnal, udem perifer, atau hipertensi paru;
  • penyakit paru interstitial dengan PaO2 <8 kPa dan pada pasien dengan PaO2 >8 kPa dengan dispnea yang melumpuhkan;
  • fibrosis sistik jika PaO2 <7,3 kPa atau jika PaO2 7,3-8 kPa dengan adanya polisitemia sekunder, hipoksemia nokturnal, hipertensi paru atau udem perifer;
  • hipertensi paru ,tanpa melibatkan parenkim paru jika PaO2 < 8 kPa;
  • gangguan saraf otot atau otot rangka setelah penilaian oleh dokter spesialis;
  • gangguan napas obstruktif sewaktu tidur meskipun sudah diberi terapi tekanan udara positif, setelah penilaian oleh dokter spesialis;
  • keganasan paru atau penyakit terminal lain dengan dispnea yang melumpuhkan;
  • gagal jantung dengan PaO2 siang hari < 7,3 kPa saat menghirup udara atau dengan hipokemia nokturnal;
  • anak-anak dengan penyakit gangguan pernapasan, setelah diperiksa dokter spesialis;

Peningkatan depresi pernapasan jarang menjadi masalah pada pasien dengan gagal napas stabil yang diterapi dengan oksigen kadar rendah, meskipun mungkin terjadi saat eksaserbasi. Pasien dan saudaranya harus diingatkan untuk minta pertolongan medis jika timbul rasa mengantuk atau bingung.

Informasi tentang pemberian terapi oksigen jangka panjang pada pasien dengan hipoksemia dan obstruksi aliran udara, tapi tidak disertai hiperkapnea masih sangat terbatas. Tetapi terapi ini bisa diberikan, hanya saja efek dari pemberian jangka panjang belum diketahui secara pasti.