3.4.3 Kedaruratan Alergi

Adrenalin (epinefrin) dapat mengembalikan kondisi fisiologik dari gejala darurat (seperti udem laring, bronkospasme, dan hipotensi) yang disebabkan reaksi hipersensitif seperti anafilaksis dan angioedema.

Anafilaksis
Syok anafilaktik berupa udem larings, bronkospasme dan hipotensi memerlukan terapi sesegera mungkin. Individu yang atopik mudah terkena syok anafilaksis. Sengatan serangga adalah salah satu risiko (terutama sengatan tawon dan lebah). Makanan tertentu seperti telur, ikan, protein susu sapi, kacang-kacangan dan biji-bijian juga dapat menjadi penyebab anafilaksis.

Produk obat yang dihubungkan dengan anafilaksis antara lain adalah produk darah, vaksin, preparat hiposensitisasi (alergen), antibakteri, asetosal dan AINS lain, heparin, obat pelumpuh otot. Anafilaksis lebih sering terjadi setelah pemberian parenteral, sehingga fasilitas resusitasi harus selalu tersedia untuk pemberian injeksi yang disertai risiko khusus. Reaksi anafilaksis mungkin juga dihubungkan dengan bahan tambahan dan pengisi dari makanan dan obat. Beberapa minyak, seperti minyak kacang, yang mungkin terkandung dalam beberapa produk obat, tidak mungkin menyebabkan reaksi alergi - meski demikian lebih baik memeriksa keseluruhan komposisi dari preparat yang mungkin mengandung lemak atau minyak yang alergenik. Langkah awal terapi anafilaksis yaitu melancarkan saluran napas, memperbaiki tekanan darah (pasien dibaringkan pada posisi datar dengan kaki lebih tinggi), dan pemberian injeksi adrenalin (epinefrin). Injeksi diberikan secara intramuskular dengan dosis 500 mcg (0,5 mL injeksi adrenalin, 1 dalam 1000). Dosis 300 mcg (0,3 ml injeksi adrenalin 1:1000), mungkin sesuai untuk pemberian segera yang dilakukan sendiri. Dosis ini diulangi setiap 5 menit tergantung tekanan darah, nadi dan fungsi pernapasan (penting: mungkin perlu pemberian intravena dengan menggunakan larutan yang lebih encer). Pemberian oksigen juga sangat penting. Antihistamin, seperti klorfeniramin yang diberikan sebagai injeksi intravena lambat dengan dosis 10–20 mg merupakan terapi tambahan yang bermanfaat, diberikan setelah injeksi adrenalin dan dilanjutkan selama 24–48 jam untuk mencegah relaps. Pasien yang menerima beta bloker atau antidepresan perlu perhatian khusus. Keadaan yang terus memburuk memerlukan terapi lebih lanjut termasuk cairan intravena, aminofilin intravena atau nebulisasi agonis adrenoseptor beta–2 (seperti salbutamol atau terbutalin); di samping oksigen, pernapasan bantuan dan trakheotomi darurat mungkin diperlukan. Injeksi kortikosteroid intravena seperti hidrokortison (sebagai natrium suksinat) dengan dosis 100–300 mg tidak begitu berguna pada tata laksana awal syok anafilaksis karena mula kerjanya beberapa jam, tapi obat ini harus diberikan untuk mencegah memburuknya kondisi pasien yang parah.

Jika kondisi pasien sedemikian parahnya sehingga ada keraguan akan kecukupan sirkulasi darah, injeksi awal adrenalin perlu diberikan sebagai larutan yang diencerkan secara intravena.

Pasien dengan alergi berat terhadap gigitan serangga atau makanan dianjurkan untuk membawa semprit adrenalin untuk pengobatan sendiri selama periode yang berisiko.

Angioedema
Angioedema menjadi berbahaya jika terdapat udem larings. Pada kasus ini injeksi adrenalin dan oksigen harus diberikan seperti pada Anafilaksis. Antihistamin dan kortikosteroid juga harus diberikan (lihat uraian di atas). Inkubasi trakeal mungkin diperlukan.

Angiodema herediter
Pemberian penghambat C esterase (dalam fresh frozen plasma atau dalam bentuk dimurnikan sebagian) mungkin dapat mengatasi serangan akut dari angioedema herediter, tapi tidak praktis untuk profilaksis jangka panjang.

Adrenalin Intramuskular
Pemberian secara intramuskular merupakan pilihan utama dari cara pemberian adrenalin pada tatalaksana syok anafilaktik. Adrenalin mempunyai mula kerja cepat setelah pemberian intramuskular dan pada pasien dalam keadaaan syok, absorbsi intramuskular lebih cepat dan lebih dapat dipercaya dibandingkan pemberian subkutan (pemberian intravena harus dilakukan pada keadaan sangat darurat, dimana sirkulasi darah pasien tidak memadai).

Pasien dengan alergi berat sebaiknya diajarkan untuk pemberian sendiri injeksi adrenalin secara intramuskular. Injeksi segera adrenalin sangat penting. Tabel berikut berisi dosis pemberian yang dianjurkan.

Volume injeksi adrenalin 1:1000 (1 mg/ml) untuk injeksi intramuskular (atau injeksi subkutan sebagai alternatif) pada syok anafilaktik. 

 

Umur

Dosis

Volume adrenalin
1:100 (1 mg/mL)

Dibawah 6 bulan

50 mcg

0.05 mL

6 bulan – 6 tahun

120 mcg

0.12 mL

6-12 tahun

250 mcg

0.25 mL

Dewasa dan remaja

500 mcg

0.5 mL

 

Dosis di atas bisa diulangi beberapa kali, jika perlu tiap 5 menit, menurut tekanan darah, nadi dan fungsi pernapasan, sampai terjadi perbaikan. Injeksi subkutan umumnya tidak dianjurkan.

Adrenalin Intravena
Jika pasien sangat parah dan ada keraguan terhadap kecukupan sirkulasi dan absorpsi dari injeksi intramuskular, adrenalin dapat diberikan sebagai injeksi intravena lambat dengan dosis 500 mcg (5 mL larutan encer injeksi adrenalin 1:10.000) diberikan dengan kecepatan 100 mcg/menit (1 mL larutan encer 1:10.000 per menit) dan dihentikan jika respons telah diperoleh.

Pada anak-anak dapat diberikan 10 mcg/kg bb (0.1 mL/kg bb larutan encer injeksi adrenalin 1:10.000) secara injeksi intravena lambat selama beberapa menit. Pengawasan/monitor ketat diperlukan untuk memastikan bahwa obat diberikan dengan kadar yang tepat. Pada kit syok anafilaktik perlu dibedakan dengan sangat jelas antara larutan 1:10.000 dan larutan 1:1000.

Penting diperhatikan bahwa jika injeksi intramuskular masih mungkin berhasil, jangan membuang waktu untuk mencari vena.

Pemberian sendiri adrenalin (epinefrin)
Individu yang mempunyai risiko tinggi untuk mengalami syok anafilaksis perlu membawa adrenalin setiap waktu dan selanjutnya perlu diajarkan bagaimana menyuntikkannya. Pada kemasan perlu diberi label supaya pada kasus kolaps yang terjadi dengan cepat, orang lain dapat memberikan adrenalin tersebut. Penting untuk memastikan adanya persediaan yang cukup untuk mengobati gejala anafilaksis, sampai datang pertolongan medis.

Inhalasi adrenalin
Walaupun inhalasi adrenalin tersedia, namun kemampuan untuk menginhalasi selama serangan mungkin terbatas. Walaupun demikian, inhalasi adrenalin dapat berguna untuk pasien tanpa gejala lain yang mungkin mengalami angioedema dan udem laringeal.

penting: untuk pasien yang pernah mengalami reaksi sangat merugikan, injeksi adrenalin perlu dipertahankan sebagai pilihan pertama.

Monografi: 

EPINEFRIN (ADRENALIN)

Indikasi: 

terapi darurat anafilaksis akut; angioedema; resusitasi kardiopulmonar.

Peringatan: 

hipertiroidism, diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung iskemik, pasien usia lanjut.