3.1.4 Bronkodilator Kombinasi

Secara umum, pasien sebaiknya diobati dengan sediaan bronkodilator tunggal, seperti agonis adrenoseptor beta-2 selektif (lihat 3.1.2.1), atau ipratropium bromida (lihat 3.1.3), sehingga dosis masing-masing obat dapat disesuaikan. Hal ini tidak dapat dilakukan dengan sediaan bronkodilator kombinasi. Tetapi, sediaan kombinasi mungkin cocok untuk pasien yang stabil dengan masing-masing komponen obat dengan proporsi yang sama. Untuk peringatan, kontraindikasi dan efek samping lihat keterangan pada masing- masing obat tunggal.

Monografi: 

SALBUTAMOL+IPRATROPIUM BROMIDA

Indikasi: 

bronkospasme reversibel yang berkaitan dengan penyakit paru obstruksi dan serangan asma akut yang membutuhkan terapi lebih dari bronkodilator tunggal

Peringatan: 

insufisiensi hati atau ginjal, segera konsultasi ke dokter jika mengalami perburukan dispnea akut, jangan terkena mata, pemberian inhalasi disarankan melalui mulut, pasien yang memiliki kecenderungan glaukoma harus diperingatkan untuk melindungi matanya secara khusus ketika pemakaian, pada kondisi diabetes mellitus diperlukan dosis lebih tinggi, infark miokard, kelainan jantung dan vaskular yang parah, hipertiroid, feokromositoma, glaukoma sudut sempit, hipertrofi prostat atau pun obstruksi pangkal uretra, jantung iskemik, takiaritmia atau gagal jantung, segera konsul ke dokter jika terjadi perburukan penyakit jantung, hipokalemia, pasien dengan sistik fibrosis karena rawan mengalami gangguan motilitas saluran cerna, monitor kadar kalium dalam serum pada penggunaan bersama digoksin, kehamilan (lihat juga lampiran 4), menyusui (lihat juga lampiran 5).

Interaksi: 

penggunaan bersama dengan turunan xantin dan beta adrenergik serta antikolinergik lainnya dapat meningkatkan efek samping, potensi hipokalemia meningkat pada penggunaan bersama dengan turunan xantin, glukokortikosteroid, diuretik dan digoksin,  penurunan efek bronkodilator secara signifikan terjadi selama penggunaan bersama dengan beta bloker, pemberian agonis beta adrenergik dilakukan secara hati-hati pada pasien yang mendapatkan terapi penghambat monoamin oksidase atau antidepresan trisiklik karena meningkatkan efek obat agonis beta adrenergik, inhalasi dari anastesi hidrokarbon terhalogenasi seperti halotan, trikloroetilen dan enfluran berpotensi meningkatkan kemungkinan munculnya efek kardiovaskular dari agonis beta, lihat juga lampiran 1.

Kontraindikasi: 

kardiomiopati obstruktif, hipertrofi, takiaritmia, hipersensitivitas.

Efek Samping: 

sakit kepala, iritasi tenggorokan, batuk, mulut kering, gangguan motilitas saluran cerna (termasuk konstipasi, diare dan muntah), mual dan pusing, reaksi anafilaktik, hipersensitivitas, hipokalemia, gugup, gangguan mental, tremor, pusing, gangguan akomodasi mata, edema kornea, glaukoma, peningkatan tekanan intraokular, midriasis, penglihatan kabur, nyeri mata, hiperemia konjungtiva, halo vision, aritmia, fibrilasi atrial, iskemia miokard, palpitasi, takikardi supraventrikel, takikardi, penurunan tekanan darah diastolik, peningkatan tekanan darah sistolik, batuk, disfonia, tenggorokan kering, bronkospasme, paradoksikal bronkospasme, laringospasme, edema faringeal, mual, diare, muntah, konstipasi, gangguan motilitas saluran cerna, edema mulut, stomatitis, ruam, pruritus, urtikaria, angioedema, hiperhidrosis, kram otot, lemah otot, mialgia, retensi urin, astenia.

Dosis: 

terapi serangan akut: 1 unit dosis, pada kasus yang parah, jika serangan tidak dapat diredakan dengan pemberian satu unit dosis, mungkin diperlukan dua unit dosis, pada kasus tersebut, pasien harus segera berkonsultasi dengan dokter atau menuju ke rumah sakit terdekat; terapi pemeliharaan: satu unit dosis tiga atau empat kali sehari; overdosis: pemberian sediaan obat penenang untuk kasus overdosis parah, penghambat reseptor beta, terutama selektif beta-1, cocok digunakan sebagai antidot spesifik, namun, kemungkinan terjadinya peningkatan obstruksi bronkus harus diperhitungkan dan dosis harus disesuaikan dengan hati-hati pada pasien yang menderita asma bronkial.