3.1.3 Bronkodilator dan Antimuskarinik

Ipratropium dapat memberikan kelegaan jangka pendek pada asma kronik, tetapi agonis adrenoseptor beta-2 kerja pendek bekerja lebih cepat dan lebih disukai. Nebulisasi ipratropium dapat ditambahkan pada terapi standar lain pada asma yang mengancam jiwa atau ketika asma akut gagal diatasi dengan terapi standar (lihat tabel 3.2. Tata laksana Asma Akut Berat). Inhalasi ipatropium aerosol dapat digunakan untuk terapi jangka pendek pada penyakit paru obstruktif kronik ringan pada pasien yang tidak menggunakan obat antimuskarinik kerja panjang. Inhalasi ipatropium aerosol memberikan efek puncak 30-60 menit sesudah pemberian; lama kerjanya 3-6 jam, dan efek bronkodilasi dapat dipertahankan dengan pemberian dosis 3 kali sehari.

Tiotropium merupakan bronkodilator antimus-karinik kerja panjang, efektif untuk pengobatan penyakit paru obstruktif kronik, tidak cocok untuk mengatasi bronkospasme akut.

Peringatan: Bronkodilator antimuskarinik harus diberikan dengan hati-hati pada pasien dengan hiperplasia prostat, obstruksi kandung kemih, pasien dengan risiko glaukoma sudut sempit. 

Interaksi: lihat lampiran 1.

Efek samping: Efek samping bronkodilator antimuskarinik termasuk mulut kering, mual, konstipasi, dan sakit kepala. Takikardi dan fibrilasi atrial juga pernah dilaporkan.

Monografi: 

IPRATROPIUM BROMIDA

Indikasi: 

bronkospasme yang berkaitan dengan pada pasien yang diterapi dengan ipratropium dan salbutamol.

Peringatan: 

glaukoma sudut dekat, nyeri mata, midriasis, meningkatnya tekanan intraokular, infark miokardial, penyakit jantung iskemi, aritmia jantung, penyakit kardiovaskular atau jantung organik berat, hipotiroid, feokromositoma, hipertropi prostat atau obstruksi kandung kemih, hipokalemin, cystic fibrosis (ketidakteraturan motilitas saluran cerna), dispnea, anak. Pada dosis tinggi: nokrosis jantung, lesi jantung, trimester pertama kehamilan.

Interaksi: 

derivat xantin, stimulan adrenoseptor beta, antikolinergik, penghambat beta, beta adrenergik, penghambat MOA, antidepresan trisiklik, inhalasi hidrokarbon halogenasi.

Kontraindikasi: 

hipersensitif terhadap ipratropium, turunan atropin, obstruksi hipertropi kardiomiopati, takiaritmia.

Efek Samping: 

lihat keterangan pada stimulan adrenoseptor beta-2.

Dosis: 

dewasa dan lansia: 1 dosis UDV 3-4 kali sehari. Penderita obstruksi paru kronis yang memiliki kebiasaan merokok, dianjurkan konseling dengan dokter untuk menentukan dosis dan kebiasaan merokok sebaiknya dihentikan jika tidak ada perbaikan pada obstruksi paru kronis.

TIOTROPIUM BROMIDE

Indikasi: 

terapi pemeliharaan obstruksi paru kronik termasuk bronchitis dan emfisema kronik dan dispnea yang menyertainya.

Peringatan: 

sebaiknya tidak digunakan untuk terapi awal pada bronkospasme akut, penderita glaukoma sudut dekat, hiperplasia prostat, obstruksi leher kandung kemih, kehamilan dan menyusui.

Interaksi: 

antikolinergik digunakan bersamaan dalam waktu lama, tidak direkomendasikan.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas terhadap atropin atau derivatnya atau komponen penyusun produk.

Efek Samping: 

dehidrasi, pusing, sakit kepala, insomnia, penglihatan kabur, peningkatan tekanan intraokular, glaukoma, takikardi, palpitasi, takikardi supraventikular, atrial fibrilasi, bronkospasme, epistaksis, laringitis, faringitis, sinusitis, disfonia, batuk, obstruksi intestinal, stomatitis, gingivitis, glositis, kandidiasis orofaringeal, refluks gastroesofagal, disfagia, konstipasi, mulutkering, mual, karies gigi, reaksi hipersensitivitas, udema angioneurotik, urtikaria, pruritus, kulit kering, ruam kulit, pembengkakan sendi, retensi urin, disuria.

Dosis: 

dewasa (termasuk lansia), 1 kali sehari satu kapsul untuk inhalasi (22,5 mcg tiotropium bromide setara dengan18 mcg tiotropium), tidak boleh ditelan, tidak boleh digunakan lebih dari 1 kali sehari.

GLIKOPIRONIUM BROMIDA

Indikasi: 

terapi pemeliharaan pada obstruksi paru kronik.

Peringatan: 

tidak digunakan untuk terapi awal pada bronkospasme akut (terapi kedaruratan), bronkospasme paradoksikal, glaukoma sudut sempit, retensi urin, gangguan ginjal berat, penyakit jantung iskemik tidak stabil, kegagalan ventrikel kiri, riwayat infark miokard,  aritmia, riwayat perpanjangan interval QT, kehamilan dan menyusui, tidak boleh digunakan pada anak dan remaja usia di bawah 18 tahun.

Interaksi: 

antikolinergik.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas.

Efek Samping: 

Umum: mulut kering, gastroenteritis, insomnia; Tidak umum: dispepsia, karies gigi, nyeri pada lengan dan kaki, nyeri otot, tulang dan persendian dada, ruam, kongesti sinus, batuk berdahak iritasi tenggorokan, epitaksis, rinitis, sistisis, hiperglikemia, retensi urin, disuria, atrial fibrilasi, palpitasi, hipoastesia.

Dosis: 

Dewasa: 50 mikrogram satu kali sehari.