Fondaparinuks

Fondaparinuks adalah pentasakarida sintetis yang menghambat faktor X teraktivasi. Digunakan untuk profilaksis pasien dengan tromboemboli vena dan pada pasien yang menjalani operasi ortopedi mayor di lengan atau operasi abdomen. Juga digunakan untuk pengobatan trombosis vena dalam dan embolisme paru.

Monografi: 

NATRIUM FONDAPARINUKS

Indikasi: 

pencegahan venous thromboembolic events (VTE) pada pasien yang menjalani pembedahan ortopedi mayor pada anggota badan bagian bawah seperti fraktur tulang pinggul, operasi penggantian lutut atau pinggul, pasien yang menjalani operasi perut yang berisiko komplikasi tromboemboli, pasien yang berisiko komplikasi tromboemboli karena penyakit akut, pengobatan akut deep vein thrombosis (DVT), pengobatan akut pulmonary embolism (PE), pengobatan angina tidak stabil atau non-ST segmen elevasi infark miokard (UA / NSTEMI) pada pasien kritis (<120 menit) manajemen invasif [Intervensi Koroner Perkutan (PCI)] tidak diindikasikan, pengobatan tambahan dari ST segmen elevasi infark miokard (STEMI) pada pasien yang sedang melakukan pengobatan dengan trombolitik

Peringatan: 

rute pemberian tidak diperbolehkan melalui intramuskular, penggunaan sebelum dan selama intervensi koroner perkutan (PCI) tidak dianjurkan, peningkatan risiko perdarahan, peningkatan risiko perdarahan pada lansia, gagal ginjal (lihat lampiran 3), kehamilan (lihat lampiran2), dan menyusui (lihat lampiran 4).

Interaksi: 

desirudin, fibrinolitik agent, reseptor antagonis GP IIb/IIIa, heparin, heparinoid dan heparin bobot molekul rendah dapat meningkatkan risiko perdarahan, antiplatelet (asam asetil salisilat, dipiridamol, sulfinpirazon, tiklopidin, klopidogrel) dan AINS harus diberikan dengan perhatian.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas, perdarahan aktif, endokarditis bakterial akut, gangguan ginjal berat (kreatinin klirens < 20 mL/menit).

Efek Samping: 

umum: anemia, perdarahan (di berbagai tempat termasuk kasus jarang seperti perdarahan intrakranial, intraserebral, retroperitoneal), purpura, hematoma, hematuria, hemoptisis, perdarahan gusi;

Tidak umum: trombositopenia, trombositemia, platelet abnormal, gangguan koagulasi, sakit kepala, mual, muntah, abnormalitas pada uji fungsi hati, peningkatan enzim hati, ruam, pruritus, wound secretion demam, udem perifer, anemia, dispnea, nyeri dada; jarang: infeksi pada luka pasca operasi, reaksi alergi, hipokalemia, ansietas, bingung, pusing, somnolens, vertigo, hipotensi, dispnea, batuk, nyeri abdomen, dispepsia, gastritis, konstipasi, diare, bilirubinemia, reaksi pada lokasi injeksi, nyeri dada, nyeri kaki, letih, udema pada genital, kulit memerah, sinkop.

Dosis: 

pencegahan venous thromboembolic events (VTE): 2,5 mg sehari sekali diberikan secara sub kutan pasca bedah, dosis awal harus diberikan minimal 6 jam setelah pembedahan selesai. Pengobatan dilanjutkan selama 5-9 hari, lansia > 75 tahun dan/ atau dengan berat badan < 50 kg dan/atau gangguan ginjal sedang dengan kreatinin klirens 30 mL/menit pemberian pertama tidak boleh kurang dari 6 jam setelah pembedahan selesai, injeksi tida k boleh diberikan kecuali apabila hemostasis tercapai; pengobatan deep vein thrombosis (DVT) dan pulmonary embolism (PE) dosis 5 mg untuk BB < 50 kg, 7,5 mg BB 50 – 100 kg, 10 mg BB >100 kg , pengobatan diberikan secara sub kutan selama minimal 5 hari, pengobatan bersama antagonis vitamin K dimulai sesegera mungkin dalam waktu 72 jam.