2.5.3 Diuretika Hemat Kalium

Amilorid dan triamteren tunggal merupakan diuretika yang lemah. Keduanya menyebabkan retensi kalium dan karenanya digunakan sebagai alternatif yang lebih efektif sebagai suplementasi kalium pada penggunaan tiazid atau diuretika kuat. Suplemen kalium tidak boleh diberikan bersama diuretika hemat kalium. Juga penting untuk diingat bahwa pemberian diuretika hemat kalium pada seorang pasien yang menerima suatu penghambat ACE atau antagonis reseptor angiotensin II dapat menyebabkan hiperkalemia berat.

Monografi: 

AMILORID HIDROKLORIDA

Indikasi: 

edema, konversi kalium dengan tiazid dan diuretika kuat.

Peringatan: 

kehamilan dan menyusui; gangguan ginjal; diabetes mellitus; usia lanjut.

Interaksi: 

lihat pada lampiran 1 (diuretika).

Kontraindikasi: 

Hiperkalemia, gagal ginjal.

Efek Samping: 

meliputi gangguan saluran cerna, mulut kering, ruam kulit, bingung, hipotensi postural, hiperkalemia, hiponatremia.

Dosis: 

digunakan sendiri, dosis awal 10 mg sehari atau 5 mg 2 kali sehari, sesuaikan menurut respons; maksimal 20 mg sehari. Dengan diuretika lain, gagal jantung kongestif dan hipertensi, dosis awal 5-10 mg sehari; sirosis dengan asites, dosis awal 5 mg sehari.

TRIAMTEREN

Indikasi: 

edema, sebagai penahan kalium dalam terapi kombinasi dengan hidroklortiazid dan diuretika kuat.

Peringatan: 

lihat keterangan pada amilorid hidroklorida; dapat menyebabkan warna urin berubah menjadi biru fluoresens.

Kontraindikasi: 

lihat keterangan pada amilorid hidroklorida.

Efek Samping: 

gangguan saluran cerna, mulut kering, ruam kulit; sedikit penurunan tekanan darah, hiperkalemia, hiponatremia; juga dilaporkan fotosensitivitas dan gangguan darah; triamteren ditemukan pada batu ginjal.

Dosis: 

Awal, 150-250 mg per hari, dosis dikurangi menjadi setiap dua hari setelah satu minggu; diberikan dalam dosis terbagi setelah sarapan dan makan siang; dosis awal yang lebih rendah jika diberikan bersama diuretika lain.