2.5.2 Diuretika Kuat

Diuretika kuat digunakan dalam pengobatan edema paru akibat gagal jantung ventrikel kiri. Pemberian intravena mengurangi sesak nafas dan mengurangi preload lebih cepat dari yang diharapkan dari mula kerja diuresis. Diuretika kuat ini juga digunakan pada pasien gagal jantung kronik. Edema yang resisten terhadap diuretika (kecuali edema limfa dan edema akibat stasis vena perifer atau antagonis kalsium) dapat diobati dengan diuretika kuat yang dikombinasikan dengan tiazid atau diuretika sejenis (contoh bendroflumetiazid 5-10 mg sehari atau metolazon 5-20 mg sehari).

Diuretika kuat kadang-kadang digunakan untuk menurunkan tekanan darah terutama pada hipertensi yang resisten terhadap terapi tiazid. Diuretika kuat menghambat resorpsi cairan dari ascending limb of the loop of Henle dalam tubulus ginjal dan merupakan diuretika yang kuat. Hipokalemia dapat terjadi, dan perlu hati-hati untuk menghindari hipotensi. Jika terdapat pembesaran prostat, dapat terjadi retensi urin. Risiko ini kemungkinan terjadinya kecil bila pada awalnya digunakan diuretika dosis kecil dan tidak terlalu poten.

Furosemid dan bumetanid aktivitasnya serupa. Keduanya bekerja dalam waktu 1 jam setelah pemberian oral dan efek diuresis berakhir dalam 6 jam, sehingga jika perlu dapat diberikan 2 kali dalam satu hari tanpa mengganggu tidur. Setelah pemberian intravena kedua obat tersebut menghasilkan efek puncak dalam 30 menit. Diuresis yang dikaitkan dengan kedua obat ini ternyata berhubungan dengan dosis. Pada pasien dengan fungsi ginjal terganggu, kadang-kadang diperlukan dosis yang sangat besar. Pada dosis besar, keduanya dapat menyebabkan ketulian dan bumetamid dapat menyebabkan mialgia.

Furosemid banyak digunakan pada anak-anak. Obat ini digunakan untuk edema paru, gagal jantung kongestif dan hipertensi karena gagal jantung atau ginjal. Furosemid kadang-kadang menyebabkan otoksisitas tapi risiko ini dapat dikurangi dengan memberikan dosis oral yang besar dalam 2 atau lebih dosis terbagi. Penggunaan jangka panjang pada neonatus dapat menimbulkan nefrokalsinosis yang disebabkan meningkatnya kehilangan kalsium melalui urin. Pada kasus ini lebih baik digunakan tiazid.

Torasemid memiliki sifat-sifat yang sama dengan furosemid dan bumetamid, dan digunakan untuk edema dan hipertensi.

Monografi: 

BUMETAMID

Indikasi: 

edema (lihat keterangan di atas); oliguria karena gagal ginjal.

Peringatan: 

lihat pada Furosemid; gangguan hati; gangguan ginjal; kehamilan dan menyusui.

Kontraindikasi: 

lihat pada furosemid.

Efek Samping: 

lihat pada furosemid; juga mialgia.

Dosis: 

oral, 1 mg pada pagi hari, jika perlu ulangi setelah 6-8 jam; kasus yang parah tingkatkan sampai 5 mg sehari atau lebih. USIA LANJUT. 0,5 mg sehari mungkin cukup Injeksi intravena, 1-2 mg, ulangi setelah 20 menit;
jika injeksi intramuskuler perlu dipertimbangkan, dosis awal 1 mg kemudian disesuaikan menurut responsnya Infus intravena, 2-5 mg selama 30-60 menit.

FUROSEMID

Indikasi: 

udem karena penyakit jantung, hati, dan ginjal. Terapi tambahan pada udem pulmonari akut dan udem otak yang diharapkan mendapat onset diuresis yang kuat dan cepat.

Peringatan: 

hipotensi, pasien dengan risiko penurunan tekanan darah, diabetes melitus, gout, sindrom hepatorenal, hipoproteinemia, bayi prematur.

Interaksi: 

glukokortikoid, karbenoksolon, atau laksatif: meningkatkan deplesi kalium dengan risiko hipokalemia. Antiinflamasi non-steroid (AINS), probenesid, metotreksat, fenitoin, sukralfat: mengurangi efek dari furosemid. Glikosida jantung: meningkatkan sensitivitas miokardium. Obat yang dapat memperpanjang interval QT: meningkatkan risiko aritmia ventrikular. Salisilat: meningkatkan risiko toksisitas salisilat. Antibiotik aminoglikosida, sefalosporin, dan polimiksin: meningkatkan efek nefrotoksik dan ototoksik. Sisplastin: memungkinkan adanya risiko kerusakan pendengaran. Litium: meningkatkan efek litium pada jantung dan neurotoksik karena furosemid mengurangi eksresi litium. Antihipertensi: berpotensi menurunkan tekanan darah secara drastis dan penurunan fungsi ginjal. Probenesid, metotreksat: menurunkan eliminasi probenesid dan metotreksat. Teofilin: meningkatkan efek teofilin atau agen relaksan otot. Antidiabetik dan antihipertensi simpatomimetik: menurunkan efek obat antidiabetes dan antihipertensi simpatomimetik. Risperidon: hati-hati penggunaan bersamaan. Siklosporin: meningkatkan risiko gout. Media kontras: risiko pemburukan kerusakan ginjal. Kloralhidrat: mungkin timbul panas, berkeringat, gelisah, mual, peningkatan tekanan darah dan takikardia.

Kontraindikasi: 

gagal ginjal dengan anuria, prekoma dan koma hepatik, defisiensi elektrolit, hipovolemia, hipersensitivitas.

Efek Samping: 

sangat umum: gangguan elektrolit, dehidrasi, hipovolemia, hipotensi, peningkatan kreatinin darah. Umum: hemokonsentrasi, hiponatremia, hipokloremia, hipokalemia, peningkatan kolesterol darah, peningkatan asam urat darah, gout, enselopati hepatik pada pasien dengan penurunan fungsi hati, peningkatan volume urin. Tidak umum: trombositopenia, reaksi alergi pada kulit dan membran mukus, penurunan toleransi glukosa dan hiperglikemia, gangguan pendengaran, mual, pruritus, urtikaria, ruam, dermatitis bulosa, eritema multiformis, pemfigoid, dermatitis eksfoliatif, purpura, fotosensitivitas. Jarang:  eosinofilia, leukositopenia, anafilaksis berat dan reaksi anafilaktoid, parestesia, vakulitis, muntah, diare, nefritis tubulointerstisial, demam. Sangat jarang: anemia hemolitik, anemia aplastik, agranulositosis, tinnitus, pankreatitis akut, kolestasis intrahepatik, peningkatan transaminase. Tidak diketahui frekuensinya: hipokalsemia, hipomagnesemia, alkalosis metabolik, trombosis, sindroma Stevens-Johnson, nekrolisis epidermal toksik, pustulosis eksantema generalisata akut (Acute Generalized Exanthematous Pustulosis/AGEP), reaksi obat dengan eosinofilia dan gejala sistemik (Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptom/DRESS), peningkatan natrium urin, peningkatan klorida urin, peningkatan urea darah, gejala gangguan fungsi mikturisi, nefrokalsinosis dan/atau nefrolitiasis pada bayi prematur, gagal ginjal, peningkatan risiko persistent ductus arteriosus pada bayi prematur usia seminggu, nyeri lokal pada area injeksi.

Dosis: 

Oral: Udem. Dewasa, dosis awal 40 mg pada pagi hari, penunjang 20-40 mg sehari, tingkatkan sampai 80 mg sehari pada udem yang resistensi. Anak, 1-3 mg/kg BB sehari, maksimal 40 mg sehari. Oliguria. Dosis awal 250 mg sehari. Jika diperlukan dosis lebih besar, tingkatkan bertahap dengan 250 mg, dapat diberikan setiap 4-6 jam sampai maksimal dosis tunggal 2 g (jarang digunakan).

Injeksi intravena atau intramuskular: Udem. Dewasa >15 tahun, dosis awal 20-40 mg, dosis dapat ditingkatkan sebesar 20 mg tiap interval 2 jam hingga efek tercapai. Dosis individual diberikan 1-2 kali sehari. Pemberian injeksi intravena harus perlahan dengan kecepatan tidak melebihi 4 mg/menit. Pemberian secara intramuskular hanya dilakukan bila pemberian oral dan intravena tidak memungkinkan. Intramuskular tidak untuk kondisi akut seperti udem pulmonari. Udem pulmonari akut. Dosis awal 40 mg secara intravena. Jika tidak mendapatkan respons yang diharapkan selama 1 jam, dosis dapat ditingkatkan hingga 80 mg secara intravena lambat. Udem otak. Injeksi intravena 20-40 mg 3 kali sehari. Diuresis mendesak.Dosis 20-40 mg diberikan bersama infus cairan elektrolit. Bayi dan anak <15 tahun, pemberian secara parenteral hanya dilakukan bila keadaan mendesak atau mengancam jiwa (1 mg/kg BB hingga maksimum 20 mg/hari).

TORASEMID

Indikasi: 

edema (lihat keterangan di atas); hipertensi.

Peringatan: 

lihat pada furosemid; gagal hati; gagal ginjal; kehamilan.

Kontraindikasi: 

lihat furosemid.

Efek Samping: 

lihat furosemid; juga mulut kering; paraestesia anggota badan jarang.

Dosis: 

oral, edema, 5 mg sekali sehari, sebaiknya pada pagi hari, jika perlu tingkatkan sampai 20 mg sekali sehari; dosis maksimal 40 mg sehari. Hipertensi, 2,5 mg sehari, bila perlu tingkatkan sampai 5 mg sekali sehari.