2.4.2 Antagonis Kalsium

Antagonis kalsium menghambat arus masuk ion kalsium melalui saluran lambat membran sel yang aktif. Golongan ini mempengaruhi sel miokard jantung, dan sel otot polos pembuluh darah, sehingga mengurangi kemampuan kontraksi miokard, pembentukan dan propagasi impuls elektrik dalam jantung, dan tonus vaskuler sistemik atau koroner. Pemilihan obat-obat golongan antagonis kalsium berbeda-beda berdasarkan perbedaan lokasi kerja, sehingga efek terapetiknya tidak sama, dengan variasi yang lebih luas daripada golongan beta bloker. Terdapat beberapa perbedaan penting di antara obat-obat golongan antagonis kalsium verapamil, diltiazem, dan dihidropiridin (amlodipin, felodipin, isradipin, lasidipin, lerkanidipin, nikardipin, nifedipin, nimodipin, dan nisoldipin). Verapamil dan diltiazem biasanya harus dihindari pada gagal jantung karena dapat menekan fungsi jantung sehingga mengakibatkan perburukan klinis.

Verapamil digunakan untuk pengobatan angina, hipertensi, dan aritmia. Obat ini merupakan antagonis kalsium dengan kerja inotropik negatif yang poten, mengurangi curah jantung, memperlambat denyut jantung, dan mengganggu konduksi AV. Dengan demikian verapamil dapat mencetuskan gagal jantung, memperburuk gangguan konduksi, dan menyebabkan hipotensi pada dosis tinggi. Karena itu obat ini tidak boleh digunakan bersama dengan beta bloker. Efek samping utamanya berupa konstipasi.

Nifedipin merelaksasi otot polos vaskular sehingga mendilatasi arteri koroner dan perifer. Obat ini lebih berpengaruh pada pembuluh darah dan kurang berpengaruh pada miokardium dari pada verapamil. Tidak seperti verapamil, nifedipin tidak mempunyai aktivitas antiaritmia. Nifedipin jarang menimbulkan gagal jantung, karena efek inotropik negatifnya diimbangi oleh pengurangan kerja ventrikel kiri. Sediaan nifedipin kerja pendek tidak dianjurkan untuk pengobatan jangka panjang hipertensi, karena menimbulkan variasi tekanan darah yang besar dan refleks takikardia.

Nikardipin memiliki efek serupa dengan nifedipin, dengan menghasilkan sedikit pengurangan kontraktilitas miokard.

Amlodipin dan felodipin menunjukkan efek yang serupa dengan nifedipin dan nikardipin, tidak mengurangi kontraktilitas miokard dan tidak menyebabkan perburukan pada gagal jantung. Obat ini mempunyai masa kerja yang lebih panjang, dan dapat diberikan sekali sehari. Nifedipin, nikardipin, amlodipin, dan felodipin digunakan untuk pengobatan angina atau hipertensi. Semuanya bermanfaat pada angina yang disertai dengan vasospasme koroner. Efek samping akibat efek vasodilatasinya adalah muka merah dan sakit kepala, dan edema pergelangan kaki (yang hanya memberikan respons parsial terhadap diuretika).

Diltiazem efektif untuk sebagian besar angina. Selain itu, sediaan kerja panjangnya juga digunakan untuk terapi hipertensi. Senyawa ini dapat digunakan untuk pasien yang karena sesuatu sebab tidak dapat diberikan beta bloker. Efek inotropik negatifnya lebih ringan dibanding verapamil dan jarang terjadi depresi miokardium yang bermakna.

Meskipun demikian, karena risiko bradikardinya, tetap diperlukan kehati-hatian bila digunakan bersama beta bloker.

Angina tidak stabil. Antagonis kalsium tidak mengurangi risiko infark miokard pada angina tidak stabil. Penggunaan diltiazem atau verapamil dicadangkan bagi pasien yang resisten terhadap beta bloker.

Putus obat. Terdapat bukti bahwa penghentian antagonis kalsium yang mendadak dapat menyebabkan memburuknya angina.

Monografi: 

AMLODIPIN

Indikasi: 

hipertensi, profilaksis angina.

Peringatan: 

lihat kehamilan (lampiran 4), gangguan fungsi hati (lampiran 2).

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (antagonis kalsium).

Kontraindikasi: 

syok kardiogenik, angina tidak stabil, stenosis aorta yang signifikan, menyusui (lampiran 5).

Efek Samping: 

nyeri abdomen, mual, palpitasi, wajah memerah, edema, gangguan tidur, sakit kepala, pusing, letih;

Jarang terjadi, gangguan saluran cerna, mulut kering, gangguan pengecapan, hipotensi, pingsan, nyeri dada, dispnea, rhinitis, perubahan perasaan, tremor, paraestesia, gangguan kencing, impoten, ginekomastia, perubahan berat badan, mialgia, gangguan penglihatan, tinitus, pruritus, ruam kulit (termasuk adanya laporan eritema multiform), alopesia, purpura dan perubahan warna kulit;

Sangat jarang, gastritis, pankreatitis, hepatitis, jaundice, kolestasis, hiperplasia pada gusi, infark miokard, aritmia, vaskulitis, batuk, hiperglikemia, trombositopenia, angioedema dan urtikaria.

Dosis: 

hipertensi atau angina, dosis awal 5 mg sekali sehari; maksimal 10 mg sekali sehari.

DILTIAZEM HIDROKLORIDA

Indikasi: 

pengobatan angina pektoris; profilaksis angina pektoris varian; hipertensi esensial ringan sampai sedang.

Peringatan: 

kurangi dosis pada pasien gangguan fungsi hati dan ginjal; gagal jantung atau gangguan bermakna fungsi ventrikel kiri yang bermakna , bradikardi (hindarkan jika berat), blokade AV derajat satu, atau perpanjangan interval PR.

Interaksi: 

lihat antagonis kalsium (lampiran 1).

Kontraindikasi: 

bradikardi berat, gagal jantung kongesti (denyut jantung di bawah 50 denyut/menit); gagal ventrikel kiri dengan kongesti paru, blokade AV derajat dua atau tiga (kecuali jika digunakan pacu jantung), sindrom penyakit sinus (sinus bradikardi, sinus ares, sinus atrial); kehamilan; menyusui (lampiran 4); hipersensitif terhadap diltiazem.

Efek Samping: 

bradikardi, blokade sinoatrial, blokade AV, jantung berdebar, pusing, hipotensi, malaise, asthenia, sakit kepala, muka merah dan panas, gangguan saluran cerna, edema (terutama pada pergelangan kaki); jarang terjadi ruam kulit (termasuk eritema multiforme dan torn dermatitis), fotosensitif; dilaporkan juga hepatitis, gynaecomastia, hiperplasia gusi, sindrom ekstrapiramidal, dan depresi.

Dosis: 

aritmia, 60 mg tiga kali sehari (usia lanjut awalnya dua kali sehari) jika perlu tingkatkan hingga 360 mg sehari disesuaikan dengan usia dan gejala;

hipertensi esensial ringan sampai sedang, dewasa oral 100-200 mg satu kali sehari;

angina varian, dewasa oral 100 mg sekali sehari, jika tidak ada perubahan maka dapat ditingkatkan hingga 200 mg satu kali sehari.

FELODIPIN

Indikasi: 

hipertensi, angina.

Peringatan: 

hentikan bila terjadi nyeri iskemik; gangguan hati; menyusui; hindari sari buah grapefruit (mempengaruhi metabolisme).

Interaksi: 

lihat lampiran1 (antagonis kalsium).

Kontraindikasi: 

kehamilan.

Efek Samping: 

muka merah, sakit kepala, palpitasi, pusing, fatigue, edema kaki, ruam kulit dan gatal, hiperplasia, demam, impoten.

Dosis: 

hipertensi, dosis awal 5 mg (usia lanjut 2,5 mg) sehari pada pagi hari; dosis penunjang lazim 5-10 mg sekali sehari; jarang diperlukan dosis di atas 20 mg sehari.

Angina, dosis awal 5 mg sehari pada pagi hari, jika perlu tingkatkan sampai 10 mg sekali sehari.

ISRADIPIN

Indikasi: 

hipertensi.

Peringatan: 

sindrom sinus (jika penggunaan pacemaker tidak sesuai); hindari minuman grapefruit (dapat mempengaruhi metabolisme); kurangi dosis pada gangguan fungsi ginjal atau hati; kehamilan (lampiran 4).

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (antagonis kalsium).

Kontraindikasi: 

syok kardiogenik; stenosis aorta sempit atau simptomatik; penggunaan dalam 1 bulan setelah serangan infark miokard; angina tidak stabil, menyusui (lampiran 5).

Efek Samping: 

sakit kepala, wajah memerah, pusing, takikardi dan palpitasi, edema perifer terlokalisir; hipotensi, tidak lazim; jarang terjadi, berat badan bertambah, letih, rasa tidak nyaman pada abdomen, ruam kulit.

Dosis: 

2,5 mg dua kali sehari (1,25 mg dua kali sehari pada lansia, gangguan fungsi ginjal atau hati); jika perlu dapat ditingkatkan setelah 3-4 minggu menjadi 5 mg dua kali sehari (hingga 10 mg dua kali sehari); dosis penunjang 2,5 atau 5 mg satu kali sehari.

LASIDIPIN

Indikasi: 

hipertensi.

Peringatan: 

abnormalitas konduksi jantung; volume jantung rendah; hentikan penggunaan jika terjadi nyeri iskemik yang terjadi segera setelah awal penggunaan atau jika terjadi syok kardiogenik, hindari sari buah grapefruit (dapat mempengaruhi metabolisme); gangguan fungsi hati (Lampiran 2).

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (antagonis kalsium).

Kontraindikasi: 

stenosis aorta; hindari penggunaannya 1 bulan setelah serangan infark miokard; kehamilan (lampiran 4); menyusui (lampiran 5).

Efek Samping: 

sakit kepala, wajah memerah, edema, pusing, palpitasi; juga astenia, ruam kulit (termasuk pruritus dan eritema), gangguan saluran cerna, hiperplasia pada gusi, kram otot, poliuria, nyeri dada (lihat peringatan), gangguan perasaan.

Dosis: 

Awal, 2 mg sebagai dosis tunggal per hari, diminum pada pagi hari; ditingkatkan setelah 3-4 minggu menjadi 4 mg sehari, jika perlu dapat ditingkatkan lagi menjadi 6 mg per hari.

LERKANIDIPIN

Indikasi: 

pengobatan hipertensi essensial ringan sampai sedang.

Peringatan: 

Pasien dengan sick sinus syndrome, pasien dengan disfungsi LV, peningkatan risiko kardiovaskular pada pasien dengan penyakit jantung iskemik, kehamilan dan menyusui.

Interaksi: 

ketokonazol, itrakonazol, ritonavir, eritromisin, troleandomisin dan siklosporin dapat meningkatkan kadar plasma lerkanidipin sehingga harus dihindari. Pemberian bersamaan dengan midazolam 20 mg dapat meningkatkan absorpsi lerkanidipin. Harus diperhatikan pemberian bersamaan dengan terfenadin, astemizol, amiodaron dan kuinidin. Pemberian dengan fenitoin, karbamazepin, rifampisin dapat mengurangi efek antihipertensi dan tekanan darah harus dimonitor lebih sering. Interaksi dengan makanan: tidak boleh diberikan bersamaan dengan sari buah grapefruit karena dapat meningkatkan efek hipotensif.

Kontraindikasi: 

hipersensitif, kehamilan dan menyusui.

Efek Samping: 

Umum: kemerahan, edema perifer, palpitasi, takikardia, sakit kepala, pusing, asthenia;

Tidak umum: fatigue, gangguan pencernaan seperti dispepsia, mual, muntah, sakit perut dan diare, poliuria, ruam, somnolence, mialgia;

Jarang: hipotensi dan gingival hiperplasia.Beberapa dihidropiridin dapat menyebabkan sakit precordial dan angina pektoris.

Dosis: 

Dosis yang dianjurkan 10 mg secara oral sekali sehari minimal 15 menit sebelum makan. Dosis dapat ditingkatkan hingga 20 mg tergantung respon tiap individu.

NIFEDIPIN

Indikasi: 

profilaksis dan pengobatan angina; hipertensi.

Peringatan: 

hentikan jika terjadi nyeri iskemik atau nyeri yang ada memburuk dalam waktu singkat setelah awal pengobatan; cadangan jantung yang buruk; gagal jantung atau gangguan fungsi ventrikel kiri yang bermakna (memburuknya gagal jantung teramati); hipotensi berat; kurangi dosis pada gangguan hati; diabetes mellitus; dapat menghambat persalinan; menyusui; hindari sari buah grapefruit (mempengaruhi metabolisme).

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (antagonis kalsium).

Kontraindikasi: 

syok kardiogenik; stenosis aorta lanjut; kehamilan (toksisitas pada studi hewan); porfiria.

Efek Samping: 

pusing, sakit kepala, muka merah, letargi; takikardi, palpitasi; juga edema kaki, ruam kulit (eritema multiform dilaporkan), mual, sering kencing; nyeri mata, hiperplasia gusi; depresi dilaporkan; telangiektasia dilaporkan.

Dosis: 

angina dan fenomena Raynaud, sediaan konvensional, dosis awal 10 mg (usia lanjut dan gangguan hati 5 mg) 3 kali sehari dengan atau setelah makan; dosis penunjang lazim 5-20 mg 3 kali sehari; untuk efek yang segera pada angina: gigit kapsul dan telan dengan cairan.

Hipertensi ringan sampai sedang dan profilaksis angina: sediaan lepas lambat, 30 mg sekali sehari (tingkatkan bila perlu, maksimum 90 mg sekali sehari) atau 20 mg 2 kali sehari dengan atau setelah makan (awalnya 10 mg 2 kali sehari, dosis penunjang lazim 10-40 mg 2 kali sehari).

NIKARDIPIN

Indikasi: 

krisis hipertensi akut selama operasi, hipertensi dalam keadaan darurat.

Peringatan: 

pasien dengan gangguan fungsi hati atau ginjal, pasien dengan stenosis aorta. Tekanan darah dan denyut jantung harus terus dimonitor selama menggunakan obat ini.

Interaksi: 

beta bloker (propranolol, dll), fentanil, digoksin, dantrolen natrium, tandospiron sitrat, nitrogliserin, relaksan otot (pankuronium bromida, vekuronium bromida, dll), immunosupresan (siklosporin, takrolimus hidrat, dll), fenitoin, rifampisin, simetidin, intravena-protease inhibitor (sakuinavir, ritonavir, dll), antifungi azol (itrakonazol, dll), obat-obat hipotensif lainnya.

Kontraindikasi: 

pasien dengan hemostasis tidak lengkap yang diikuti dengan perdarahan intrakranial, pasien dengan tekanan intrakranial meningkat pada tahap akut stroke serebral, hipersensitif.

Efek Samping: 

ileus paralitik, hipoksemia, edema paru, dispnea, nyeri angina, trombositopenia, gangguan fungsi hati dan jaundice, takikardia, perubahan EKG, hipotensi; pada pasien dengan gagal jantung akut: meningkatkan tekanan arteri paru, penurunan indeks jantung, takikardia ventrikel dan sianosis; palpitasi, muka merah, extrasistol ventrikel, blokade atrioventrikel, malaise menyeluruh, disfungsi hati (peningkatan GOT dan GPT), peningkatan BUN atau kreatinin, erupsi, sakit kepala, peningkatan suhu tubuh, penurunan volume urin, penurunan kadar kolesterol dalam darah, rigor (kaku), back pain, peningkatan kadar serum kalium, flebitis.

Dosis: 

Nikardipin injeksi diencerkan dahulu dengan injeksi glukosa 5% atau larutan salin fisiologis hingga diperoleh 0,01%-0,02% larutan nikardipin hidroklorida (0,1-1,2 mg/mL). Untuk krisis hipertensi akut selama operasi, secara intra vena, dosis 2-10 mcg/kg bb/menit sampai tercapai tekanan darah yang diinginkan, dapat ditingkatkan dengan tetap memantau tekanan darah. Untuk pengurangan tekanan darah yang lebih cepat, dosis 10-30 mcg/kg bb/menit dapat digunakan. Hipertensi dalam keadaan darurat, secara intravena, dosis 0,5 mcg /kg bb/menit sampai tercapai tekanan darah yang diinginkan, dapat ditingkatkan dengan tetap memantau tekanan darah.

NIMODIPIN

Indikasi: 

pencegahan dan pengobatan gangguan neurologik iskemik setelah aneurism perdarahan subarachnoid.

Peringatan: 

edema serebral atau tekanan intrakarnial meningkat sangat tinggi; hipotensi; hindari pemberian bersama tablet dan infus nimodipin, antagonis kalsium lain, atau beta bloker; pemberian bersama obat nefrotoksik, kehamilan; hindari sari buah grapefruit (dapat mempengaruhi metabolisme), fungsi hati terganggu, fungsi ginjal terganggu.

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (antagonis kalsium), alkohol (hanya pada infus).

Kontraindikasi: 

selama 1 bulan mengalami infark miokard, angina tidak stabil.

Efek Samping: 

hipotensi, frekuensi jantung bervariasi, muka merah, sakit kepala, gangguan saluran cerna, mual, berkeringat, rasa hangat; dilaporkan trombositopenia dan ileus.

Dosis: 

pencegahan, oral 60 mg setiap 4 jam (dosis total sehari 360), mulai dalam waktu 4 hari setelah aneurism perdarahan subarachnoid dan teruskan selama 21 hari.


Pengobatan, secara infus intravena melalui kateter sentral awalnya 1 mg/jam (sampai 500 mg/jam jika berat badan kurang dari 70 kg atau jika tekanan darah tidak stabil), tingkatkan setelah 2 jam menjadi 2 mg/jam asalkan tidak terjadi penurunan tekanan darah hebat dan harus dilanjutkan paling sedikit 5 hari (maksimal 14 hari); jika dilakukan pembedahan selama pengobatan, lanjutkan paling sedikit 5 hari setelah pembedahan; waktu penggunaan maksimal 21 hari.