2.3.6 Antagonis Reseptor Angiotensin II

Losartan, valsartan, kandesartan, olmesartan, telmisartan, eprosartan dan irbesartan adalah antagonis reseptor angiotensin II. Sifatnya mirip dengan penghambat ACE, tetapi obat golongan ini tidak menghambat pemecahan bradikinin dan kinin-kinin lainnya, sehingga tidak menimbulkan batuk kering persisten yang biasanya mengganggu terapi dengan penghambat ACE. Karena itu, obat golongan ini merupakan alternatif yang berguna untuk pasien yang harus menghentikan penghambat ACE akibat batuk yang persisten. Antagonis reseptor angiotensin II digunakan sebagai alternatif dari penghambat ACE dalam tatalaksana gagal jantung atau nefropati akibat diabetes.

Peringatan: Antagonis reseptor angiotensin II harus digunakan dengan hati-hati pada stenosis arteri ginjal. Dianjurkan dilakukan pemantauan kadar kalium plasma, terutama pada pasien lansia dan pada pasien gangguan ginjal. Dosis awal yang lebih rendah mungkin sesuai untuk pasien ini. Antagonis reseptor angiotensin II harus digunakan dengan hati-hati pada stenosis pembuluh “mitral” atau aorta dan pada kardiomiopati hipertrofik obstruktif. Pasien Afro-Karibian, terutama yang mengalami hipertrofik ventrikel kiri tidak akan mendapat manfaat dengan pemberian antagonis reseptor angiotensin II.

Interaksi: lampiran 1 (sama dengan untuk penghambat ACE).

Kontraindikasi: kehamilan (sama dengan penghambat ACE, lampiran 4).

Efek Samping: biasanya ringan. Hipotensi simtomatik termasuk pusing dapat terjadi, terutama pada pasien dengan kekurangan cairan intravaskular (misal yang mendapat diuretika dosis tinggi). Hiperkalemia kadang-kadang terjadi; angioedema juga dapat terjadi pada beberapa antagonis reseptor angiotensin II.

Monografi: 

ALISKIREN

Indikasi: 

Hipertensi.

Peringatan: 

Pasien yang menggunakan diuretik, diet rendah natrium, atau dehidrasi (dosis pertama terjadi hipotensi); renal arteri stenosis; pasien dengan risiko kerusakan ginjal; monitor secara rutin kadar kalium dalam plasma dan fungsi ginjal, diabetes mellitus dan gagal jantung, angioedema kepala dan leher.

Interaksi: 

Furosemid; ketokonazol; diuretik hemat kalium, suplemen kalium, substitusi garam yang mengandung kalium atau obat lain yang meningkatkan serum kalium; pemberian bersama valsartan, metformin, amlodipin atau simetidin, atorvastatin mempengaruhi stedy state aliskiren tapi tidak dibutuhkan penyesuaian dosis aliskiren atau obat-obat tersebut.

Kontraindikasi: 

Hipersensitif; kehamilan dan menyusui; Aliskiren tidak dianjurkan digunakan pada kehamilan dan pada wanita yang merencanakan kehamilan.

Bila kehamilan terdeteksi maka pengobatan harus segera dihentikan. Hal ini berhubungan dengan kemungkinan interaksinya dengan RAS (Renin Angiotensin Sistem) yang berhubungan dengan malformasi fetal dan kematian neonatal.

Efek Samping: 

Diare, rash, kenaikan asam urat, gout, batu ginjal, angioedema, anaemia, hiperkalemia, sakit kepala, nasopharingitis, pusing, lemah, infeksi saluran nafas bagian atas, nyeri punggung, dan batuk.

Dosis: 

Dewasa > 18 tahun, Dosis awal 150 mg 1 kali sehari, jika tekanan darah tidak terkontrol, dosis ditingkatkan hingga 300 mg 1 kali sehari, diberikan tunggal atau kombinasi dengan antihipertensi lain, diberikan tidak bersama makanan. Tidak dianjurkan pemberian pada anak dan remaja di bawah 18 tahun, karena belum ada data keamanan dan khasiat yang memadai.

IRBESARTAN

Indikasi: 

Hipertensi, untuk menurunkan albuminurea mikro dan makro pada pasien hipertensi dengan diabetes mellitus tipe II yang mengalami netropati. Kombinasi dengan HCT: untuk pasien hipertensi dimana tekanan darahnya tidak dapat terkontrol dengan irbesartan atau HCT tunggal.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas; deplesi volume intravaskular, hipertensi renovaskular, gangguan fungsi ginjal dan transplantasi ginjal, hipertensi pada pasien diabetes mellitus tipe II dengan gangguan ginjal, hiperkalemia. Kombinasi dengan HCT (keterangan lihat HCT).

Interaksi: 

obat diuretika dan antihipertensi lain, suplemen kalium dan diuretika hemat kalium, AINS.

Pemberian bersamaan litium dengan angiotensin converting enzyme inhibitor dapat meningkatkan serum litium yang reversible dan toksisitasnya.

Obat-obatan yang dapat mempengaruhi kalium: kaliuretik diuretika lain, laksatif, amfotericin, karbenoksolon, penisilin G natrium, derivat asam salisilat.

Obat-obatan yang dipengaruhi oleh gangguan serum kalium: glikosida digitalis dan antiaritmia. Kombinasi dengan HCT (keterangan lihat HCT).

Kontraindikasi: 

lihat keterangan di atas; hamil (lihat lampiran 2) dan menyusui (lihat lampiran 4). Kombinasi dengan HCT (lihat keterangan HCT).

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; mual, muntah, lelah, nyeri pada otot; tidak terlalu sering: diare, dispepsia, kemerahan, takikardia, batuk, disfungsi seksual; jarang: ruam, urtikaria; sangat jarang: sakit kepala, mialgia, arthalgia, telinga berdenging, gangguan pencecap, hepatitis, disfungsi ginjal.

Kombinasi dengan HCT (keterangan lihat HCT).

Dosis: 

Hipertensi, dosis awal 150 mg sehari sekali, jika perlu dapat ditingkatkan hingga 300 mg sehari sekali. Pada pasien hemodialisis atau usia lanjut lebih dari 75 tahun, dosis awal 75 mg/hari dapat digunakan. Hipertensi pada pasien diabetes mellitus tipe II, dosis awal 150 mg sehari sekali dan dapat ditingkatkan hingga 300 mg sehari sekali sebagai dosis penunjang untuk pengobatan penyakit ginjal, pada pasien hemodialisis atau lansia di atas 75 tahun, dosis awal 75 mg sehari sekali.

  • Kombinasi Irbesartan/HCT 150mg/12.5 mg digunakan pada pasien hipertensi dimana tekanan darahnya tidak dapat terkontrol dengan Irbesartan 150 mg atau hidroklorotiazid tunggal.
  • Kombinasi Irbesartan/HCT 300mg/12.5 mg digunakan pada pasien hipertensi dimana tekanan darahnya tidak dapat terkontrol dengan Irbesartan 300 mg atau Irbesartan/HCT 150mg/12.5 mg.
  • Dosis yang lebih tinggi dari Irbesartan 300m /25 mg HCT sehari sekali tidak dianjurkan.

KANDESARTAN SILEKSETIL

Indikasi: 

hipertensi; kombinasi dengan HCT: Pengobatan hipertensi yang tidak dapat terkontrol dengan kandesartan sileksetil atau HCT sebagai monoterapi.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas; gangguan fungsi hati; gangguan fungsi ginjal (lampiran 1). Kombinasi dengan HCT (keterangan lihat HCT).

Interaksi: 

Kombinasi dengan HCT (keterangan lihat HCT).

Kontraindikasi: 

lihat keterangan di atas; menyusui (lampiran 4); kolestasis; kombinasi dengan HCT (keterangan lihat HCT).

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; juga vertigo, sakit kepala; sangat jarang mual, hepatitis, kerusakan darah, hiponatremia, nyeri punggung, sakit sendi, nyeri otot, ruam, urtikaria, rasa gatal.

Kombinasi dengan HCT (keterangan lihat HCT).

Dosis: 

hipertensi, dosis awal 8 mg (gangguan fungsi hati 2 mg, gangguan fungsi ginjal atau volume deplesi intravaskular 4 mg) sekali sehari, tingkatkan jika perlu pada interval 4 minggu hingga maksimal 32 mg sekali sehari; dosis penunjang lazim 8 mg sekali sehari.

Gagal jantung, dosis awal 4 mg sekali sehari, tingkatkan pada interval sedikitnya 2 minggu hingga dosis target 32 mg sekali sehari atau hingga dosis maksimal yang masih dapat ditoleransi.

Kombinasi dengan HCT: kandesartan sileksetil 16 mg + HCT 12,5 mg sekali sehari, dengan atau tanpa makanan.

Pasien usia lanjut, sebelum pengobatan dengan kombinasi harus dimulai dengan kandesartan sileksetil 2 mg tunggal untuk pasien >75 tahun, atau kandesartan sileksetil 4 mg tunggal untuk pasien < 75 tahun.

Pasien dengan gangguan fungsi ginjal, regimen lazim untuk kombinasi kandesartan sileksetil/HCT dapat diikuti selama kreatinin klirens di atas 30 mL/menit. Pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal yang lebih parah, diuretika kuat lebih disukai daripada tiazid, sehingga kombinasi kandesartan sileksetil/HCT tidak dianjurkan.

Pasien dengan gangguan fungsi hati, diuretika tiazid harus digunakan dengan hati-hati, oleh karenanya dosis harus diberikan dengan hati-hati.

LOSARTAN KALIUM

Indikasi: 

Hipertensi.

Peringatan: 

Gangguan fungsi hati dan ginjal, kehamilan, dan menyusui.

Interaksi: 

Rifampisin dan flukonazol: menurunkan level metabolit aktif. Diuretik hemat kalium, suplemen kalium, atau zat yang mengandung kalium: hiperkalemia. AINS: menurunkan efek antihipertensi, penurunan fungsi ginjal hingga gangguan ginjal akut pada pasien gangguan ginjal. ARB, penghambat ACE, aliskiren: meningkatkan risiko hipotensi, pingsan, hiperkalemia, dan perubahan fungsi ginjal.

Kontraindikasi: 

Hipersensitivitas, penggunaan bersama aliskiren pada diabetes.

Efek Samping: 

Umum: pusing.  Jarang: ruam, hepatitis, vaskulitis, trombositopenia, reaksi anafilaksis, angiodema, pembengkakan pada wajah, bibir, faring, dan/atau lidah, Tidak diketahui frekuensinya: batuk, gangguan fungsi hati, muntah, efek ortostatik bergantung dosis, malaise, anemia,migrain, dysgeusia, mialgia, artralgia, batuk, urtikaria, pruritus, eritroderma, fotosensitivitas, disfungsi ereksi/impoten. 

Dosis: 

Dosis umum: 50 mg sekali sehari, dapat ditingkatkan hingga 100 mg sekali sehari. Untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal sedang sampai berat, dialisis, deplesi cairan, dimulai dengan 25 mg sekali sehari.

OLMESARTAN MEDOKSOMIL

Indikasi: 

hipertensi.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas.

Kontraindikasi: 

lihat atas, kelainan fungsi hati, kelainan fungsi ginjal sedang sampai berat (lihat lampiran 3), kerusakan empedu, menyusui.

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas, nyeri abdomen, diare, dispepsia, mual, gejala influenza, batuk faringitis, rinitis, hematuria, infeksi saluran kencing, bengkak periferal, artritis, nyeri otot, gejala mirip jarang vertigo, ruam.

Dosis: 

awal 10 mg sekali sehari, jika perlu dapat dinaikkan menjadi 20 mg sekali sehari; dosis maksimum 40 mg sehari (lanjut usia, maksimum 20 mg sehari).

OLMESARTAN MEDOKSOMIL+AMLODIPIN BESILAT

Indikasi: 

hipertensi, pengalihan penggunaan kombinasi obat tunggal olmesartan medoksomil dan amlodipin besilat, hipertensi dengan kondisi tekanan darah tidak terkontrol dengan monoterapi olmesartan medoksomil atau amlodipin besilat, tidak boleh digunakan sebagai terapi awal.

Peringatan: 

kekurangan cairan intramuskular, hipertensi renovaskular, kerusakan ginjal dan tranplantasi ginjal, kerusakan hati, penyakit jantung obstruktif berat, aldosteronisme primer (obat tidak berespon menurunkan tekanan darah), angina dan infark miokard, gagal jantung kongestif, ras kulit hitam (efek penurunan tekanan darah dari olmesartan medoksomil lebih rendah dibanding selain ras kulit hitam), tidak boleh digunakan pada kehamilan trimester pertama, jika terjadi kehamilan pada masa penggunaan obat hentikan segera penggunaan obat, menyusui, perlu diwaspadai terjadinya efek samping dari masing-masing obat sebagai potensial risiko walau tidak ditemukan pada penggunaan kombinasi.

Interaksi: 

efek penurunan tekanan darah akan meningkat apabila digunakan bersama antihipertensi lain seperti alfa bloker atau diuretik, penggunaan olmesartan medoksomil bersama suplemen kalium atau diuretik hemat kalium tidak direkomendasikan karena dapat meningkatkan serum kalium, pemberian bersama AINS berisiko menimbulkan gagal ginjal akut dan menurunkan efek antihipertensi, setelah pemberian antasida (aluminium magnesium hidroksida), terjadi sedikit penurunan bioavailabilitas olmesartan, pemberian bersama litium dapat meningkatkan kadar serum litium, pemberian amlodipin grapefruit atau sari grapefruit tidak dianjurkan karena dapat meningkatkan bioavailabilitas amlodipin sehingga efek penurunan tekanan darah menjadi meningkat.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas, pasien berusia dibawah 18 tahun, kehamilan, pasien dengan gagal ginjal berat, pasien dengan kerusakan hati atau obstruksi saluran empedu, syok kardiogenik, infark miokard akut (rentang waktu 4 minggu), angina pektoris tidak stabil.

Efek Samping: 

umum: edema perifer, edema, kelelahan, pusing, sakit kepala;  tidak umum: hipertensi, palpitasi, takikardi, vertigo, mual, muntah, dispepsia, diare, konstipasi, mulut kering, nyeri abdomen atas, astenia, penurunan kalium darah, peningkatan kreatinin darah, peningkatan asam urat darah, peningkatan gamma glutamyl transferase, hiperkalemia, kram otot, nyeri ekstremitas, nyeri punggung, pusing postural, letargi, paraestesia, hipoestesia, penurunan libido, polakiuria, disfungsi ereksi, dispnea, batuk, ruam, hipotensi, hipotensi ortostatik; jarang: edema wajah, hipersensitivitas, pingsan, urtikaria.

Dosis: 

satu kali sehari satu tablet dengan kandungan 20 mg olmesartan medoksomil/5 mg amlodipin besilat sebelum atau sesudah makan, pasien dengan tekanan darah tidak cukup terkontrol dengan kombinasi olmesartan medoksomil/amlodipin besilat 20 mg/5 mg, maka direkomendasikan titrasi menjadi olmesartan medoksomil/amlodipin besilat 40 mg/5 mg. Kemudian, jika tekanan darahnya tidak cukup terkontrol dengan olmesartan medoksomil/amlodipin besilat 40 mg/5 mg, maka direkomendasikan titrasi menjadi olmesartan medoksomil/amlodipin besilat 40 mg/10 mg, pasien yang beralih dari penggunaan kombinasi obat tunggal olmesartan medoksomil dan amlodipin besilat, dosis disesuaikan dengan dosis olmesartan medoksomil dan amlodipin besilat yang telah diminum.

TELMISARTAN

Indikasi: 

Hipertensi essensial.

Peringatan: 

peningkatan risiko hipotensi pada stenosis arteri renal, gangguan fungsi ginjal – perlu dimonitor secara periodik kadar kalium dan kreatinin.

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (Antagonis reseptor angiotensin-II).

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas, kehamilan trimester dua dan tiga, menyusui, gangguan obstruktif empedu, gangguan hati berat.

Efek Samping: 

infeksi saluran kemih (termasuk sistitis), infeksi saluran napas atas, sepsis termasuk yang sifatnya fatal, anemia, eosinofilia, trombositopenia, reaksi anafilaksis, hipersensitivitas, hiperkalemia, hipoglikemia (pada pasien diabetes), insomnia, depresi, ansietas, pingsan, gangguan penglihatan, vertigo, bradikardi, takikardi, hipotensi, hipotensi ortostatik, dispnea, nyeri abdomen, diare, dispepsia, perut kembung, muntah, mulut kering, rasa tidak nyaman pada lambung, gangguan fungsi hati, pruritus, hiperhidrosis, ruam, angioedema, eksim, eritema, urtikaria, drug eruption, toxic skin eruption, nyeri punggung, spasme otot (kram pada kaki), myalgia, arthtralgia, nyeri pada ekstremitas (nyeri pada tungkai kaki), nyeri pada tendon (gejala seperti tendinitis), gangguan fungsi ginjal, termasuk gagal ginjal akut, nyeri dada, astenia, penyakit mirip influenza, peningkatan kadar kreatinin, penurunan hemoglobin, peningkatan asam urat, peningkatan enzim hepatik, peningkatan fosfokinase kreatin darah.

Dosis: 

40 mg sekali sehari, dapat diberikan 20 mg sekali sehari jika sudah memberikan efek, jika target tekanan darah belum tercapai, dosis dapat ditingkatkan hingga maksimum 80 mg sekali sehari, kombinasi telmisartan 40 mg/HCT 12,5 mg digunakan pada pasien hipertensi jika tekanan darah tidak dapat terkontrol dengan te lmisartan 40 mg tunggal, kombinasi telmisartan 80 mg/HCT 12,5 mg digunakan pada pasien hipertensi jika tekanan darah tidak dapat terkontrol dengan irbesartan 80 mg atau telmisartan 40 mg /HCT 12,5 mg.

TELMISARTAN+AMLODIPIN

Indikasi: 

hipertensi esensial, pada kondisi tekanan darah tidak terkontrol dengan amlodipin tunggal.

Peringatan: 

gangguan hati, hipertensi renovaskular, gangguan ginjal, hipovolemia intravaskular, aldosteronis primer, stenosis aorta dan mitral, kardiomiopati hipertropi, angina pektoris tidak stabil, infark miokard akut, hiperkalemia, diabetes mellitus, perlu diwaspadai terjadinya efek samping dari masing-masing obat sebagai potensial risiko walau tidak ditemukan pada penggunaan kombinasi.

Interaksi: 

antihipertensi lain dapat meningkatkan efek penurunan tekanan darah, alkohol, barbiturat, narkotik, antidepresan, kortikosteroid sistemik, grapefruit, diuretik hemat kalium, suplemen kalium, litium, AINS, penghambat atau penginduksi CYP3A4.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas, hipersensitivitas pada turunan dihidropiridin, kehamilan trimester kedua dan ketiga, menyusui, gangguan obstruksi empedu, gangguan hati berat, syok (termasuk syok kardiogenik), hipotensi berat, obstruksi saluran keluar ventrikel kiri, gagal jantung yang tidak stabil secara hemodinamik pasca infark miokard akut, penggunaan bersama dengan aliskiren pada diabetes mellitus atau gangguan fungsi ginjal.

Efek Samping: 

umum: pusing, edema perifer; tidak umum: somnolens, migrain, sakit kepala, paraestesia, vertigo, bradikardi, palpitasi, hipotensi, hipotensi ortostatik, kulit memerah, batuk, nyeri abdomen, diare, mual, pruritus, artralgia, kram otot, (kram pada kaki), mialgia, disfungsi ereksi, astenia, nyeri dada, letih, edema, peningkatan enzim hati; jarang: sistitis,depresi, ansietas, insomnia, pingsan, neuropati perifer, hipoestesia, disgeusia, tremor, muntah, hipertropi gusi, dispepsia, mulut kering, eksim, eritema, ruam kulit, nyeri punggung, nyeri pada esktremitas, nokturia, malaise, peningkatan asam urat darah.

Dosis: 

satu kali sehari satu tablet dengan kandungan 40 mg telmisartan/ 5 mg amlodipin, dosis maksimal satu tablet dengan kandungan 80  mg telmisartan/10 mg amlodipin per hari, penggunaan kombinasi ini untuk jangka panjang.

VALSARTAN

Indikasi: 

hipertensi (dapat digunakan tunggal maupun dikombinasi dengan obat antihipertensi lain); gagal jantung pada pasien yang tidak dapat mentoleransi obat penghambat ACE (penghambat enzim pengubah angiotensin).

Peringatan: 

lihat keterangan di atas; gangguan fungsi hati ringan sampai sedang; gangguan fungsi ginjal (lampiran 3); data keamanan dan khasiat pada anak-anak belum tersedia.

Interaksi: 

penggunaan bersama dengan penghambat ACE dan beta bloker tidak dianjurkan.

Kontraindikasi: 

lihat keterangan di atas; gangguan fungsi hati berat, sirosis, obstruksi empedu, menyusui (lampiran 4); hipersensitif terhadap komponen obat.

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; kelelahan, jarang diare, sakit kepala, mimisan; trombositopenia, nyeri sendi, nyeri otot, gangguan rasa, neutropenia.

Dosis: 

Hipertensi, lazimnya 80 mg sekali sehari; jika diperlukan (pada pasien yang tekanan darahnya tidak terkontrol) ditingkatkan hingga 160 mg sehari atau ditambahkan pemberian diuretika; tidak diperlukan penyesuaian dosis untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau pada pasien dengan gangguan fungsi hati tanpa kolestasis.

Gagal jantung, dosis awal 40 mg dua kali sehari. Penyesuaian dosis hingga 80 mg dan 160 mg dua kali sehari harus dilakukan pada dosis tertinggi yang dapat ditoleransi oleh pasien; pertimbangan untuk menguragi dosis harus dilakukan pada pasien yang juga menerima diuretika; dosis maksimal yang diberikan pada uji klinik adalah 320 mg pada dosis terbagi.

ALISKIREN HEMIFUMARAT+AMLODIPIN BESILAT

Indikasi: 

hipertensi yang tidak cukup terkontrol dengan monoterapi, terapi pengganti pada pasien yang menerima aliskiren dan amlodipin dalam sediaan terpisah.

Peringatan: 

gangguan fungsi hati; pasien berusia di bawah 18 tahun atau lebih dari 64 tahun; menyusui; diare berat dan persisten; infark miokard atau stroke; pasien yang mengalami kekurangan volume cairan atau sodium (misalnya karena penggunaan diuretik, diet rendah natrium, atau dehidrasi); pasien dengan gangguan fungsi ginjal; risiko disfungsi ginjal atau perubahan elektrolit serum; stenosis katup aorta dan mitral; kardiomiopati hipertrofi obstruktif; gagal jantung; reaksi anafilaktik dan angioedema; renal arteri stenosis.

Interaksi: 

AINS, siklosporin, furosemid, ketokonazol, verapamil, diuretik hemat kalium, suplemen kalium, substitusi garam yang mengandung kalium atau obat lain yang meningkatkan serum kalium, jus grapefruit, simvastatin, atorvastatin, penghambat CYP3A4 (diltiazem, itrakonazol, ritonavir).

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas terhadap zat aktif atau eksipien atau derivat dihidropiridin lainnya, kehamilan atau merencanakan hamil, penggunaan bersama dengan siklosporin, itrakonazol, kuinidin, verapamil, hipotensi berat, syok, obstruksi aliran darah keluar ventrikel kiri, gagal jantung tak stabil secara hemodinamik setelah mengalami infark miokard akut, penggunaan bersama penghambat ACE dan angiotensin II reseptor bloker pada pasien diabetes melitus tipe 2, kerusakan ginjal berat (GFR <30 mL/menit/1,73 m2, riwayat angioedema akibat aliskiren, angioedema idiopatik atau herediter, sedang mengalami diare berat dan persisten.

Efek Samping: 

sama dengan efek samping masing-masing monoterapi; umum: Diare, hiperkalemia, pusing, sakit kepala, mengantuk, palpitasi, kulit kemerahan, nyeri abdomen, mual, edema, kelelahan, artralgia; tidak umum: ruam, sindrom Stevens Johnson,  nekrolisis epidermal toksik, kerusakan ginjal, hipotensi, periferal edema, insomnia, perubahan suasana hati termasuk kecemasan, tremor, hipoestesia, disgeusia, parestesia, pingsan, diplopia, kerusakan penglihatan, tinnitus, dispnea, rinitis, muntah, dispepsia, mulut kering, konstipasi, alopesia, hiperhidrosis, pruritus, purpura, perubahan warna kulit, fotosensitivitas, nyeri punggung, spasme otot, mialgia, gangguan berkemih, nokturia, pollakiuria, ginekomastia, disfungsi ereksi, astenia, nyeri, malaise, nyeri dada, berat badan turun, berat badan naik; jarang: angioedema, penurunan hemoglobin, penurunan hematokrit, kenaikan kreatinin darah, gagal ginjal, hipersensitivitas; sangat jarang: leukositopenia, trombositopenia, reaksi alergi, hiperglikemia, hipertonia, neuropati perifer, aritmia, fibrilasi atrial, bradikardi, takikardi ventrikel, infark miokard, vaskulitis, batuk, pankreatitis, gastritis, hiperplasia gingiva, hepatitis, ikterus, urtikaria, erythema multiforme, kenaikan enzim hepatik.

Dosis: 

awal satu tablet sehari, aliskiren 150 mg+5 mg. Bila tekanan darah tetap tidak terkontrol setelah 2-4 minggu, dosis dapat dititrasi hingga maksimal satu tablet aliskiren 300 mg+10 mg