2.3.5 Penghambat ACE

Penghambat ACE bekerja dengan cara menghambat konversi angiotensin I menjadi angiotensin II. Obat-obat golongan ini efektif dan pada umumnya dapat ditoleransi dengan baik. Pada bayi dan anak-anak dengan gagal jantung, kaptopril biasanya merupakan obat utama. Penggunaannya pada anak harus dimulai oleh dokter spesialis dan dengan monitoring yang intensif.

Gagal Jantung. Pengobatan gagal jantung kronis bertujuan untuk mengurangi gejala, meningkatkan daya tahan saat berolah raga, mengurangi insiden eksaserbasi akut dan menurunkan tingkat kematian. Penghambat ACE digunakan pada semua tingkat keparahan gagal jantung, biasanya dikombinasikan dengan diuretika (lihat bagian 2.5). Suplemen kalium dan diuretika hemat kalium sebaiknya dihentikan penggunaannya sebelum memulai penggunaan penghambat ACE karena risiko hiperkalemia. Spironolakton mungkin bermanfaat pada gagal jantung berat dan dapat digunakan bersama dengan penghambat ACE dengan memantau kadar serum kalium dengan intensif. Hipotensi berat pada pemberian dosis pertama penghambat ACE dapat terjadi apabila diberikan pertama kali pada pasien dengan gagal jantung yang telah diberi dosis tinggi diuretika kuat sebelumnya (misalnya furosemid 80 mg sehari atau lebih). Penghentian sementara diuretika kuat dapat menurunkan risiko, namun kemungkinan dapat menyebabkan rebound edema paru berat. Oleh karena itu, pada pasien yang menggunakan dosis tinggi diuretika kuat, penghambat ACE perlu diberikan di bawah pengawasan dokter spesialis. Penghambat ACE dapat diberikan pada pasien yang menerima dosis rendah diuretika atau pada pasien yang tidak mempunyai risiko serius hipotensi. Namun, tetap diperlukan kehati-hatian dan diberikan dosis awal yang sangat rendah.

Hipertensi. Penghambat ACE merupakan terapi awal yang sesuai untuk hipertensi pada pasien Kaukasian berusia muda; tetapi pasien Afro-Karibian dan pasien yang berumur lebih dari 55 tahun memberikan respon yang kurang baik. Penghambat ACE terutama diindikasikan untuk hipertensi pada pasien diabetes yang tergantung pada insulin dengan nefropati. Pada beberapa pasien, obat ini menurunkan tekanan darah dengan sangat cepat terutama pada pasien yang juga mendapatkan terapi diuretika . Dosis pertama sebaiknya diberikan sebelum tidur. Pada anak, penghambat ACE harus dipertimbangkan untuk pengobatan hipertensi bila tiazid dan beta bloker dikontraindikasikan, tidak dapat ditoleransi, atau gagal mengendalikan tekanan darah. Pada beberapa pasien, penghambat ACE dapat menyebabkan penurunan tekanan darah yang sangat cepat. Karena itu, bila mungkin, terapi diuretika dihentikan untuk beberapa hari sebelum memulai terapi dengan penghambat ACE, dan dosis pertama sebaiknya diberikan sebelum tidur.

Profilaksis serangan jantung. Penghambat ACE digunakan dalam tata laksana awal dan jangka panjang pada pasien infark miokard. Penghambat ACE mencegah serangan jantung dan stroke pada pasien penyakit jantung koroner stabil dengan risiko tersebut.

Pemberian awal dibawah pengawasan dokter spesialis. Pemberian awal penghambat ACE harus dibawah pengawasan dokter spesialis dengan pemantauan klinis yang intensif pada pasien dengan gagal jantung yang berat atau pada pasien yang:

  • menerima beberapa macam obat atau terapi diuretika dosis tinggi (misalnya lebih dari 80 mg furosemid sehari atau setara dengan itu).
  • mengalami hipovolemia.
  • mengalami hiponatremia (kadar natrium dalam jaringan di bawah 90 mmHg).
  • menderita gangguan jantung yang tidak stabil.
  • menderita gangguan fungsi ginjal (kadar kreatinin dalam plasma di atas 150 mikromol/liter).
  • menerima terapi vasodilator dosis tinggi.
  • berumur 70 tahun atau lebih.

EFEK PADA GINJAL
Pada pasien dengan stenosis arteri ginjal bilateral yang berat atau stenosis arteri ginjal unilateral berat (hanya satu ginjal yang berfungsi), penghambat ACE mengurangi atau meniadakan filtrasi glomerulus sehingga menyebabkan gagal ginjal yang berat dan progresif. Karena itu, penghambat ACE dikontraindikasikan pada pasien yang memiliki penyakit renovaskuler kritis tersebut.

Penghambat ACE cenderung tidak mempunyai efek samping pada fungsi ginjal secara keseluruhan. Pada pasien dengan stenosis arteri ginjal unilateral berat dan kontralateral ginjal normal, filtrasi glomerulus dapat berkurang (atau bahkan ditiadakan) pada ginjal yang rusak dan efek jangka panjangnya belum diketahui.

Pada umumnya, penghambat ACE paling baik dihindarkan pada pasien yang diketahui atau diduga menderita penyakit renovaskuler, kecuali bila tekanan darah tidak dapat dikendalikan dengan obat lain. Bila terpaksa digunakan dalam situasi yang demikian, fungsi ginjal perlu dipantau.

Penghambat ACE juga harus digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan penyakit renovaskuler, yang tidak terdiagnosis dan tidak menunjukkan gejala, pasien dengan penyakit vaskuler perifer atau dengan aterosklerosis yang parah.

Fungsi ginjal dan elektrolit harus diperiksa sebelum memulai pengobatan dengan penghambat ACE dan dipantau selama pengobatan (harus lebih sering dilakukan bila terjadi pada keadaan-keadaan seperti tersebut di atas). Meskipun penghambat ACE saat ini menunjukkan peran khusus dalam beberapa bentuk penyakit ginjal, kadang-kadang obat-obat ini juga menyebabkan gangguan fungsi ginjal yang mungkin berkembang dan menjadi parah pada situasi yang lain (terutama pada pasien lansia). Pemberian bersama AINS meningkatkan risiko kerusakan ginjal, dan diuretika hemat kalium (atau suplemen garam kalium) meningkatkan risiko hiperkalemia.

Peringatan. Pada pasien yang sedang menggunakan diuretika, pemberian awal penghambat ACE perlu dilakukan dengan hati-hati. Dosis pertama dapat menyebabkan hipotensi terutama pada pasien yang sedang menggunakan diuretika dosis tinggi, diet rendah garam, dialisis, dehidrasi atau pasien dengan gagal ginjal (lihat keterangan di atas).

Penghambat ACE sebaiknya juga digunakan dengan hati-hati pada penyakit vaskuler perifer atau aterosklerosis yang mempunyai risiko penyakit renovaskuler (lihat juga keterangan di atas). Fungsi ginjal sebaiknya dipantau sebelum dan selama pengobatan, dan dosis diturunkan pada gangguan fungsi ginjal (lihat juga lampiran 3).

Risiko agranulositosis meningkat pada penyakit kolagen vaskuler (dianjurkan dilakukan hitung jenis darah). Penghambat ACE sebaiknya digunakan secara hati-hati pada pasien dengan stenosis aortik berat atau simtomatik (berisiko hipotensi), pada kardiomiopati obstruktif hipertrofi, pada pasien dengan riwayat idiopati, pada angioedema herediter, dan pada ibu yang menyusui (Lampiran 5).

Interaksi: Lampiran 1 (Penghambat ACE).

Reaksi anafilaksis. Untuk mencegah terjadinya reaksi anafilaksis, penghambat ACE sebaiknya dihindari selama dialisis dengan membran high-flux polyacrylonitrile dan selama apheresis lipoprotein densitas rendah dengan dekstran sulfat; penghambat ACE juga harus dihentikan sebelum desensitisasi dengan tawon atau sengat lebah.

Penggunaan bersama dengan diuretika. Penghambat ACE dapat menyebabkan penurunan tekanan darah yang sangat cepat pada pasien dengan kekurangan cairan; oleh karena itu pengobatan sebaiknya dimulai dengan dosis yang sangat rendah. Jika dosis diuretika lebih besar dari 80 mg furosemid atau ekivalen, penghambat ACE sebaiknya mulai diberikan di bawah pengawasan dokter spesialis dan pada beberapa pasien dosis diuretika mungkin perlu diturunkan atau dihentikan selama sekitar 24 jam sebelum pemberian penghambat ACE. Apabila terapi diuretika dosis tinggi tidak dapat dihentikan, diperlukan pemantauan secara intensif setelah pemberian dosis awal penghambat ACE, selama sekitar 2 jam atau sampai tekanan darah telah stabil.

Kontraindikasi. Penghambat ACE dikontraindikasikan pada pasien yang hipersensitif terhadap penghambat ACE (termasuk angioedema) dan pada pasien yang diduga atau dipastikan menderita penyakit renovaskuler (lihat juga keterangan di atas). Penghambat ACE tidak boleh digunakan pada wanita hamil (lihat Lampiran 4).

Efek samping. Penghambat ACE dapat menyebabkan hipotensi yang parah (lihat peringatan) dan gangguan fungsi ginjal (lihat efek pada ginjal di atas), dan batuk kering yang menetap. Penghambat ACE juga menyebabkan angioedema (mula kerja dapat tertunda), ruam kulit (pruritus dan urtikaria), pankreatitis dan gejala pada saluran pernafasan atas seperti sinusitis, rinitis, dan sakit tenggorok. Efek gangguan saluran cerna yang dilaporkan meliputi mual, muntah, dispepsia, diare, konstipasi, dan nyeri abdomen. Telah dilaporkan juga perubahan pada hasil tes fungsi hati, ikterus kolestatik dan hepatitis.

Hiperkalemia, hipoglikemi, dan kelainan darah termasuk trombositopenia, leukopeni, neutropenia, dan anemia hemolitik juga telah dilaporkan. Efek samping lain yang telah dilaporkan diantaranya sakit kepala, mengantuk, kelelahan, malaise, gangguan pengecapan, paraestesia, bronkospasme, demam, vaskulitis, mialgia, artralgia, antibodi antinuklir positif, peningkatan laju endap darah, eosinofilia, leukositosis, dan fotosensitivitas.

PRODUK KOMBINASI
Penggunaan sediaan kombinasi penghambat ACE dengan tiazid seharusnya dicadangkan bagi pasien yang efek penurunan tekanan darahnya tidak memberikan respons terhadap pemberian diuretika tiazid atau penghambat ACE tunggal.

Kombinasi penghambat ACE dan antagonis kalsium juga tersedia untuk pengobatan hipertensi. Bentuk kombinasi harus dipertimbangkan hanya jika pasien tidak mengalami perubahan pada pemberian tunggal dengan proporsi yang sama.

Neonatus. Respon neonatus terhadap pengobatan dengan penghambat ACE sangat bervariasi, dan beberapa neonatus mengalami hipotensi berat meskipun dengan dosis pemberian yang kecil; oleh karena itu harus diberikan dosis uji terlebih dahulu dan kewaspadaan harus ditingkatkan. Efek samping seperti apnea, kejang, gagal ginjal, dan hipotensi berat yang tidak terduga biasa terjadi pada neonatus usia satu bulan dan oleh karena itu sedapat mungkin dihindarkan penggunaan penghambat ACE, terutama pada neonatus yang baru lahir.

Monografi: 

BENAZEPRIL

Dosis: 

Dewasa 10 mg sekali sehari untuk pasien yang tidak menggunakan obat diuretika atau 5 mg 1 kali sehari bagi pasien yang menggunakan diuretika. Dosis penunjang 20-40 mg 1 kali sehari atau 2 dosis bagi yang sama (maksimum 80 mg/hari). Untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal (bersihan kreatinin kurang dari 30 mL/menit), dosis awal 5 mg 1 kali 1 hari, dosis penunjang 40 mg/hari

Keterangan: 

Penghambat ACE yang bekerja tidak langsung (prodrug), yaitu diesterifikasi di hati, atau mungkin di organ lainnya (ginjal, saluran cerna) menjadi bentuk aktifnya (benazeprilat)

DELAPRIL

Keterangan: 

Penghambat ACE yang bekerja tidak langsung

ENALAPRIL MALEAT

Indikasi: 

hipertensi; pengobatan gagal jantung simptomatik (tambahan); pencegahan gagal jantung simtomatik dan pencegahan kejadian iskemia koroner pada pasien dengan disfungsi ventrikel kiri.

Peringatan: 

lihat Kaptopril; gangguan hati.

Kontraindikasi: 

lihat Kaptopril.

Efek Samping: 

lihat Kaptopril.

Dosis: 

hipertensi, digunakan sendiri, dosis awal 5 mg sekali sehari; jika ditambahkan pada diuretika, pada usia lanjut, atau pada gangguan ginjal, awalnya 2,5 mg sehari; dosis penunjang lazim 10-20 mg sekali sehari; pada hipertensi berat dapat ditingkatkan sampai maksimal 40 mg sekali sehari.

Gagal jantung (tambahan), disfungsi ventrikel kiri yang asimtomatik, dosis awal 2,5 mg sehari di bawah pengawasan medis yang ketat; dosis penunjang lazim 20 mg sehari terbagi dalam 1-2 dosis.

FOSINOPRIL

Indikasi: 

Hipertensi (tetapi lihat peringatan dan keterangan di atas); gagal jantung kongestif (tambahan).

Peringatan: 

lihat pada Kaptopril dan keterangan di atas.

Kontraindikasi: 

lihat pada Kaptopril dan keterangan di atas.

Efek Samping: 

lihat pada Kaptopril dan keterangan di atas.

Dosis: 

Hipertensi, dosis awal dan dosis penunjang 10 mg/hari; maksimum 40 mg sekali sehari.

Catatan. Pada kasus hipertensi, jika digunakan sebagai tambahan pada penggunaan diuretika, hentikan pemakaian diuretika beberapa hari sebelum pemakaian obat ini dan lanjutkan setelah kira-kira empat minggu jika tekanan darah tidak cukup terkontrol (apabila terapi diuretika tidak bisa dihentikan, perlu ada pengawasan medis selama beberapa jam).

Gagal jantung (tambahan), dosis awal 10 mg sehari di bawah pengawasan ketat tenaga medis (lihat catatan di atas); jika dosis awal ditoleransi dengan baik, bisa dinaikkan sampai 40 mg sekali sehari.

IMIDAPRIL

Indikasi: 

hipertensi esensial.

Peringatan: 

lihat keterangan diatas; gangguan fungsi hati (lampiran 2).

Kontraindikasi: 

lihat keterangan diatas.

Efek Samping: 

lihat keterangan diatas; mulut kering, glositis, ileus, bronkitis, dispnea; gangguan tidur, depresi, bingung, penglihatan kabur, tinitus, impoten.

Dosis: 

Dosis awal, 5 mg sehari sebelum makan; jika digunakan sebagai terapi tambahan terhadap diuretika (lihat keterangan di atas), pada lansia, pada pasien gagal jantung, angina atau penyakit serebrovaskular, atau pada gangguan fungsi ginjal atau hati, dosis awal 2,5 mg per hari.

Jika perlu, dosis ditingkatkan dengan interval waktu sekurangnya 3 minggu; dosis penunjang lazim 10 mg satu kali sehari; maksimal 20 mg sehari (lansia, 10 mg sehari).

KAPTOPRIL

Indikasi: 

hipertensi ringan sampai sedang (sendiri atau dengan terapi tiazid) dan hipertensi berat yang resisten terhadap pengobatan lain; gagal jantung kongestif (tambahan); setelah infark miokard; nefropati diabetik (mikroalbuminuri lebih dari 30 mg/hari) pada diabetes tergantung insulin.

Peringatan: 

diuretika (lihat keterangan di atas); dosis pertama mungkin menyebabkan hipotensi terutama pada pasien yang menggunakan diuretika, dengan diet rendah natrium, dengan dialisis, atau dehidrasi; penyakit vaskuler perifer atau aterosklerosis menyeluruh karena risiko penyakit renovaskuler yang tidak bergejala; pantau fungsi ginjal sebelum dan selama pengobatan, dan kurangi dosis pada gangguan ginjal; mungkin meningkatkan risiko agranulositosis pada penyakit vaskuler kolagen (disarankan hitung jenis); reaksi anafilaktoid (lihat keterangan di bawah); menyusui; mungkin menguatkan efek hipoglikemi insulin atau antidiabetik oral.

REAKSI ANAFILAKTOID. Guna mencegah reaksi ini, penghambat ACE harus dihindarkan selama dialisis dengan membran high-flux polyacrilonitrile dan selama aferesis lipoprotein densitas rendah dengan dekstran sulfat.

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (penghambat ACE).

Kontraindikasi: 

hipersensitif terhadap penghambat ACE (termasuk angiodema); penyakit renovaskuler (pasti atau dugaan); stenosis aortik atau obstruksi keluarnya darah dari jantung; kehamilan (lihat lampiran 4); porfiria.

Efek Samping: 

hipotensi; pusing, sakit kepala, letih, astenia, mual (terkadang muntah), diare, (terkadang konstipasi), kram otot, batuk kering yang persisten, gangguan kerongkongan, perubahan suara, perubahan pencecap (mungkin disertai dengan turunnya berat badan), stomatitis, dispepsia, nyeri perut; gangguan ginjal; hiperkalemia; angiodema, urtikaria, ruam kulit (termasuk eritema multiforme dan nekrolisis epidermal toksik), dan reaksi hipersensitivitas (lihat keterangan di bawah untuk kompleks gejala), gangguan darah (termasuk trombositopenia, neutropenia, agranulositosis, dan anemia aplastik); gejala-gejala saluran nafas atas, hiponatremia, takikardia, palpitasi, aritmia, infark miokard, dan strok (mungkin akibat hipotensi yang berat), nyeri punggung, muka merah, sakit kuning (hepatoseluler atau kolestatik), pankreatitis, gangguan tidur, gelisah, perubahan suasana hati, parestesia, impotensi, onikolisis, alopesia.

KOMPLEKS GEJALA. Telah dilaporkan suatu kompleks gejala untuk penghambat ACE yang meliputi demam, serositis, vaskulitis, mialgia, artralgia, antibodi antinuklear positif, laju endap darah meningkat, eosinofilia, leukositosis; mungkin juga terjadi ruam kulit, fotosensitivitas atau reaksi kulit yang lain.

Dosis: 

hipertensi, digunakan sendiri, awalnya 12,5 mg 2 kali sehari; jika digunakan bersama diuretika (lihat keterangan), atau pada usia lanjut; awalnya 6,25 mg 2 kali sehari (dosis pertama sebelum tidur); dosis penunjang lazim 25 mg 2 kali sehari; maksimal 50 mg 2 kali sehari (jarang 3 kali sehari pada hipertensi berat).

Gagal jantung (tambahan), awalnya 6,25 - 12,5 mg di bawah pengawasan medis yang ketat (lihat keterangan di atas); dosis penunjang lazim 25 mg 2 - 3 kali sehari; maksimal 150 mg sehari.

Profilaksis setelah infark miokard pada pasien dengan disfungsi ventrikel kiri (asimtomatik atau simptomatik) yang stabil secara klinis, awalnya 6,25 mg, dimulai 3 hari setelah infark, kemudian ditingkatkan dalam beberapa minggu sampai 150 mg sehari (jika dapat ditolerir dalam dosis terbagi).

Nefropati diabetik, 75-100 mg sehari dalam dosis terbagi; jika diperlukan penurunan tekanan darah lebih lanjut, antihipertensi lain dapat digunakan bersama kaptopril; pada gangguan ginjal yang berat, awalnya 12,5 mg 2 kali sehari (jika diperlukan terapi bersama diuretika, sebaiknya dipilih diuretika kuat daripada tiazid).

KUINAPRIL

Indikasi: 

semua tingkat hipertensi; gagal jantung kongestif (tambahan).

Peringatan: 

lihat Kaptopril; gangguan hati.

Kontraindikasi: 

lihat Kaptopril.

Efek Samping: 

lihat Kaptopril.

Dosis: 

hipertensi, dosis awal 10 mg sekali sehari; dengan diuretika; pada usia lanjut atau pada gangguan ginjal, dosis awal 2,5 mg sehari; dosis penunjang lazim 20-40 mg sehari dalam dosis tunggal atau dalam 2 dosis bagi. Pernah diberikan sampai 80 mg sehari.

Gagal jantung (tambahan), dosis awal 2,5 mg di bawah pengawasan medis yang ketat; dosis penunjang lazim 10-20 mg sehari dalam dosis tunggal atau dalam 2 dosis bagi; pernah diberikan sampai 40 mg sehari.

LISINOPRIL

Indikasi: 

semua tingkat hipertensi; gagal jantung kongestif (tambahan); setelah infark miokard pada pasien yang secara hemodinamik stabil.

Peringatan: 

lihat Kaptopril.

Kontraindikasi: 

lihat Kaptopril.

Efek Samping: 

lihat Kaptopril.

Dosis: 

hipertensi, dosis awal 10 mg sehari; dosis penunjang lazim 20 mg sehari; maksimal 80 mg sehari.

Catatan. Pada hipertensi hentikan diuretika selama 2-3 hari sebelumnya dan jika perlu mulai lagi kemudian. Gagal jantung (tambahan), dosis awal 2,5 mg sehari di bawah pengawasan medis yang ketat; dosis penunjang 5-20 mg sehari. Profilaksis setelah infark miokard, sistolik lebih dari 120 mm Hg, 5 mg dalam 24 jam diikuti dengan 5 mg lagi 24 jam berikutnya, kemudian 10 mg setelah 24 jam berikutnya, dan lanjutkan dengan 10 mg sekali sehari selama 6 minggu (lanjutkan pada gagal jantung); sistolik 100-120 mmHg, dosis awal 2,5 mg, tingkatkan sampai dosis penunjang 5 mg sekali sehari.

Jangan dimulai jika tekanan darah sistolik kurang dari 100 mmHg; sementara waktu kurangi dosis penunjang sampai 2,5 mg sehari jika tekanan darah sistolik kurang dari sama dengan 100 mmHg selama pengobatan; hentikan jika terjadi hipotensi yang berkepanjangan (sistolik kurang dari 90 mmHg selama lebih dari 1 jam).

MOEKSIPRIL

Indikasi: 

hipertensi esensial.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas; gangguan fungsi hati (lampiran 2).

Kontraindikasi: 

lihat keterangan di atas.

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; aritmia, angina, nyeri dada, pingsan, gangguan serebrovaskular, infark miokard, perubahan nafsu makan dan berat badan, mulut kering, fotosensitivitas, wajah memerah, gugup, perubahan perasaan, ansietas, drowsines, gangguan tidur, tinitus, sindrom seperti flu, berkeringat, dan dispnea.

Dosis: 

Digunakan tunggal, dosis awal 7,5 mg satu kali sehari; jika digunakan sebagai tambahan pada diuretika (lihat keterangan diatas), dengan nifedipin, pada lansia, pada gangguan fungsi hati atau ginjal, dosis awal 3,75 mg; dosis lazim 15-30 mg satu kali sehari; dosis di atas 30 mg sehari tidak menghasilkan peningkatan efikasi.

PERINDOPRIL

Indikasi: 

hipertensi; gagal jantung kongestif (menurunkan kambuhan stroke dalam kombinasi dengan indapamid pada pasien dengan riwayat penyakit serebrovaskuler).

Peringatan: 

lihat kaptopril, kelainan fungsi hati, resiko hipotensi, gagal ginjal, angiodema.

Interaksi: 

lihat kaptopril, suplemen potasium.

Kontraindikasi: 

lihat kaptopril, anak-anak, kehamilan, pasien hemodialisis, menyusui, renal arteri stenosis, pasien dengan riwayat herediter/idiopatik angiodema yang berkaitan dengan penyakit yang melibatkan penghambat enzim pengkonversi.

Efek Samping: 

lihat kaptopril.

Dosis: 

Hipertensi, dosis yang dianjurkan 4 mg sebagai dosis tunggal sehari pada pagi hari; dapat ditingkatkan menjadi 8 mg dosis tunggal, jika perlu setelah 1 bulan terapi, pada pasien lansia dosis awal 2 mg sebagai dosis tunggal pada pagi hari, dapat ditingkatkan menjadi 4 mg jika perlu setelah 1 bulan terapi.

Gagal jantung , dosis awal 2 mg sehari dibawah pengawasan medis yang ketat, dapat ditingkatkan menjadi 4 mg jika perlu sesudah 1 bulan terapi.

Mengurangi stroke pada pasien dengan riwayat penyakit serebo vaskuler, dosis awal 2 mg sehari selama 2 minggu, dapat ditingkatkan menjadi 4 mg sehari sampai 2 minggu sebelum pemberian indapamide. Terapi dimulai setelah 2 minggu sampai beberapa tahun setelah serangan stroke awal.

Gagal ginjal, dosis ditingkatkan sesuai tingkat kerusakan ginjal.

RAMIPRIL

Indikasi: 

hipertensi ringan sampai sedang; gagal jantung kongestif (tambahan); setelah infark miokard pada pasien dengan gagal jantung yang terbukti secara klinis; pasien rentan usia diatas 55 tahun, pencegahan infark miokard, stroke, kematian kardiovaskular atau membutuhkan revaskularisasi.

Peringatan: 

lihat kaptopril, kerusakan hati.

Interaksi: 

lihat kaptopril.

Kontraindikasi: 

lihat kaptopril.

Efek Samping: 

lihat kaptopril.

Dosis: 

Jika respon pasien tidak memuaskan terhadap dosis 5-10 mg sehari, dianjurkan terapi kombinasi dengan antihipertensi lain seperti diuretika nonkalsium atau antagonis kalsium.

Gagal jantung, pasien dengan penyakit jantung berat, hipotensi, gangguan fungsi ginjal, gangguan elektrolit dan pasien dengan gagal jantung berat harus diawasi dengan pengawasan.

Pada kasus yang tidak kompleks, terapi dapat dimulai dengan 1 tablet 1,25 mg, diikuti oleh 1 tablet 1,25 mg dua kali sehari selama 2-7 hari. Minggu ke 2: 1 tablet 2,5 mg dua kali sehari. Minggu ke 3: 1 tablet 5 mg dua kali sehari. Jika dosis yang sesuai sudah dititrasi, dosis penunjang dapat diberikan sebagai dosis tunggal pada pagi hari atau sebagai dosis terbagi dua.

Pengurangan mortalitas (kematian) pada gagal jantung setelah fase infark miokard akut, terapi dimulai 3 hari pertama sesudah kejadian infark. Dosis awal yang sesuai 1,25-2,5 mg dua kali sehari dan terapi harus dilakukan dengan pengawasan tekanan darah dan fungsi ginjal yang ketat. Dosis ditingkatkan paling sedikit 2 hari menjadi 2,5-5 mg dua kali sehari dan target dosis 5 mg dua kali sehari dapat dicapai.

SILAZAPRIL

Indikasi: 

hipertensi esensial dan renovaskuler; gagal jantung kongestif (tambahan).

Peringatan: 

lihat Kaptopril.

Kontraindikasi: 

lihat Kaptopril.

Efek Samping: 

lihat Kaptopril.

Dosis: 

hipertensi, dosis awal 1 mg sekali sehari; pada yang menerima diuretika, pada usia lanjut, atau pada gangguan ginjal, dosis awal 0,5 mg sekali sehari; pada hipertensi renovaskuler, sirosis hati, dosis awal 0,25-0,5 mg sekali sehari; dosis penunjang lazim 1-2,5 mg sekali sehari; maksimal 5 mg sehari.

Catatan: hentikan diuretika selama 2 - 3 hari sebelumnya.

Gagal jantung (tambahan), dosis awal 0,5 mg sekali sehari di bawah pengawasan medis yang ketat, tingkatkan sampai 1 mg sekali sehari; dosis penunjang lazim 1-2,5 mg sehari; maksimal 5 mg sehari.

TRANDOLAPRIL

Indikasi: 

hipertensi, tidak digunakan untuk pengobatan awal hipertensi.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas, gangguan fungsi hati.

Interaksi: 

digitalis, litium, simetidin, beta bloker, antiaritmia (flekainid, kuinidin, nitrat, karbamazepin, rifampisin, fenobarbital, siklosporin, teofilin, inhalasi anastesi, zat penghambat neuromuskular).

Kontraindikasi: 

pasien yang hipersensitif terhadap penghambat ACE atau verapamil, riwayat angiodema.

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; takikardia, aritmia, angina, perdarahan otak, infark miokard, ileus, mulut kering, reaksi kulit termasuk Steven-Johnson syndrome, nekrolisis epidermal toksik, asthenia, alopesia, dispnea, dan bronkitis.

Dosis: 

hipertensi: dosis awal 500 mcg sekali sehari, ditingkatkan dengan interval waktu 2-4 minggu, dosis lazim 1-2 mg sekali sehari; maksimal 4 mg sehari; jika digunakan sebagai tambahan terhadap diuretika , lihat keterangan diatas;

Profilaksis setelah infark miokard (dimulai minimal 3 hari setelah infark), dosis awal 500 mcg sehari, ditingkatkan secara bertahap menjadi maksimal 4 mg sekali sehari.