2.3.3 Alfa Bloker

Doksazosin dan prazosin menghambat reseptor alfa pasca sinaptik dan menimbulkan vasodilatasi, namun jarang menyebabkan takikardi. Obat ini menurunkan tekanan darah dengan cepat setelah dosis pertama, sehingga harus hati-hati pada pemberian pertama. Peindoramin dan terazosin memiliki sifat yang serupa prazosin. Untuk pengobatan hipertensi yang resisten, alfa bloker dapat digunakan bersama obat antihipertensi lain.

Monografi: 

DOKSAZOSIN

Indikasi: 

Hiperplasia prostat jinak pada pasien yang memiliki riwayat hipertensi maupun tekanan darah normal.

Peringatan: 

Hipotensi postural/syncope, penggunaan bersama penghambat PDE-5, gangguan fungsi hati, gangguan fungsi ginjal, mengemudi atau mengoperasikan mobil, kondisi penyempitan saluran cerna yang berat, komplikasi Intraoperative Floppy Iris Syndrome pada operasi katarak. 

Interaksi: 

Obat hipertensi lain seperti terazosin dan prazosin, lihat lampiran 1 (alfa bloker).

Kontraindikasi: 

Usia <16 tahun, hipersensitivitas terhadap doksazosin, quinazolin, sumbatan pada saluran pencernaan, hiperplasia prostat jinak dengan riwayat hipotensi, pasien dengan riwayat hipotensi ortostatik, penyempitan atau penyumbatan dalam saluran kemih, infeksi saluran kemih yang sudah berlangsung lama, batu kandung kemih, dan inkontinensi luapan atau anuria dengan atau tanpa masalah ginjal.

Efek Samping: 

Serangan jantung, kelemahan pada lengan dan kaki atau kesulitan berbicara (gejala stroke), pembengkakan pada wajah, lidah, atau tenggorokan yang merupakan reaksi alergi, nyeri dada, angina, napas pendek, sulit bernapas, napas berbunyi, denyut jantung meningkat/menurun atau tidak beraturan, palpitasi, kemerahan atau gatal-gatal pada kulit, pingsan, kekuningan pada kulit atau mata, rendahnya jumlah sel darah putih atau trombosit. Umum: vertigo, sakit kepala, tekanan darah rendah, pembengkakan pada kaki, tumit, atau jari-jari, bronkitis, batuk, infeksi saluran napas, hidung tersumbat, bersin, hidung berair, nyeri lambung/abdominal, infeksi saluran kemih, inkontinensi urin, mengantuk, perasaan lemah, gangguan pencernaan, nyeri ulu hati, mulut kering, nyeri punggung, nyeri otot, gejala menyerupai pilek. Tidak umum: konstipasi, kembung, radang lambung dan usus yang menyebabkan diare dan muntah-muntah, nyeri atau merasa tidak nyaman ketika buang air kecil, buang air kecil lebih sering dari biasanya, adanya darah pada urin, radang pada persendian, nyeri persendian, nyeri umum, kurang tidur, gelisah, depresi, berkurang atau berubahnya rasa sentuhan atau sensasi pada tangan dan kaki, peningkatan nafsu makan atau hilangnya nafsu makan, berat badan naik, mimisan, telinga berdenging, tremor, kegagalan/ketidakmampuan mencapai ereksi penis, uji laboratorium abnormalitas fungsi hati. Sangat jarang: pingsan atau limbung akibat tekanan darah ketika bangkit berdiri dari posisi duduk atau berbaring, hepatitis atau gangguan empedu, urtikaria, kerontokan rambut, bercak merah atau ungu pada kulit, perdarahan di bawah kulit, kesemutan atau kekebasan pada tangan dan kaki, agitasi, kegelisahan, kelelahan, kram otot, lemah otot, pandangan kabur, wajah memerah, gangguan buang air kecil, buang air kecil di malam hari, peningkatan volume urin yang dikeluarkan, peningkatan produksi urin sehingga lebih sering buang air kecil, ketidaknyamanan atau pembesaran payudara pada pria, ereksi penis yang menetap dan terasa sakit. Frekuensi tidak diketahui: sperma yang diejakulasikan saat klimaks seksual menjadi sedikit atau tidak ada, urin keruh setelah klimaks seksual, masalah mata yang dapat timbul selama bedah mata untuk katarak.

Dosis: 

Hipertensi. 1 mg sehari, ditingkatkan setelah 1-2 minggu menjadi 2 mg sekali sehari, kemudian 4 mg sekali sehari, bila perlu. Maksimal 16 mg sehari. Hiperplasia prostat jinak (lihat 7.4.1).

Tablet pelepasan termodifikasi: 4 mg sehari, tablet ditelan utuh dan jika perlu dosis dapat ditingkatkan setelah 4 minggu menjadi 8 mg sehari.

INDORAMIN

Indikasi: 

hipertensi; hiperplasia prostat ringan.

Peringatan: 

hindari alkohol (meningkatkan kecepatan dan besarnya absorpsi); mengendalikan gagal jantung yang baru mulai dengan diuretika dan digoksin; gangguan hati atau ginjal; pasien usia lanjut; penyakit parkinson; epilepsi (kejang pada percobaan hewan); riwayat depresi.

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (alfa bloker).

Kontraindikasi: 

gagal jantung; pasien yang menerima MAOI.

Efek Samping: 

sedasi; juga pusing, depresi, gagal ejakulasi, mulut kering, kongesti nasal, efek ekstrapiramidal, kenaikan bobot badan.

Dosis: 

hipertensi, awalnya 25 mg 2 kali sehari, ditingkatkan 25-50 mg sehari dengan interval 2 minggu; dosis maksimal sehari 200 mg dalam 2-3 dosis terbagi.

PRAZOSIN HIDROKLORIDA

Indikasi: 

hipertensi; sindrom Raynaud; gagal jantung kongestif; hiperplasia prostat jinak.

Peringatan: 

dosis pertama dapat menyebabkan kolaps karena hipotensi (karena itu harus diminum sebelum tidur); usia lanjut; kurangi dosis awal pada gangguan ginjal; gangguan hati; kehamilan dan menyusui.

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (alfa bloker).

Kontraindikasi: 

tidak disarankan untuk gagal jantung kongestif akibat obstruksi mekanik (misal stenosis aortik).

Efek Samping: 

hipotensi postural, mengantuk, lemah, pusing, sakit kepala, tidak bertenaga, mual, palpitasi, sering kencing, inkontinesia dan priapismus.

Dosis: 

hipertensi, 0,5 mg 2-3 kali sehari selama 3-7 hari, dosis awal diberikan sebelum tidur; tingkatkan sampai 1 mg 2 - 3 kali sehari setelah 3-7 hari; bila perlu tingkatkan lebih lanjut sampai dosis maksimal 20 mg sehari.

Gagal jantung kongestif, 0,5 mg 2-4 kali sehari (dosis awal sebelum tidur), tingkatkan sampai 4 mg sehari dalam dosis terbagi Sindroma Raynaud, dosis awal 0,5 mg 2 kali sehari (dosis awal sebelum tidur); bila perlu setelah 3-7 hari ditingkatkan hingga dosis penunjang lazim 1-2 mg 2 kali sehari.

Hiperplasia prostat jinak ( lihat 7.4.1).

TERAZOSIN

Indikasi: 

hipertensi ringan sampai sedang; hiperplasia prostat jinak.

Peringatan: 

dosis pertama dapat menyebabkan kolaps karena hipotensi (dalam 30-90 menit, karena itu harus diminum sebelum tidur), (juga dapat terjadi dengan peningkatan dosis yang cepat); kehamilan.

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (alfa-bloker).

Efek Samping: 

mengantuk, pusing, tidak bertenaga, edema perifer, sering kencing, dan priapismus.

Dosis: 

hipertensi, 1 mg sebelum tidur; bila perlu dosis ditingkatkan menjadi 2 mg setelah 7 hari; dosis penunjang lazim 2-4 mg sekali sehari Hiperplasia prostat jinak (lihat 7.4.1).