2.12.1 Vasodilator Perifer

Sebagian besar penyakit vaskuler perifer yang parah, seperti klaudikasio intermiten, disebabkan oleh oklusi pembuluh darah, baik spasme maupun plak sklerotik. Perubahan gaya hidup meliputi berhenti merokok dan latihan fisik merupakan langkah yang paling penting dalam tatalaksana penyakit ini. Dosis rendah asetosal (75 mg per hari) sebaiknya diberikan sebagai profilaksis jangka panjang untuk mengatasi serangan kardiovaskuler dan statin (bagian 2.10.4) dapat diberikan apabila kolesterol serum total meningkat.

Naftidrofuril 200 mg tigakali sehari kemungkinan dapat meringankan gejala dan memperbaiki pain-free walking distance pada penyakit yang sedang, namun tidak diketahui apakah obat ini bermanfaat pada kesembuhan penyakit tersebut. Pasien yang mendapatkan pengobatan naftidrofuril harus dievaluasi perbaikannya setelah 3-6 bulan. Silostazol disarankan digunakan untuk klaudikasio intermiten, untuk memperbaiki jarak berjalan pada pasien tanpa nekrosis jaringan perifer dan pada pasien yang tidak menderita nyeri pada saat istirahat. Inositol nikotinat, pentoksifilin dan sinarisin belum diketahui efektivitasnya.

Kurangnya pasokan darah arteri di perifer dapat disebabkan oleh angioneuropati (kegagalan pengaturan sirkulasi akibat tidak sempurnanya pembuluh kecil bereaksi terhadap rangsang) atau angioorganopati (meliputi penyakit sumbatan arteri, angiitis, sumbatan pembuluh arteri karena emboli).

Penyebab penyakit sumbatan arteri terutama aterosklerosis dan tromboangiitis obliterans. Sindrom Raynaud meliputi episode vasospasme pada jari tangan dan kaki yang sering dikaitkan dengan paparan dingin Tatalaksana sindrom Raynaud meliputi menghindari udara dingin dan berhenti merokok. Gejala-gejala yang lebih parah mungkin memerlukan pengobatan dengan vasodilator, dan yang paling sering berhasil pada sindroma Raynaud primer.

Nifedipin (bagian 2.4.2) bermanfaat untuk menurunkan frekuensi dan keparahan serangan vasospastik. Sebagai alternatif, naftidrofuril dapat juga memperbaiki gejala penyakit; inositol nikotinat (derivat asam nikotinat) dapat dipertimbangkan juga. Sinarisin, pentoksifilin, dan prazosin belum diketahui efektivitasnya.

Efektivitas terapi menggunakan vasodilator pada anak-anak belum diketahui.

Monografi: 

NAFTIDROFURIL OKSALAT

Indikasi: 

penyakit pembuluh darah perifer; penyakit pembuluh darah perifer.

Efek Samping: 

mual, nyeri epigastrik, ruang kulit, hepatitis, gangguan hati.

Dosis: 

penyakit pembuluh darah perifer, 100-200 mg 3 kali sehari; penyakit pembuluh darah, 100 mg 3 kali sehari.

PENTOKSIFILIN

Indikasi: 

klaudikasi intermiten akibat oklusi arteri perifer kronis.

Peringatan: 

pasien yang alergi terhadap turunan xantin; mungkin mengurangi aras fibrinogen plasma; pada pasien yang juga menerima obat antihipertensi sebaiknya tekanan darahnya dipantau.

Efek Samping: 

lazim terjadi mual dan dispepsia; kurang lazim kembung, anoreksia, muntah; pusing, sakit kepala, muka merah; kadang-kadang insomnia, mengantuk, cemas, bingung; jarang terjadi palpitasi, angina, aritmia, hipotensi, dispnea, edema; juga pernah dilaporkan kolesistitis, hepatitis, pansitopenia, trombositopenia, purpurea, anemia aplastik; kadang-kadang juga terjadi pengelihatan kabur, ruam kulit, urtikaria, mulut kering, sumbatan nasal.

Dosis: 

400 mg 2-3 kali sehari setelah makan; jika dalam 1-2 minggu tidak ada perbaikan sebaiknya dihentikan; jika terjadi efek samping saluran cerna atau SSP berkembang sebaiknya dosis dikurangi menjadi 400 mg 1-2 kali sehari.

SINARIZIN

Indikasi: 

penyakit pembuluh darah arteri perifer; sindrom Raynaud.

Kontraindikasi: 

Penyakit Parkinson; hipotensi.

Efek Samping: 

hipotensi pada dosis besar, mengantuk, sakit kepala gangguan saluran cerna; jarang terjadi reaksi kulit alergik, letih.

Dosis: 

dosis awal 75 mg 3 kali sehari; dosis penunjang 75 mg 2-3 kali sehari.

TURUNAN ASAM NIKOTINAT

Indikasi: 

penyakit pembuluh darah perifer (untuk hiperlipidemia lihat bab 2.10.5).

Peringatan: 

diabetes.

Efek Samping: 

muka merah, pusing, mual muntah, hipertensi (lebih sering dengan asam nikotinat daripada turunannya); efek diabetogenik dilaporkan dengan asam nikotinat dan nikotinil alkohol; jarang terjadi perubahan fungsi hati (Pantau padan penggunaan dosis tinggi jangka panjang).

Dosis: 

inositol nikotinat, 1 g 3 kali sehari, jika perlu tingkatkan sampai 4 g sehari.

Nikotinil alkohol (sebagai tartrat) 25-50 mg 4 kali sehari.