2.10.4 Statin

Statin (atorvastatin, fluvastatin, pravastatin, rosuvastatin dan simvastatin) menghambat secara kompetitif koenzim 3-hidroksi-3-metilglutaril (HMG CoA) reduktase, yakni enzim yang berperan pada sintesis kolesterol, terutama dalam hati. Obat-obat ini lebih efektif dibandingkan obat-obat hipolipidemia lainnya dalam menurunkan kolesterol-LDL tetapi kurang efektif dibanding fibrat dalam menurunkan trigliserida.

Statin dapat mengurangi serangan penyakit kardiovaskular dan angka kematian pada orang dewasa, berapapun kadar kolesterol awal. Statin harus dipertimbangkan untuk semua pasien, termasuk untuk orangtua, dengan gejala penyakit kardiovaskular seperti penyakit jantung koroner (termasuk riwayat angina atau infark miokard akut), penyakit arteri oklusif (termasuk penyakit vaskuler perifer, stroke tanpa perdarahan, atau serangan iskemik transien).

Pada pasien diabetes mellitus, risiko peningkatan penyakit kardiovaskular tergantung pada lamanya dan komplikasi diabetes, usia dan faktor risiko yang menyertai. Terapi statin harus dipertimbangkan untuk semua pasien usia di atas 40 tahun dengan diabetes melitus tipe 1 dan 2. Pada pasien berusia muda dengan diabetes, pengobatan dengan statin harus dipertimbangkan jika terdapat kerusakan organ target, kontrol glikemi yang buruk (HbA C lebih besar dari 9%), kolesterol HDL yang rendah, peningkatan kadar trigliserida, hipertensi atau riwayat penyakit kardiovaskular dini dalam keluarga.

Statin juga digunakan untuk pencegahan serangan penyakit kardiovaskular pada individu dengan peningkatan risiko tanpa gejala. Individu dengan risiko penyakit kardiovaskular pada 10 tahun mendatang sebesar 20% atau lebih, akan mendapat manfaat dari pengobatan statin berapapun kadar kolesterolnya, penggunaan statin harus dikombinasikan dengan perubahan gaya hidup dan terapi lain untuk mengurangi risiko kardiovaskuler. Pengobatan dengan statin juga harus dipertimbangkan jika rasio kadar kolesterol total terhadap kolesterol HDL lebih dari 6.

Peringatan. Statin harus digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan riwayat penyakit hati atau peminum alkohol (hindari penggunaan pada penyakit hati yang aktif). Hipotiroidisme harus diatasi secara memadai sebelum memulai pengobatan dengan statin. Fungsi hati harus diukur sebelum dan selang 1-3 bulan sejak dimulainya pengobatan dan setelah pengobatan dengan selang 6 bulan sampai 1 tahun kecuali jika diindikasikan segera karena adanya gejala hepatotoksisitas. Obat harus dihentikan bila kadar transaminase serum meningkat hingga, dan bertahan pada 3 kali batas atas nilai normal. Statin harus digunakan hati-hati pada pasien dengan faktor risiko miopati atau rabdomiolisis. Pasien harus dinasehati untuk melaporkan nyeri  otot yang tidak dapat diketahui penyebabnya (lihat efek pada otot di bawah). Statin harus dihindari pada porfiria tapi rosuvastatin dianggap aman.

Interaksi: lampiran 1 (Statin).

Kontraindikasi: pasien dengan penyakit hati yang aktif dan pada kehamilan (karena itu diperlukan kontrasepsi yang memadai selama pengobatan dan selama 1 bulan setelahnya) dan menyusui (lihat lampiran 4 dan 5).

Efek Samping: Miositis yang bersifat sementara merupakan efek samping yang jarang tapi bermakna (lihat juga efek pada otot). Statin juga menyebabkan sakit kepala, perubahan fungsi ginjal dan efek saluran cerna (nyeri lambung, mual dan muntah). Statin juga menyebabkan sakit kepala, perubahan uji fungsi hati (hepatitis namun jarang terjadi), parestesia, dan efek pada saluran cerna meliputi nyeri abdomen, flatulens, konstipasi, diare, mual dan muntah. Ruam kulit dan reaksi hipersensitivitas (meliputi angioedema dan anafilaksis) telah dilaporkan namun jarang terjadi.

Efek pada otot. Bila diduga terjadi miopati dan terjadi peningkatan kadar kreatin kinase yang sangat tajam (lebih dari 5 kali batas atas nilai normal), atau terjadi gejala gangguan otot yang parah, maka statin harus dihentikan.

Pada pasien dengan risiko tinggi mengalami efek terhadap otot, statin tidak boleh mulai diberikan jika kadar kreatin kinase meningkat.

Insiden miopati meningkat bila statin diberikan pada dosis tinggi atau diberikan bersama fibrat, atau asam nikotinat pada dosis hipolipidemiknya, atau imunosupresan seperti siklosporin.

Diperlukan monitoring yang intensif terhadap fungsi hati dan jika ada gejala, pemantauan kadar kreatin kinase juga diperlukan pada pasien yang menerima obat ini.

Telah dilaporkan pula rabdomiolisis dengan gangguan fungsi ginjal akut akibat mioglobinuria

Saran. Pasien disarankan agar melaporkan dengan segera gejala nyeri otot, rasa kaku, atau rasa lemah otot yang tidak diketahui pasti penyebabnya.

Monografi: 

ATORVASTATIN

Indikasi: 

sebagai terapi tambahan pada diet untuk mengurangi peningkatan kolesterol total, c-LDL, apolipoprotein B dan trigliserida pada pasien dengan hiperkolesterolemia primer; kombinasi hiperlipidemia; hiperkolesteolemia heterozigous dan homozigous familial ketika respon terhadap diet dan pengukuran non farmakologi lainnya tidak mencukupi.

Pada pasien pediatrik (10-17 tahun): sebagai terapi tambahan pada diet untuk mengurangi kadar kolesterol total, c-LDL dan Apo-B pada laki-laki dan wanita yang telah mengalami menstruasi, usia 10-17 tahun, dengan hiperkolesteolemia heterozigous dan homozigous familial jika setelah trial yang cukup dari terapi diet, diketahui :

  • c-LDL tersisa ≥ 190 mg/dL atau
  • c-LDL tersisa ≥ 160 mg/dL atau

           -positif mempunyai keluarga dengan riwayat penyakit kardiovaskular prematur atau;

           -dua atau lebih faktor risiko CDV terdapat pada pasien pediatrik.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas.

Interaksi: 

antasid, antipirin, kolestipol, digoksin, eritromisin/klaritromisin, kontrasepsi oral, inhibitor protease.

Kontraindikasi: 

lihat keterangan di atas; hipersensitif.

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; juga insomnia, angio udema, anoreksia, asthenia, neuropati perifer, alopesia, pruritus, ruam, impoten, sakit dada, hipoglikemik dan hiperglikemik, trombositopenia jarang dilaporkan.

Dosis: 

Hiperkolesterolemia primer dan hiperlipidemia campuran, biasanya 10 mg sekali sehari, bila perlu dapat ditingkatkan dengan interval 4 minggu hingga maksimal 80 mg sekali sehari. Anak 10-17 tahun: dosis awal 10 mg sekali sehari (pengalaman terbatas dengan dosis diatas 80 mg sehari);

Hiperkolesterolemia turunan, dosis awalnya 10 mg sehari, tingkatkan dengan interval 4 minggu sampai 40 mg sekali sehari; bila perlu, tingkatkan lebih lanjut sampai maksimal 80 mg sekali sehari (atau dikombinasi dengan resin penukar anion pada hiperkolesterolemia turunan heterozigot). Anak 10-17 tahun hingga 20 mg sekali sehari (pengalaman terbatas dengan dosis lebih besar).

FLUVASTATIN

Indikasi: 

terapi tambahan pada diet untuk menurunkan kolesterol (kolesterol total, LDL, alipoprotein B, trigliserida) dan meningkatkan kolesterol HDL pada pasien dewasa dengan hiperkolesterolemia primer dan dislipidemia campuran. Terapi tambahan pada diet untuk menurunkan kolesterol pada pasien anak dengan hiperkolesterolemia familial heterozigot, usia 10-16 tahun sedikitnya satu tahun post menarche, di mana diet tidak memberikan hasil yang adekuat (LDL > 190 mg/dL atau LDL > 160 mg/dL atay bila ada riwayat keluarga positif penyakit kardiovaskular premature atau ada dua faktor risiko untuk penyakit jantung). Juga diindikasikan untuk memperlampat progresi aterosklerosis koroner pasien dewasa dengan hiperkolesterolemia primer dan disertai penyakit jantung koroner yang tidak dapat dikendalikan dengan diet saja.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas, penyakit liver aktif atau peningkatan serum transaminase persisten yang tidak dapat dijelaskan; kehamilan dan menyusui.

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; insomnia; Sangat jarang: dyasthesia, hypoesthesia, neuropati perifer, trombositopenia, vasculitis, eksim, dermatitis, bullous exanthema, dan sindrom seperti lupus erythematosus

Dosis: 

Sebelum memulai obat pasien sudah harus dalam pengaturan diet. Satu tablet sehari dapat diminum menjelang tidur, atau kapan saja. Dosis dapat dimulai dengan 40 mg sekali sehari, dan pada kasus ringan 20mg/hari. Efek klinik tercapai dalam 4 minggu. Dosis disesuaikan dengan kebutuhan pasien, dan perubahan dosis dilakukan setelah penggunaan 4 minggu atau lebih. Dosis maksimum yang direkomendasikan adalah 80 mg/hari. Anak. dosis yang dianjurkan 20 mg/hari, peningkatan dosis hanya dilakukan setelah evaluasi 6 minggu. Dosis maksimum 40 mg 2 kali sehari atau 80 mg 1 kali sehari.

LOVASTATIN

Dosis: 

oral, dewasa, dosis awal, 10 mg (kadar kolesterol total serum kurang dari 240 mg/dL) atau 20 mg (kadar kolesterol total serum lebih dari 240 mg/dL) sekali sehari pada waktu malam. Diet serat tinggi dapat merintangi absorpsi obat, oleh sebab itu diet tersebut harus dikonsumsi selama beberapa jam sebelum penggunaan obat. Rentang dosis yang disarankan adalah 20 mg hingga maskimum 80 mg/hari dalam dosis tunggal atau dosis terbagi. Dosis terbgai dapat lebih efektif. Pada pasien usia lanjut, efek terapi maksimum dicapai pada dosis kurang dari 40 mg/hari.

PITAVASTATIN

Indikasi: 

terapi tambahan selain diet untuk menurunkan kadar kolesterol total (TC), low-density lipopotrein cholesterol (LDL-C), apolipoprotein B (Apo B), trigliserid (TG), dan peningkatan HDL-C pada pasien dewasa dengan hiperlipidemia primer atau dislipidemia.

Peringatan: 

Tidak boleh menggunakan pitavastatin dengan dosis lebih dari 4 mg perhari, efek pada otot rangka, terdapat kasus miopati dan rabdomiolisis dengan gagal ginjal akut, kelainan enzim hati, peningkatan kadar HbA1c dan glukosa darah puasa.

Interaksi: 

siklosporin, lopinavir/ ritonavir, eritromisin, dan rifampisinmeningkatkan kadar pitavastatin, fibrat meningkatkan risiko miopati, niasin meningkatkan efek terhadap otot rangka.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas, penyakit hati, kehamilan atau akan hamil, menyusui, gagal ginjal berat (GFR < 30 mL/min/1,73 m2).

Efek Samping: 

nyeri punggung, konstipasi, diare, mialgia, nyeri ekstremitas.

Dosis: 

1-4 mg sehari dengan atau tanpa makanan. Dosis awal yang direkomendasikan  2 mg dan maksimum 4 mg sehari. Dosis tergantung pada karakteristik individu dan respon terapi. , Pada penderita gagal ginjal sedang (GFR 30 – 59 mL/min/1,73 m2) dan menjalani hemodialisis dosis 1 mg sehari, maksimum 2 mg sehari, Penggunaan bersama eritromisin 1 mg satu kali sehari, penggunaan bersama rifampisin 2 mg satu kali sehari.

PRAVASTATIN

Indikasi: 

Pasien hiperkolesterol tanpa bukti klinis penyakit jantung koroner, sebagai tambahan pada diet untuk mengurangi resiko infark miokardial, revaskularisasi miokardial, dan kematian kardiovaskular dengan tidak meningkatkan kematian bukan akibat kardiovaskular. Pasien hperkolesterol dengan bukti klinis penyakit jantung koroner, menurunkan resiko kematian total dengan menurunkan kematian koroner, infark miokardial, revaskularisasi miokardial, stroke dan memperlambat arterosklerosis koroner. Hiperlipidemia, sebagai tambahan pada diet untuk menurunkan kadar total C, LDL.C, Apo B dan TG yang tinggi pada pasien hiperkolesterol primer dan dislipidemia campuran (Frederickson type II A dan II B).

Peringatan: 

lihat keterangan di atas, kelainan fungsi ginjal, hamil dan menyusui, peningkatan level kreatinin fosfokinase dan transaminase, homozigot familial hiperkolesterol, kerusakan fungsi ginjal.

Interaksi: 

imunosupresan, gemfibrozil, asam nikotinat, eritromisin, inhibitor sitokrom P450 3A 4, kolestiramin, diitiazem, itrakonazol, antipirin.

Kontraindikasi: 

lihat keterangan di atas.

Efek Samping: 

lihat keterangan diatas; ruam kulit, nyeri dada, rasa lelah, pening, gangguan tidur, urinasi yang tidak normal (tidak urinasi, frekuensi urinasi, nokturia), disfungsi seksual, gangguan penglihatan, alopesia, sangat jarang ditemukan pankreatitis, kekuningan, nekrosis hepatik fulminan, neuropati perifer, sindroma lupus eritematosus sistemik.

Dosis: 

Sebelum menggunakan Pravastatin pasien harus diberikan diet rendah kolesterol yang diberikan terus selama pengobatan; awal 10, 20 atau 40 mg sehari, disfungsi hati dan ginjal. Pasien dengan riwayat disfungsi hati yang bermakna, dosis awal yang dianjurkan 10 mg perhari.

Efek maksimal dari dosis yang diberikan akan terlihat dalam jangka waktu 4 minggu, penetapan lipid secara periodik harus dilakukan pada saat ini dan dosis disesuaikan tergantung pada respon pasien pada terapi dan pedoman terapi yang ada.

Pasien yang mendapatkan imunosupresan seperti siklosporin bersamaan dengan pravastatin, terapi harus diawali dengan 10 mg pravastatin sekali sehari sebelum tidur dan titrasi menjadi dosis yang lebih besar harus dilakukan secara hati-hati. Kebanyakan pasien yang mendapatkan pengobatan dengan kombinasi ini mendapatkan dosis pravastatin 20 mg/hari.

ROSUVASTATIN KALSIUM

Indikasi: 

hiperkolesterol primer (tipe IIa termasuk heterozigot familial) atau dislipidemia campuran (tipe IIb) sebagai terapi tambahan jika upaya diet dan olah raga tidak mencukupi.

Interaksi: 

lihat lampiran 1, antagonis Vitamin K, gemfibrozil, siklosporin, antasida, enzim sitokrom P450, eritromisin, kontrasepsi oral.

Kontraindikasi: 

hipersensitif terhadap obat dan komponennya, penyakit liver aktif (termasuk peningkatan serum transaminase dan serum transaminase lain melebihi 3 kali batas normal yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya), miopati, memperoleh siklosporin, hamil dan menyusui.

Efek Samping: 

lihat di atas; sakit kepala, pusing, asthenia proteinuria, nyeri otot, konstipasi, mual, nyeri abdomen, jarang terjadi proteinuria, kuning, artralgia, jaundice, polineuropati. Rhabdomiolisis pernah dilaporkan pada pengunaan dosis 80 mg.

Dosis: 

Sebelum menggunakan Rosuvastatin pasien harus melakukan diet rendah kolesterol terus selama pengobatan. Dosis awal 10 mg sekali sehari jika perlu ditingkatkan menjadi 20 mg sekali sehari setelah 4 minggu; Dosis 40 mg sekali sehari hanya boleh diberikan pada pasien dengan hiperkolesterol berat (termasuk hiperkolesterol familial) yang tidak memberikan hasil dengan 20 mg.

SIMVASTATIN

Indikasi: 

hiperkolesterolemia primer (hiperlipidemia tipe Ila) pada pasien yang tidak cukup memberikan respons terhadap diet dan tindakan-tindakan lain yang sesuai; untuk mengurangi insiden kejadian koroner klinis dan memperlambat progresi aterosklerosis koroner pada pasien dengan penyakit jantung koroner dan kadar kolesterol 5,5 mmol/l atau lebih.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas gagal ginjal.

Kontraindikasi: 

lihat keterangan di atas; juga porfiria.

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; juga ruam kulit, alopesia, anemia, pusing, depresi, parestesia, neuropati perifer, hepatitis, sakit kuning, pankreatitis; sindrom hipersensitivitas (termasuk angioedema) jarang dilaporkan.

Dosis: 

Hiperkolesterolemia, 10 mg sehari malam hari, disesuaikan dengan interval tidak kurang dari 4 minggu; kisaran lazim 10-40 mg sekali sehari malam hari. Penyakit jantung koroner, awalnya 20 mg sekali sehari malam hari.