Gigitan Ular dan Sengatan Serangga

Gigitan ular. Gigitan ular dapat mengakibatkan efek lokal dan sistemik. Efek lokal antara lain nyeri, bengkak, memar, dan pembengkakan kelenjar limfa setempat. Efek sistemik meliputi gejala anafilaktoid awal (hipotensi sesaat disertai dengan sinkope, angioudem, urtikaria, kolik abdomen, diare, dan muntah), diikuti dengan hipotensi yang lama atau berulang, abnormalitas EKG, perdarahan sistemik spontan, koagulopati, adult respiratory distress syndrome, dan gagal ginjal akut. Jarang terjadi keracunan fatal, tetapi potensi untuk keracunan akut tidak boleh dianggap remeh.

Gejala anafilaktoid awal sebaiknya diobati dengan adrenalin (epinefrin). Indikasi pemberian antibisa ular meliputi gejala keracunan sistemik (systemic envenoming), khususnya hipotensi (lihat atas), abnormalitas EKG, muntah, abnormalitas hemostatik, dan gejala keracunan lokal (local envenoming) setelah gigitan pada tangan atau kaki, pembengkakan meluas hingga pergelangan atau tumit dalam waktu 4 jam. Untuk dewasa dan anak, isi satu vial 10 mL serum antibisa ular diberikan melalui injeksi intravena dalam 10-15 menit atau infus intravena dalam 30 menit setelah dilarutkan dalam infus 0,9 % NaCl intravena (gunakan 5 mL pelarut/kg bb). Dosis dapat diulang tiap 1-2 jam bila gejala sistemik berlanjut. Adrenalin (epinefrin) harus segera disuntikkan di lengan atas untuk mengatasi reaksi anafilaksis yang dapat timbul karena pemberian antibisa (untuk penjelasan lengkap lihat bagian 3.4.3). Serum antibisa tersedia untuk beberapa jenis ular. Untuk informasi tentang identifikasi, penatalaksanaan, dan persediaan dapat hubungi Sentra Informasi Keracunan.

Sengatan serangga. Sengatan semut dan lebah menyebabkan nyeri setempat dan bengkak, tetapi jarang menyebabkan keracunan langsung, kecuali disengat beberapa kali dalam waktu yang bersamaan. Jika sengatan terjadi di dalam mulut atau di lidah, pembengkakannya dapat mengganggu pernapasan. Sengatan serangga biasanya diatasi dengan membersihkan daerah yang disengat. Sengat lebah sebaiknya diambil secepatnya. Reaksi anafilaksis memerlukan injeksi adrenalin (epinefrin) intramuskular dengan segera; adrenalin intramuskular yang diberikan sendiri merupakan pertolongan pertama untuk pasien dengan hipersensitivitas berat. Bronkhodilator hirup sebaiknya digunakan pada reaksi asmatik. Untuk penanganan anafilaksis, lihat bagian 3.4.3. Penggunaan antihistamin oral atau kortikosteroid topikal dapat membantu mengurangi inflamasi dan meringankan gatal.

Sengatan hewan laut. Nyeri hebat akibat sengatan weeverfish (Trachinus vipera) dapat dikurangi dengan mencelupkan area yang tersengat dalam air hangat, bukan air mendidih, dengan temperatur tidak lebih dari 45oC. Orang yang tersengat ubur-ubur sebaiknya dikeluarkan dari air laut secepatnya. Tentakel yang menempel sebaiknya dilepaskan secara hati-hati (menggunakan sarung tangan atau penjepit) atau dibilas dengan air laut. Larutan alkohol termasuk minyak gosok (suntan lotion) tidak boleh digunakan karena dapat menyebabkan rambut penyengat semakin tertancap. Es dan sedikit natrium bikarbonat (baking soda) dapat mengurangi nyeri dan dapat berguna untuk penatalaksanaan sengatan beberapa jenis hewan, tetapi jangan menggunakan cuka.