Pestisida

Parakuat. Sediaan parakuat pekat yang mengandung 10-20% parakuat dan bersifat sangat toksik (misal Gramoxone), digunakan di bidang pertanian dan hortikultura. Sediaan granul, untuk penggunaan di kebun, hanya mengandung 2,5% parakuat dan menimbulkan sedikit kematian.

Parakuat mempunyai efek lokal dan sistemik. Bila terpercik ke mata, akan mengiritasi dan melukai kornea dan konjungtiva. Membilas mata dengan banyak air, akan membantu penyembuhan, tetapi memerlukan waktu lama. Iritasi kulit, kulit melepuh, dan tukak dapat timbul pada kontak yang lama, baik dengan larutan pekat ataupun bentuk yang diencerkan. Inhalasi dari semprotan, embun, atau debu yang mengandung parakuat dapat menyebabkan perdarahan hidung dan sakit tenggorokan, tetapi bukan merupakan toksisitas sistemik.

Tertelannya konsentrat parakuat diikuti dengan mual, muntah, dan diare. Tukak pada lidah, bibir, dan mulut yang sakit mungkin timbul setelah 36-48 jam bersamaan dengan terjadinya gagal ginjal. Beberapa hari kemudian mungkin timbul dispnea dengan fibrosis paru-paru akibat alveolitis dan bronkhiolitis proliferatif.

Pengobatan sebaiknya segera dimulai. Satu-satunya tindakan paling berguna adalah pemberian karbon aktif secara oral. Muntah dapat menghalangi penggunaan karbon aktif, oleh karena itu mungkin diperlukan antiemetik. Bilas lambung diragukan manfaatnya. Cairan intravena dan analgesik dapat diberikan jika perlu. Terapi oksigen sebaiknya dihindarkan pada tahap awal penanganan karena hal ini dapat memperberat kerusakan paru-paru, namun oksigen dapat diperlukan pada tahap akhir paliatif gejala. Tindakan untuk meningkatkan eliminasi parakuat yang terserap mungkin tidak berguna, tetapi sebaiknya didiskusikan dengan Sentra Informasi Keracunan yang akan memberi petunjuk untuk memprediksi hasil pemeriksaan kadar plasma. Penyerapan parakuat dapat dikonfirmasi dengan tes urin kualitatif.

Insektisida organofosfat. Insektisida organofosfat biasanya tersedia dalam bentuk bubuk atau terlarut dalam pelarut organik. Semua diserap melalui bronkus dan kulit, juga melalui usus. Aksinya menghambat aktivitas kolinesterase sehingga memperpanjang dan membuat efek asetilkolin lebih kuat. Toksisitas berbagai senyawa berbeda-beda, dan mula kerjanya mungkin tertunda pada pemaparan melalui kulit.

Ansietas, gelisah, pusing, sakit kepala, miosis, mual, hipersalivasi, muntah, kolik abdomen, diare, bradikardia, dan berkeringat adalah gejala umum keracunan organofosfat. Lemah otot dan fasikulasi dapat timbul dan berkembang ke flaccid paralysis (lemas) termasuk otot mata dan otot pernapasan. Konvulsi, koma, udem paru dengan sekret bronkus yang banyak, hipoksia, dan aritmia timbul pada kasus keracunan yang berat. Hiperglikemia dan glikosuria tanpa ketonuria mungkin dapat pula terjadi.

Penyerapan insektisida organofosfat lebih lanjut sebaiknya dicegah dengan jalan memindahkan pasien ke ruangan berudara segar, melepaskan pakaian yang terkontaminasi, dan mencuci kulit yang terkontaminasi. Pada keracunan berat, penting untuk menjaga saluran nafas agar tetap terbuka, pembersihan sekresi bronkus, dan ventilasi serta oksigenasi yang adekuat; bilas lambung dapat dipertimbangkan jika jalan napas sudah terlindungi.

Atropin akan melawan efek muskarinik dari asetilkolin, diberikan dalam dosis 2 mg (20 mcg/kg bb pada anak) sebagai atropin sulfat (intramuskular atau intravena tergantung dari seberapa parah keracunan) setiap 5–10 menit hingga kulit menjadi merah dan kering, pupil berdilatasi, dan timbul takikardia. Pralidoksim mesilat (P2S), suatu reaktivator kolinesterase, diindikasikan sebagai terapi tambahan dengan atropin pada keracunan moderat atau berat. Obat ini dapat meningkatkan tonus otot setelah 30 menit pemberian. Diperlukan pengulangan dosis; pada kasus berat diperlukan infus intravena. Pralidoksim mesilat dilanjutkan sampai pasien tidak lagi memerlukan atropin selama 12 jam.

Monografi: 

PRALIDOKSIM MESILAT

Indikasi: 

digunakan bersama dengan atropin pada pengobatan keracunan insektisida organofosfat atau nerve agent.

Peringatan: 

gangguan ginjal, miastenia gravis.

Kontraindikasi: 

keracunan karbamat dan senyawa organofosfat yang tidak memilki aktivitas antikolinesterase.

Efek Samping: 

rasa kantuk, pusing, gangguan penglihatan, mual, takikardia, sakit kepala, hiperventilasi, dan kelemahan otot.

Dosis: 

injeksi intravena lambat (dilarutkan dalam 10-15 mL aqua pro injection) diberikan dalam 5-10 menit, dosis awal 30 mg/kg bb diulang setiap 4-6 jam atau dengan infus intravena, 8 mg/kg bb/jam; biasanya dosis maksimum 12 g dalam 24 jam.