Sianida

Keracunan sianida berat diatasi dengan dikobalt edetat. Namun demikian, dikobalt edetat itu sendiri bersifat toksik dan terkait dengan reaksi anafilaktik; alternatifnya adalah natrium nitrit yang diikuti dengan natrium tiosulfat. Antidotum ini disimpan untuk keperluan darurat di rumah sakit, dan di tempat lain yang mempunyai risiko keracunan sianida, seperti pabrik dan laboratorium. Hidroksokobalamin merupakan antidotum alternatif, tetapi penggunaannya sebaiknya didiskusikan dengan Sentra Informasi Keracunan; dosis lazim adalah 70 mg/kg bb melalui infus intravena (diulang sekali atau dua kali sesuai dengan tingkat keracunannya).

Monografi: 

DIKOBALT EDETAT

Indikasi: 

keracunan akut sianida.

Peringatan: 

karena toksisitasnya, hanya digunakan untuk keracunan sianida disaat pasien menjelang kehilangan kesadaran, atau sudah kehilangan kesadaran; bukan untuk tindakan pencegahan.

Efek Samping: 

hipotensi, takikardia, muntah, reaksi anafilaktik meliputi udem pada wajah dan laring serta abnormalitas jantung.

Dosis: 

injeksi intravena, DEWASA 300 mg dalam 1 menit (5 menit bila kondisi tidak berat) disusul segera dengan 50 ml infus glukosa 50% intravena; jika tidak menunjukkan perbaikan yang adekuat, dapat diberikan dosis kedua untuk kedua sediaan tersebut; ANAK konsultasikan dengan Sentra Informasi Keracunan.

NATRIUM NITRIT

Indikasi: 

keracunan sianida (digunakan bersama natrium tiosulfat).

Efek Samping: 

wajah menjadi merah dan sakit kepala akibat vasodilasi.

Dosis: 

melalui injeksi intravena selama 5-20 menit (sebagai injeksi natrium nitrit 30 mg/mL), 300 mg (ANAK 4-10 mg/kg bb) dilanjutkan dengan natrium tiosulfat 12,5 gram (sebagai injeksi natrium tiosulfat 500 mg/mL) dengan injeksi intravena selama 10 menit (ANAK 400 mg/kg bb).

NATRIUM TIOSULFAT

Indikasi: 

keracunan sianida (digunakan bersama natrium nitrit).

Dosis: 

lihat pada Natrium Nitrit.