Pengeluaran dan Eliminasi Racun

Pengeluaran Racun dari Saluran Pencernaan
Bilas lambung jarang digunakan dan hanya digunakan untuk bahan yang tidak dapat dikeluarkan dengan cara lain (contohnya zat besi), tindakan ini hanya dipertimbangkan bila jumlah dan jenis bahan yang baru saja tertelan (<4 jam) dapat mengancam jiwa. Tindakan ini hanya dapat dilakukan bila jalan napas telah terlindungi dengan baik. Bilas lambung dikontraindikasikan pada kasus tertelannya bahan korosif dan destilat petroleum. Bilas lambung dapat dipertimbangkan pada kasus tertelan obat-obatan yang tidak diabsorbsi oleh arang, seperti zat besi atau litium. Induksi muntah (misal dengan menggunakan ipekak) tidak direkomendasikan karena tidak ada bukti yang menyatakan tindakan tersebut mempengaruhi absorpsi, serta tindakan tersebut meningkatkan risiko aspirasi.

Irigasi usus (whole bowel irrigation) menggunakan cairan pembersih usus, telah digunakan pada kasus keracunan obat lepas-lambat atau formula salut enterik, keracunan zat besi dan garam litium yang berat, dan pada kasus penyelundupan obat terlarang yang disembunyikan dalam saluran cerna (body-packing). Namun, masih belum jelas apakah tindakan tersebut memberi manfaat. Dianjurkan meminta informasi dari Sentra Informasi Keracunan.

Laksatif tunggal tidak memiliki peranan dalam penatalaksanaan keracunan pada anak dan bukan merupakan metode dekontaminasi usus yang direkomendasikan. Penggunaan laksatif rutin dikombinasikan dengan karbon aktif telah ditinggalkan. Laksatif tidak boleh diberikan kepada anak karena kemungkinan terjadinya ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.

Pencegahan Absorpsi Racun
Pemberian karbon aktif secara oral dapat mengikat banyak racun di dalam saluran pencernaan, dengan demikian dapat mengurangi penyerapan racun dalam tubuh. Lebih awal karbon aktif diberikan, lebih efektif hasilnya, namun karbon aktif masih efektif hingga 1 jam setelah racun tertelan dan bisa lebih lama lagi pada keracunan sediaan lepas-lambat atau keracunan obat yang bersifat antimus- karinik (antikolinergik). Karbon aktif relatif aman dan khususnya berguna untuk men- cegah penyerapan racun yang toksik dalam dosis kecil, misalnya antidepresan.

Teknik Eliminasi Aktif
Dosis berulang karbon aktif secara oral meningkatkan eliminasi beberapa obat setelah obat diserap; dosis yang berulang diberikan pada keracunan: karbamazepin, kuinin, dapson, eofilin Fenobarbital

Dosis lazim karbon aktif untuk dewasa mula-mula adalah 50 g kemudian 50 g setiap 4 jam. Muntah sebaiknya diterapi (misal dengan obat antiemetik) karena muntah dapat mengurangi efikasi dari terapi karbon aktif. Pada kasus intoleransi, dosis dapat dikurangi dan frekuensi ditingkatkan (misal 25 gram tiap 2 jam atau 12,5 gram tiap jam), namun hal ini juga dapat mempengaruhi efikasi.

Teknik lain yang dimaksudkan untuk meningkatkan eliminasi racun setelah penyerapan hanya dapat dilakukan di rumah sakit dan hanya cocok untuk sejumlah kecil pasien yang terkena keracunan berat. Selain itu, teknik ini hanya berguna untuk beberapa jenis racun saja.

Contohnya:

  • Hemodialisis untuk keracunan salisilat, fenobarbital, metilalkohol (metanol), etilen glikol, dan litium.
  • Alkalinisasi urin untuk keracunan salisilat dan herbisida fenoksiasetat (misal 2,4 asam dikloro-fenoksiasetat).

Diuresis paksa alkali tidak lagi dianjurkan.