15.2 Anestetik Lokal

Penggunaan anestetik lokal melalui injeksi atau dengan membubuhkannya pada membran mukosa untuk menghasilkan analgesik lokal dibahas pada bagian ini.

Juga lihat Bab 1 (saluran cerna) 11.1 (mata) 12.2 (orofaring) dan 13.3 (kulit).

 

PENGGUNAAN ANESTETIK LOKAL.
Anestetik lokal bekerja dengan cara menyebabkan blokade yang reversibel atas konduksi sepanjang serat saraf. Obat-obat yang dipakai berbeda dalam hal potensi, toksisitas, lama kerja, stabilitas, kelarutan dalam air, dan kemampuannya menembus membran mukosa. Keragaman sifat ini menentukan kesesuaian obat dalam berbagai cara pemberian, misalnya topikal (permukaan), infiltrasi, pleksus, epidural (ekstradural) atau blokade spinal. Anestetik lokal juga digunakan untuk penghilang nyeri pasca bedah, sehingga mengurangi kebutuhan analgesik seperti opioid.

PEMBERIAN. Dalam memperkirakan dosis yang aman, penting untuk mempertimbangkan kecepatan penyerapan dan ekskresi obat serta potensinya. Usia, berat tubuh, kondisi fisik, dan kondisi klinis pasien, derajat vaskularitas area yang akan diberi obat, dan lama pemberian anestetik adalah faktor lain yang harus dipertimbangkan.

Anestetik lokal tidak bergantung pada sirkulasi untuk mengangkutnya ke tempat kerja, tetapi uptake ke dalam sirkulasi sistemik penting dalam terminasi kerja obat dan dalam menimbulkan toksisitas. Setelah tindakan anestetik regional, umumnya kadar maksimum plasma arteri dari anestetik dicapai dalam waktu 10-25 menit, sehingga pengamatan seksama atas efek toksik adalah penting selama 30 menit pertama setelah injeksi. Penyuntikan harus sangat hati-hati untuk mencegah kesalahan penyuntikan intravaskular. Pemberian anestetik lokal daerah rongga mulut dapat mengganggu kemampuan menelan sehingga dapat meningkatkan risiko aspirasi.

Anestetik epidural biasa dipakai selama pembedahan, sering dikombinasi dengan anestetik umum, karena efek perlindungannya terhadap stress akibat pembedahan. Anestetik epidural sering dipakai ketika diperlukan analgesik pasca bedah yang baik (misalnya pada pembedahan aneurisme aorta atau pembedahan besar pada usus) dan pembedahan besar pada anak seperti ortopedik dan operasi abdomen.

TOKSISITAS. Efek toksik yang dikaitkan dengan anestetik lokal biasanya dihasilkan oleh kadar plasma yang sangat tinggi; pemberian tunggal lidokain topikal biasanya tidak menimbulkan efek samping sistemik. Efek pada awalnya meliputi perasaan mabuk dan tak bisa berpikir dengan jelas diikuti dengan sedasi, paraestesia di sekitar mulut, dan kedutan (twitching); konvulsi dapat timbul pada reaksi yang berat. Pada injeksi intravena, konvulsi dan kolaps kardiovaskuler cepat timbul. Reaksi hipersensitivitas timbul terutama dengan anestetik lokal tipe ester seperti ametokain, benzokain, kokain, dan prokain; reaksi lebih jarang timbul dengan tipe amida seperti lignokain, bupivakain, prilokain, dan ropivakain.

 Jika dibutuhkan analgesik yang lebih lama, gunakan anestetik lokal kerja panjang untuk meminimalisir kemungkinan toksisitas kumulatif sistemik. Anestetik lokal sebaiknya disuntikkan secara perlahan untuk mencegah kesalahan penyuntikan intravaskular. Anestetik lokal tidak boleh disuntikkan pada jaringan yang meradang atau terinfeksi, juga tidak boleh diberikan pada trauma uretra. Pada kasus seperti ini, absorpsi ke dalam darah dapat meningkat hingga efek samping sistemik. Efek dari anestetik lokal juga dipengaruhi oleh perubahan pH lokal.

PENGGUNAAN VASOKONSTRIKSI.

Kebanyakan anestetik lokal, kecuali kokain, menyebabkan dilatasi pembuluh darah. Penambahan vasokonstriksi seperti adrenalin mengurangi aliran darah setempat, menurunkan kecepatan absorbsi anestetik lokal, dan memperpanjang efek lokalnya. Penggunaan adrenalin untuk tujuan ini harus hati-hati karena, bila berlebihan, dapat terjadi nekrosis iskemik.

Adrenalin tidak boleh ditambahkan pada penyuntikan di jari dan appendages. Bila digunakan adrenalin, kadar akhirnya harus 1 dalam 200.000 (5 mcg/mL). Pada pembedahan dental, adrenalin dapat digunakan hingga 1 dalam 80.000 (12,5 mcg/mL) bersama dengan anestetik lokal. Tidak ada alasan untuk menggunakan kadar yang lebih tinggi.

Dosis total adrenalin tidak boleh melebihi 500 mcg dan penting untuk tidak melebihi kadar 1 dalam 200.000 (5 mcg/mL) bila cairan yang disuntikan lebih dari 50 mL. Untuk peringatan secara umum dalam penggunaan adrenalin, lihat 2.11.3. Untuk interaksi obat, lihat Lampiran 1 (simpatomimetik).