PELEMAS OTOT DEPOLARISASI

Suksametonium adalah obat dengan mula kerja paling cepat di antara seluruh pelemas otot. Dengan mula kerja yang cepat dan lama kerja yang singkat, obat ini sesuai untuk tindakan seperti intubasi trakea. Lama kerjanya 2-6 menit setelah pemberian injeksi intravena (dosis 1 mg/kg); dapat diberikan berulang untuk tindakan yang lebih lama. Bayi dan anak kurang peka sehingga mungkin diperlukan dosis suksametonium yang lebih tinggi. Obat ini bekerja dengan meniru asetilkolin pada taut saraf otot tetapi hidrolisisnya lebih lambat daripada asetilkolin; oleh karena itu depolarisasi diperlama sehingga terjadi blokade neuromuskuler. Berbeda dengan pelemas otot non depolarisasi, suksametonium efeknya tidak dapat dilawan dan pemulihannya spontan; antikolinesterase seperti neostigmin memperkuat blokade neuromuskular.

Suksametonium sebaiknya diberikan setelah induksi anestesia karena paralisis biasanya didahului oleh fasikulasi otot yang nyeri. Takikardia timbul saat penggunaan tunggal, bradikardia timbul saat penggunaan berulang pada orang dewasa dan saat dosis pertama pada anak-anak. Premedikasi dengan atropin akan mengurangi bradikardia dan hipersalivasi yang timbul akibat penggunaan suksametonium.

Paralisis berkepanjangan dapat timbul pada blok ganda, yang terjadi setelah penggunaan suksametonium dosis tinggi atau berulang, hal ini disebabkan oleh timbulnya blokade nondepolarisasi mengikuti blokade depolarisasi awal. Edrofonium dapat digunakan untuk memastikan diagnosis terjadinya blok ganda. Pasien dengan miastenia gravis resisten terhadap suksametonium, namun dapat mengalami blok ganda sehingga pemulihan tertunda. Paralisis berkepanjangan juga dapat timbul pada pasien dengan kadar kolinesterase yang rendah atau plasma kolinesterase atipikal. Bantuan pernafasan sebaiknya terus dilanjutkan hingga fungsi otot pulih.

Monografi: 

SUKSAMETONIUM KLORIDA (SUKSINILKOLIN KLORIDA)

Indikasi: 

pelemas otot depolarisasi dengan kerja singkat.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas; kehamilan (lihat Lampiran 4); pasien dengan penyakit jantung, saluran nafas atau neuromuskular; peningkatan tekanan intra okuler (hindari penggunaan pada mata yang luka); sepsis berat (risiko hiperkalemia).

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (pelemas otot).

Kontraindikasi: 

riwayat keluarga dengan hipertermia ganas, aktivitas kolinesterase plasma rendah (termasuk penyakit hati berat) (Lampiran 2), hiperkalemia; trauma berat, luka bakar yang parah, penyakit neurologikal termasuk acute wasting of major muscle, imobilisasi yang diperlama-berisiko menyebabkan hiperkalemia, riwayat penyakit congenital myotonic pada diri sendiri atau keluarga, Duchenne muscular dystrophy.

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; juga nyeri otot pasca pembedahan, mioglobinemia; takikardi, aritmia, tahanan jantung, hipertensi, hipotensi; bronkospasme, apnea, depresi saluran nafas yang diperlama, reaksi anafilaksis; hiperkalemia; hipertermia; tekanan lambung meningkat; ruam, flushing.

Dosis: 

dengan injeksi intravaskular, DEWASA 600 mcg/kg bb (rentang dosis 0,3-1,1 mg/kg bb tergantung pada derajat relaksasi yang dibutuhkan); dosis lazim 20-100 mg; BAYI di bawah 1 tahun, 2 mg/kg bb; ANAK: 1-12 tahun, 1-2 mg/kg bb.
Dengan infus intravena, sebagai cairan 0,1%, 2-5 mg/menit (2-5 mL/menit).