15.1.4.3 Analgesik Opioid

Analgesik opioid saat ini jarang digunakan sebagai premedikasi; analgesik opioid lebih sering digunakan saat induksi. Penggunaan analgesik opioid peri-operatif biasanya terbatas untuk pasien-pasien yang membutuhkan pengendalian rasa nyeri yang memang telah ada sebelumnya. Efek samping utama dari analgesik opioid adalah depresi pernafasan, depresi kardiovaskular, serta mual dan muntah; catatan umum untuk analgesia opioid dan penggunaannya untuk nyeri peri-operatif llihat bab 4.7.2. Untuk terapi depresi pernafasan yang diinduksi oleh penggunaan opioid, lihat bab 15.1.7.

ANALGESIA SAAT PEMBEDAHAN. Pemberian dosis kecil analgesik opioid segera sebelum atau bersama dengan induksi akan menurunkan kebutuhan dosis obat lain yang digunakan selama anestesia. Petidin, morfin dan papaverum telah digunakan untuk tujuan yang sama, namun saat ini obat-obatan kerja singkat dan yang lebih poten seperti alfentanil, fentanil, dan remifentanil lebih banyak dipilih.

Alfentanil, fentanil, dan remifentanil amat berguna karena bekerja dalam waktu 1-2 menit dan mempunyai durasi yang singkat. Dosis awal alfentanil dan fentanil diikuti dengan injeksi intravena atau infus intravena selanjutnya. Pemberian infus yang diperlama akan meningkatkan durasi efek obat. Dosis berulang alfentanil dan fentanil selama operasi sebaiknya diberikan dengan hati-hati karena depresi pernafasan yang terjadi dapat terus berlanjut pada masa pasca bedah dan kadang dapat menjadi semakin nyata pada periode pasca bedah tersebut jika monitor tidak dilakukan dengan intensif. Berbeda dengan opioid lainnya yang dimetabolisme di hati, remifentanil dimetabolisme dengan cepat oleh esterase non-spesifik dalam darah dan jaringan; durasi yang singkat memungkinkan penggunaan remifentanil jangka panjang pada dosis tinggi, tanpa menimbulkan akumulasi dan dengan risiko depresi pernafasan sisa pasca bedah yang kecil. Remifentanil tidak boleh diberikan secara injeksi bolus, tetapi melalui infus kontinu. Analgesik tambahan akan dibutuhkan setelah infus dihentikan.

Monografi: 

ALFENTANIL

Indikasi: 

analgesia khusus untuk pembedahan singkat dan pembedahan rawat jalan; memperdalam anestesia; analgesia dan menekan aktivitas napas pada pasien dalam perawatan intensif dengan pernapasan buatan, digunakan sampai 4 hari.

Peringatan: 

lihat di bawah garam morfin (bagian 4.7.2) dan keterangan di atas.

Kontraindikasi: 

lihat bagian 4.7.2 dan keterangan di atas.

Efek Samping: 

lihat bagian 4.7.2 dan keterangan di atas; juga hipertensi, myoclonic movements; tidak umum aritmia, batuk, hiccup, laryngospasm, gangguan penglihatan.

Dosis: 

melalui injeksi intravena, respirasi spontan, DEWASA, dosis awal hingga 500 mcg dalam 30 detik; dapat ditambah 250 mcg Dengan napas buatan, DEWASA dan ANAK, dosis awal 30-50 mcg/kg bb; sebagai tambahan, 15 mcg/kg bb.
Melalui infus intravena, dengan napas buatan, DEWASA dan ANAK, dosis awal 50-100 mcg/kg bb dalam 10 menit atau sebagai bolus, dilanjutkan dengan pemeliharaan 0.5-1 mcg/kg bb/menit. Analgesia dan penekanan aktivitas respirasi selama perawatan intensif, dengan napas buatan, melalui infus intravena, dosis awal 2 mg/jam (kira-kira 30 mcg/kg bb/jam) kemudian diatur sesuai dengan respons (dosis lazim 0,5-10 mg/jam); pengendalian awal yang lebih cepat dapat dicapai dengan dosis intravena 5 mg diberikan dalam dosis terbagi selama 10 menit (lebih perlahan bila timbul hipotensi atau bradikardi); dosis tambahan 0,5-1 mg dapat diberikan melalui injeksi intravena dalam tindakan singkat yang menimbulkan rasa sakit.

FENTANIL

Indikasi: 

analgesia selama pembedahan, memperdalam anestesia; depresan respirasi pada ventilasi buatan.

Peringatan: 

lihat pada garam morfin (bagian 4.7.2) dan keterangan di atas.

Kontraindikasi: 

lihat bagian 4.7.2 dan keterangan di atas.

Efek Samping: 

lihat bagian 4.7.2 dan keterangan di atas; juga myoclonic movements; tidak umum laryngospasm; jarang asistol, insomnia.

Dosis: 

melalui injeksi intravena, dengan napas spontan, 50-200 mcg, kemudian 50 mcg sesuai dengan kebutuhan; ANAK: 3-5 mcg/kg bb, kemudian 1 mcg/kg bb sesuai dengan kebutuhan. Dengan napas buatan, 0,3-3,5 mg; kemudian 100-200 mcg sesuai dengan kebutuhan; anak: 15 mcg/kg bb, kemudian 1-3 mcg/kg bb sesuai dengan kebutuhan.

MORFIN SULFAT

Indikasi: 

analgesia selama dan setelah pembedahan; memperdalam anestesia; sedatif prabedah; analgesia pada situasi lain, lihat 4.7.2.

Peringatan: 

lihat 4.7.2 dan keterangan di atas.

Kontraindikasi: 

lihat 4.7.2 dan keterangan di atas.

Efek Samping: 

lihat 4.7.2 dan keterangan di atas.

Dosis: 

injeksi subkutan atau intramuskular, hingga 10 mg, 1-1,5 jam sebelum pembedahan; ANAK, melalui injeksi intramuskular, 150 mcg/kg bbNyeri pasca bedah, melalui injeksi subkutan atau intramuskular, 10 mg tiap 2-4 jam bila perlu (15 mg untuk pasien yang lebih berat dan berotot); ANAK hingga 1 bulan 150 mcg/kg bb, 1?2 bulan 200 mcg/kg bb, 1-5 tahun 2,5-5 mg, 6-12 tahun 5-10 mg.
Catatan. Dalam periode pasca bedah, pasien harus dimonitor secara ketat untuk rasa sakitnya, juga untuk efek samping petidin khususnya depresi napas.Lihat juga 4.7.2 untuk analgesia.

PETIDIN HIDROKLORIDA

Indikasi: 

analgesia perioperatif; premedikasi; analgesia dalam situasi lain, lihat 4.7.2.

Peringatan: 

konvulsi dapat timbul dengan dosis berlebihan; lihat 4.7.2 dan keterangan di atasCatatan. Pada periode pasca bedah, pasien harus dimonitor secara ketat untuk rasa sakitnya, juga untuk efek samping petidin khususnya depresi napas.

Kontraindikasi: 

lihat 4.7.2 dan keterangan di atas.

Efek Samping: 

lihat 4.7.2 dan keterangan di atas.

Dosis: 

premedikasi, dengan injeksi intramuskular, 25-100 mg 1 jam sebelum pembedahan; anak: 0,5-2 mg/kg bbDigunakan bersama dinitrogen monoksida-oksigen, secara injeksi intravena perlahan, 10-25 mg diulang bila diperlukan.
Nyeri pasca bedah, dengan injeksi subkutan atau intramuskular, 25-100 mg, tiap 2-3 jam bila perlu; anak:, dengan injeksi intramuskular, 0,5-2 mg/kg bbLihat juga 4.7.2 untuk analgesia.