15.1.4.2 Analgesik Non-Opioid

Karena AINS tidak menghambat respirasi, tidak mengganggu motilitas gastrointestinal, dan tidak menyebabkan ketergantungan, obat golongan ini dapat merupakan alternatif (atau sebagai tambahan) yang berguna pada penggunaan opioid untuk menghilangkan nyeri pasca bedah .Obat golongan ini mungkin tidak adekuat sebagai penghilang nyeri yang hebat.

Diklofenak, flurbiprofen, ibuprofen, ketoprofen (lihat 10.1.1), parekoksib dan ketorolak digunakan untuk penggunaan pasca bedah. Diklofenak, ketoprofen dan ketorolak dapat diberikan sebagai injeksi, dan per oral. Injeksi intramuskular diklofenak dan ketoprofen diberikan di otot gluteal (dalam) untuk mengurangi rasa sakit dan kerusakan jaringan; diklofenak dapat pula diberikan sebagai infus intravena untuk pengobatan atau pencegahan nyeri pasca bedah. Ketorolak kurang mengiritasi pada pemberian secara injeksi intramuskular tapi rasa sakit pernah dilaporkan dengan obat ini; dapat pula diberikan melalui injeksi intravena. Parekoksib (inhibitor selektif dari siklo-oksigenase-2) dapat diberikan secara injeksi intramuskular dan intravena (lihat juga hubungan inhibitor siklo-oksigenase-2 dengan kejadian kardiovaskular. Diklofenak dan ketoprofen supositoria dapat dijadikan terapi alternatif nyeri. Flurbiprofen juga dapat diberikan dalam bentuk supositoria.

Monografi: 

KETOROLAK TROMETAMIN

Indikasi: 

penanganan jangka pendek untuk nyeri pasca bedah yang sedang (tablet); penanganan jangka pendek untuk nyeri akut pasca bedah yang sedang hingga berat (injeksi).

Peringatan: 

dapat menyebabkan iritasi saluran cerna, tukak, perforasi atau perdarahan dengan atau tanpa didahului oleh gejala; asma (dapat menyebabkan bronkospasme); kurangi dosis dan lakukan monitoring pada gangguan fungsi ginjal ringan (dosis maksimum 60 mg/hari secara intravena atau intramuskular); dapat menghambat agregasi platelet dan memperlama waktu perdarahan; pasien dengan gangguan koagulasi atau menerima terapi obat yang dapat mempengaruhi hemostasis; tidak dianjurkan digunakan sebagai pengobatan pra-bedah, anestesi tambahan, maupun analgesik obstetrik; tidak dianjurkan digunakan bersama dengan AINS lain; dekompensasi jantung, hipertensi atau kondisi sejenis (pernah dilaporkan retensi cairan dan edema); hamil; menyusui; gunakan dosis efektif terkecil pada lansia.

Interaksi: 

lihat Lampiran 1.

Kontraindikasi: 

anak usia di bawah 16 tahun; gangguan fungsi ginjal sedang sampai berat (kreatinin serum < 160µmol/L).

Efek Samping: 

perut tidak enak, konstipasi, diare, dispepsia, kembung, gastritis, perdarahan saluran cerna, nyeri saluran cerna, mual, pankreatitis, tukak lambung, perforasi, stomatitis, muntah, melena, perdarahan anus, esofagitis, mimpi yang tidak normal, kemampuan penglihatan dan perasa tidak normal, meningitis aseptik, konvulsi, depresi, mulut kering, eforia, rasa sangat haus, pusing, mengantuk, halusinasi, sakit kepala, gangguan pendengaran, hiperkinesia, ketidakmampuan berkonsentrasi, insomnia, mialgia, berkeringat, cemas, vertigo, reaksi psikotik, gagal ginjal akut, hiperkalemia, hiponatremia, naiknya urea darah dan kreatinin, retensi urin, bradikardi, flushing, hipertensi, purpura, trombositopenia, palpitasi, nyeri dada, asma, dispnea, udem paru.

Dosis: 

oral, 10 mg setiap 4-6 jam (lansia setiap 6-8 jam); untuk pasien yang juga memperoleh terapi ketorolak trometamin injeksi atau perubahan terapi dari injeksi menjadi oral dosis maksimum 90 mg (maksimum 60 mg untuk lansia, pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan berat badan kurang dari 50 kg) dan dosis oral maksimum 40 mg pada hari perubahan terapi.
Dengan injeksi intramuskuler atau injeksi intravena, injeksi intravena sebaiknya diberikan dalam waktu tidak kurang dari 15 detik. Dosis awal, 10 mg, kemudian 10-30 mg setiap 4-6 jam apabila diperlukan. Dosis maksimum 90 mg sehari (Pasien LANSIA, gangguan fungsi ginjal dan berat badan kurang dari 50 kg dosis maksimum 50 kg). Lama pengobatan maksimum 2 hari. Sebaiknya gunakan dosis terkecil yang paling efektif dengan lama pengobatan paling pendek yang dapat diberikan.

KETOPROFEN

Keterangan: 

LIHAT PADA BAGIAN 10.1.1.

NATRIUM DIKLOFENAK

Indikasi: 

rasa sakit pasca bedah; indikasi lain lihat 10.1.1.

Peringatan: 

lihat bagian 10.1.1.

Kontraindikasi: 

lihat bagian 10.1.1.
PADA PENGGUNAAN SECARA INTRAVENA, kontraindikasi tambahan adalah penggunaan bersama AINS lain atau penggunaan antikoagulan (termasuk heparin dosis rendah), anamnesis diatesis haemoragik, anamnesis yang dikonfirmasi atau dicurigai perdarahan serebrovaskular, pembedahan berisiko tinggi perdarahan, anamnesis asma, kerusakan ginjal sedang atau parah, hipovolemia, dehidrasi.

Efek Samping: 

lihat bagian 10.1.1.

Dosis: 

dengan injeksi intramuskuler dalam pada otot gluteal, 75 mg sekali sehari (dua kali sehari pada kasus yang berat) maksimum 2 hari. Dengan infus intravena (untuk rawat inap) 75 mg selama 30-120 menit, diulang bila perlu setelah 4-6 jam untuk maksimum 2 hari.
Pencegahan rasa sakit pasca bedah, dosis awal setelah pembedahan 25-50 mg dalam 15-60 menit kemudian 5 mg/jam untuk maksimum 2 hari. Per rektal, sebagai supositoria, 75-150 mg sehari dalam dosis terbagi.
Dosis total maksimum melalui rute pemberian apapun 150 mg.

Keterangan: 

Sediaan lihat bagian 10.1.1

PAREKOKSIB

Indikasi: 

pengobatan jangka pendek nyeri pasca bedah.

Peringatan: 

nyeri yang menyertai coronary artery bypass graft surgery, gangguan fungsi ginjal, hipertensi, gangguan fungsi jantung atau hati, kondisi predisposisi retensi cairan, dehidrasi, dapat menutupi demam, riwayat perdarahan, tukak atau perforasi pada saluran cerna bagian atas.

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (AINS).

Kontraindikasi: 

riwayat hipersensitivitas terhadap sulfonamid, kehamilan trimester ketiga, menyusui, tukak peptik atau perdarahan saluran cerna, inflammatoy bowel disease, gagal jantung kongesti berat.

Efek Samping: 

hipertensi, hipotensi, nyeri punggung, udem perifer, hipoestesia, alveolar osteitis, dispepsia, flatulen, hipokalemia, peningkatan kreatinin, insomnia, agitasi, anemia pasca bedah, faringitis, insufisiensi pernafasan, pruritus, oliguria.

Dosis: 

injeksi intravena atau intramuskular, dosis awal 40 mg, dilanjutkan 20 mg atau 40 mg setiap 6 sampai 12 jam apabila diperlukan; dosis maksimum 80 mg sehari. LANSIA: berat badan kurang dari 50 kg, dosis awal separuh dari dosis lazim awal yang direkomendasikan; dosis maksimum 40 mg sehari.
ANAK dan REMAJA usia kurang dari 18 tahun tidak direkomendasikan.