ANESTETIK INTRAVENA LAIN

Etomidat adalah zat penginduksi anestesia untuk induksi yang disertai dengan pemulihan yang cepat tanpa efek hangover. Etomidat lebih sedikit menimbulkan hipotensi dibandingkan dengan obat lain yang dipakai untuk induksi. Etomidat sering menimbulkan gerakan otot ekstra yang dapat diminimalkan dengan pemberian analgesik opioid atau benzodiazepin kerja singkat sesaat sebelum induksi. Rasa sakit pada tempat penyuntikan dapat dikurangi dengan melakukan penyuntikan pada vena yang lebih besar atau dengan analgesik opioid sesaat sebelum induksi. Etomidat dapat menekan fungsi adrenokortikal, terutama pada penggunaan berlanjut, dan tidak boleh digunakan untuk pemeliharaan anestesia. Propofol memberikan pemulihan yang cepat tanpa efek hangover dan dipakai secara luas. Kadang terdapat rasa sakit pada injeksi intravena, dan dapat terjadi gerakan otot yang nyata. Kejang, anafilaksis dan pemulihan anestetik yang tertunda pada penggunaan propofol dapat terjadi; dan karena kemunculan kejang dapat tertunda kejadiannya, diperlukan perhatian khusus pasca pembedahan. Propofol telah dikaitkan dengan bradikardia yang kadang berat; diperlukan antimuskarinik untuk mencegah hal ini.

Ketamin saat ini jarang digunakan; dapat diberikan secara intravena atau intramuskular, dan memiliki sifat analgesik yang baik bila dipakai dalam dosis sub-anestetik. Ketamin sebagian besar dipakai dalam anestesia pediatrik, terutama bila diperlukan dosis berulang. Pemulihan terjadi relatif lambat. Terjadi peningkatan insidens gerakan otot ekstra; stimulasi kardiovaskuler, takikardi dan peningkatan tekanan arteri dapat pula terjadi. Kerugian utama penggunaan ketamin adalah tingginya kejadian/insidens halusinasi, mimpi buruk dan psikosis sementara. Kejadian ini dapat dikurangi bila obat seperti diazepam juga digunakan.

Ketamin dikontraindikasikan untuk pasien hipertensi, dan sebaiknya dihindarkan penggunaannya pada pasien yang cenderung berhalusinasi atau mimpi buruk.

Monografi: 

ETOMIDAT

Indikasi: 

induksi anestesi umum.

Peringatan: 

etomidat tidak mempunyai efek analgesik sehingga apabila digunakan untuk narkosis jangka pendek harus diberikan analgesik kuat sebelum atau bersama dengan pemberian etomidat misalnya fentanil; kehamilan (lihat Lampiran 4); menyusui (lihat Lampiran 5); penggunaan jangka panjang berisiko menyebabkan kegagalan adrenokortikal yang menetap.

Interaksi: 

lihat Lampiran 1.

Kontraindikasi: 

gangguan hereditas pada biosintesis hem, neonatus dan bayi sampai dengan usia 6 bulan (kecuali indikasi sangat dibutuhkan untuk pengobatan pasien rawat inap).

Efek Samping: 

menghambat biosintesis adrenokortikal steroid, pergerakan otot tanpa disadari (miokloni), mual, muntah, batuk, singultus, dan shivering.

Dosis: 

sesuaikan dosis berdasarkan respon individual dan efek klinis. Hipnosis, 0,15-0,3 mg/kg bb. ANAK berusia sampai dengan 15 tahun dan lansia diberikan sebagai dosis tunggal 0,15 sampai dengan 0,2 mg/kg bb. Kurangi dosis pada pasien dengan sirosis hati dan pasien yang sudah mendapatkan pengobatan awal dengan opioid neuroleptik atau sedatif. Pada narkosis untuk menghilangkan status epilepticus atau serial epileptic seizures, sebaiknya diberikan injeksi cepat etomidat 0,3 mg/kg bb. Jika diperlukan, dosis dapat diulang.

KETAMIN HIDROKLORIDA

Indikasi: 

Anestesi untuk diagnostik dan prosedur pembedahan yang tidak memerlukan relaksasi otot skelet, prosedur pembedahan jangka pendek (paling sesuai), prosedur pembedahan yang lebih lama (dengan menaikkan dosis), induksi efek anestesi yang diberikan sebelum pemberian anestesi umum yang lain, melahirkan normal yang memerlukan anestesi atau pembedahan cesar, anestesi tambahan pada penggunaan anestesi lain dengan potensi lemah seperti nitrous oksida. 

Peringatan: 

Alkoholik kronik dan keracunan alkohol akut, sirosis atau gangguan fungsi hati lainnya, peningkatan tekanan serebrospinal pada pre-anestesi, peningkatan tekanan intra okular (mis: glaukoma), tanda-tanda neurotik atau penyakit psikiatri (mis: skizofrenia dan psikosis akut), porfiria intermiten akut, kejang, hipertiroidisme, menerima terapi pengganti tiroid (meningkatkan risiko hipertensi dan takikardi), infeksi pulmoner atau saluran pernapasan atas, lesi yang luas pada intrakranial, luka di kepala, hidrosepalus, hipovolemia, dehidrasi, penyakit kardiovaskuler terutama penyakit arteri koroner (mis: gagal jantung kongestif, iskemia miokardi, dan infark miokard), hipertensi ringan sampai sedang dan takiaritmia.

Interaksi: 

Memantin: meningkatkan risiko toksisitas SSP (hindari penggunaan bersamaan);

Teofilin: meningkatkan risiko konvulsi;

Barbiturat dan/atau agonis opiat: waktu pemulihan dapat menjadi lebih lama;

Benzodiazepin: memperpanjang waktu paruh ketamin sehingga waktu pemulihan menjadi lebih lama;

Tiroksin: terjadi peningkatan tekanan arteri;

Atrakurium dan Tubokurarin: memicu efek hambatan neuromuskular atrakurium dan tubokurarin, termasuk depresi pernapasan dengan apnea;

Anestesi terhalogenasi: memperpanjang waktu paruh eliminasi ketamin dan memperlambat pemulihan efek anestesi, meningkatkan risiko terjadinya bradikardi, hipotensi, atau penurunan cardiac output;

Depresan SSP (mis: etanol, fenotiazin, penenang H­1-bloker, atau relaksan otot skelet): memicu depresi SSP dan/atau peningkatan risiko terjadinya depresi pernapasan (penurunan dosis mungkin dibutuhkan);

Tiopental: antagonis terhadap efek hipnotik tiopental;

Hormon tiroid: peningkatan risiko hipertensi dan takikardi;

Obat hipertensi: meningkatkan risiko terjadinya hipotensi.

Kontraindikasi: 

Peningkatan tekanan darah yang bermakna, eklamsia atau pre-eklamsia, hipersensitivitas.

Efek Samping: 

Umum: halusinasi, mimpi buruk, kebingungan, agitasi, perilaku abnormal, nistagmus, hipertonia, tonik-klonik (kejang), diplopia, peningkatan tekanan darah dan denyut nadi, peningkatan laju pernapasan, mual, muntah, eritema,ruam seperti campak.

Tidak Umum: anoreksia, ansietas, bradikardi, aritmia, hipotensi, depresi pernapasan, laringospasme, nyeri pada tempat penyuntikan, ruam pada tempat penyuntikan.

Jarang: reaksi anafilaksis, delirium, disforia, insomnia, flashback (bayangan kejadian traumatis), disorientasi, obstruksi saluran napas, apnea, hipersekresi saliva, sistitis, sistitis haemoragik.

Lainnya: peningkatan tekanan intra-okular.

Dosis: 

Pemberian secara intravena: Rentang dosis awal: 1 mg/kg BB - 4,5 mg/ kg BB. Rata-rata dosis yang diperlukan untuk menghasilkan efek anestesi selama lima sampai sepuluh menit adalah 2 mg/kg BB. Induksi anestesi: 1,0 - 2,0 mg/kg BB dengan kecepatan pemberian 0,5 mg/kg BB/menit, yang diberikan dalam syringe terpisah selama 1 menit.

Pemberian secara intramuskular: Dosis awal: 6,5-13 mg/kg BB. Dosis 10 mg/kg BB biasanya menghasilkan efek anestesi selama 12 sampai 25 menit pada prosedur pembedahan.

Kelainan hati. Pengurangan dosis harus dipertimbangkan pada pasien dengan sirosis atau jenis gangguan hati lainnya.

PROPOFOL

Indikasi: 

induksi dan pemeliharaan anestesi umum; sedasi penderita yang diberi napas buatan (ventilated) dan mendapat perawatan intensif, digunakan hingga 3 hari.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas; pantau kadar lemak darah pada pasien yang berisiko kelebihan lemak atau apabila sedasi lebih dari 3 hari; kehamilan (lihat Lampiran 4); menyusui (lihat Lampiran 5); kontaminasi bakteri
KONTAMINASI BAKTERI. Untuk menghindarkan risiko infeksi akibat kontaminasi bakteri, teknik aseptik yang ketat harus dijalankan ketika menyedot emulsi propofol dalam alat suntik.

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (anestetik umum).

Kontraindikasi: 

lihat keterangan di atas; tidak boleh digunakan untuk sedasi pada ventilated children dan remaja berusia di bawah 17 tahun (berisiko menyebabkan efek serius meliputi asidosis metabolik, gagal jantung, rhabdomiolisis, hiperlipidemia dan hepatomegali).

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; juga flushing; apnea sementara selama induksi.

Dosis: 

induksi, dengan cara injeksi intravena, 1,5-2,5 mg/kg bb (lebih sedikit pada mereka yang berumur di atas 55 tahun) dengan kecepatan 20-40 mg tiap 10 detik (dosis terendah pada pasien berumur di atas 55 tahun); ANAK: di atas 3 tahun diberi 2,5 mg/kg bb yang disesuaikan dengan keperluan.
Pemeliharaan, dengan infus intravena, 4-12 mg/kg bb/jam atau injeksi intravena, 25-50 mg diulang menurut respon; ANAK: di atas 3 tahun 9-15 mg/kg bb/jam.
Sedasi semasa perawatan intensif (dengan napas buatan), dengan infus intravena, 0,3-4 mg/kg bb/jam hingga 3 hari.
ANAK tidak dianjurkan untuk anak.
Sedasi untuk pembedahan dan prosedur diagnostik, diawali dengan injeksi intravena, 0,5-1 mg/kg bb selama 1-5 menit; pemeliharaan dengan infus intravena, 1,5-4,5 mg/kg bb/jam (sebagai tambahan, bila diperlukan peningkatan kedalaman sedasi yang cepat, injeksi intravena 10-20 mg); pasien di atas 55 tahun mungkin memerlukan dosis lebih rendah; ANAK tidak dianjurkan untuk anak.