VAKSIN TETANUS (Tetanus Toksoid)

Vaksin tetanus merangsang produksi antitoksin. Secara umum, penjerapan pada aluminium hidroksida, aluminium fosfat, atau kalsium fosfat meningkatkan antigenitas. Imunisasi primer pada anak-anak usia di bawah 10 tahun umumnya terdiri dari 3 dosis dari sediaan kombinasi yang mengandung vaksin tetanus, dengan interval 1 bulan (lihat jadwal, bagian 14.2). Untuk imunisasi primer dewasa dan anak usia di atas 10 tahun yang belum pernah diimunisasi sebelumnya dengan tetanus, 3 dosis vaksin difteri (dosis rendah), tetanus, dan IPV dapat diberikan pada dewasa dan anak usia lebih dari 10 tahun, dengan interval 1 bulan.

Pada anak, vaksin DPT tidak hanya memberi perlindungan terhadap tetanus dalam masa kanak-kanak tapi juga memberi dasar kekebalan untuk dosis booster vaksin tetanus yang diberikan selanjutnya pada saat masuk sekolah dan saat meninggalkan sekolah dan juga bila terkena luka yang terkontaminasi tetanus. Dewasa yang telah mendapat 5 dosis cenderung memiliki kekebalan seumur hidup.

Sangat jarang, terjadi infeksi tetanus setelah operasi abdomen; pasien elective surgery harus ditawarkan imunisasi tetanus, jika perlu. Penyalahgunaan obat suntik dapat mengakibatkan tetanus, sehingga perlu diimunisasi, jika belum pernah diimunisasi. Diberikan dosis booster jika ada keraguan mengenai status imunisasi.

Semua staf laboratorium harus ditawarkan seri primer bila belum diimunisasi. Booster reguler tidak dibutuhkan walaupun profilaksis pascapemaparan mungkin perlu pada saat cedera.

Luka dianggap rentan tetanus bila dibiarkan selama lebih dari 6 jam sebelum terapi bedah atau setelah cedera dan berbentuk luka tusuk, mengandung jaringan mati, terinfeksi, atau terkontaminasi kotoran atau pupuk hewan. Semua luka harus dibersihkan secara bedah. Untuk luka yang bersih, individu yang sudah diimunisasi lengkap (total 5 dosis) dan individu yang sudah menerima imunisasi primer lengkap (dengan booster) tidak memerlukan vaksin tetanus; dosis booster vaksin tetanus diberikan bila seri primer (atau dosis booster) diberi lebih dari 10 tahun yang lalu; individu yang tidak diimunisasi (atau status imunisasinya tidak diketahui) harus diberi satu seri vaksin. Untuk luka yang rentan tetanus, pengobatan sama dengan luka yang bersih dengan tambahan dosis imunoglobulin tetanus (seksi 14.5); pada individu yang imun setelah menerima dosis vaksin tetanus dalam 10 tahun sebelumnya, imunoglobulin hanya dibutuhkan bila risiko infeksi dianggap tinggi (contohnya kontaminasi dengan kotoran ternak). Pengobatan antibiotik (dengan benzilpenisilin, Co-amoksiklav atau metronidazol) juga diperlukan untuk luka rentan tetanus.

Lihat 14.1 untuk kontraindikasi umum.

Vaksin antigen tunggal
Bila vaksin tetanus diresepkan dan bentuknya tidak disebutkan, maka diberikan Vaksin Tetanus.

Vaksin Kombinasi, lihat Vaksin Difteri.

Monografi: 

Vaksin Tetanus

Dosis: 

0,5 mL atau seperti disebut pada label, injeksi intramuskular atau subkutan dalam dilanjutkan dengan dosis ke-2 setelah 4 minggu dan dosis ke-3 setelah 4 minggu berikutnya.

Keterangan: 

Dibuat dari toksoid tetanus dengan karier mineral (aluminium hidroksida).