VAKSIN RABIES

Imunisasi profilaksis (pre-exposure) dengan vaksin rabies sel diploid manusia harus diberikan kepada mereka yang berisiko tinggi, seperti staf laboratorium yang menangani virus rabies,mereka yang bekerja di karantina, pengasuh binatang, dokter hewan, pekerja lapangan yang dapat digigit binatang buas terinfeksi, petugas pelabuhan tertentu, penjinak kelelawar, dan petugas kesehatan yang mungkin dekat dengan pasien rabies. Imunisasi pre-exposure dianjurkan untuk mereka yang tinggal di atau berkunjung ke enzootic area yang mungkin menghadapi risiko.

Departemen Kesehatan telah menganjurkan penggunaan profilaksis vaksin yang menghasilkan respons antibodi yang baik dengan pemberian 3 dosis pada hari ke 0,7, dan 28, dan dengan dosis booster tiap 2-3 tahun untuk mereka yang tetap dalam risiko. Untuk wisatawan ke enzootic area yang bukan penjinak binatang, 2 dosis diberikan dengan jarak 4 minggu dapat diterima dengan syarat tersedia pengobatan pasca pemaparan; untuk mereka yang tetap berisiko booster harus diberikan 6-12 bulan kemudian dilanjutkan dengan booster tiap 2-3 tahun.

Profilaksis pasca pemaparan. Luka harus dibersihkan terlebih dahulu dengan air mengalir dan dicuci beberapa menit dengan air sabun segera setelah paparan. Dapat menggunakan desinfektan dan perban, tapi jahitan harus ditunda karena dapat berisiko penyebaran virus rabies ke syaraf.

Profilaksis pasca pemaparan tergantung dari tingkat risiko di suatu negara dan status kekebalan individu. Untuk menentukan hal tersebut, diperlukan kajian oleh pakar di bidangnya.

Untuk profilaksis pasca pemaparan bagi yang telah menerima imunisasi lengkap (yaitu yang sebelumnya telah menerima profilaksis pre atau pasca pemaparan dengan vaksin rabies) dibutuhkan 2 dosis booster dengan interval 3 hari, dan untuk kondisi demikian tidak diperlukan imunoglobulin rabies. Untuk pengobatan pasca pemaparan pada pasien yang belum pernah diimunisasi sebelumnya (atau mereka yang profilaksisnya tidak memadai): diberikan 5 dosis dalam 1 bulan (hari ke- 0, 3, 7, 14 dan 30); pemberian imunoglobulin rabies pada hari ke-0 tergantung pada tingkat risiko (Lihat 14.5). Pengobatan boleh dihentikan bila terbukti bahwa pasien tidak berada dalam risiko. Anjuran mengenai informasi dan imunisasi pasca pemaparan dan pengobatan rabies tersedia di Biofarma.

Tidak ada kontraindikasi yang spesifik terhadap vaksin sel diploid ini dan penggunaannya harus dipertimbangkan bila pasien telah diserang binatang di negara yang rabies endemik, walaupun tidak ada bukti langsung adanya rabies pada binatang penyerang. Karena konsekuensi potensial dari pemaparan rabies yang ditangani secara inadekuat dan tidak ada data bahwa abnormalitas fetus berhubungan dengan imunisasi rabies, kehamilan tidak dianggap sebagai kontraindikasi untuk profilaksis pasca pemaparan.