VAKSIN POLIOMIELITIS

Ada dua tipe vaksin poliomielitis:

  • vaksin poliomielitis, vaksin hidup oral.
  • vaksin poliomielitis yang diinaktivasi.

Saat ini vaksin poliomielitis yang diinaktivasi direkomendasikan untuk imunisasi rutin, diberikan secara injeksi dan mengandung strain yang diinaktivasi dari jenis human poliovirus.

Vaksin oral mengandung campuran dari strain virus yang dilemahkan tipe 1, 2, dan 3 saat ini secara umum digunakan di Indonesia.

SERI AWAL. Vaksin poliomielitis, hidup (oral) diberikan dalam 3 kali, biasanya bersamaan dengan imunisasi rutin terhadap difteri, tetanus, pertusis dan Haemophilus infuenzae tipe b (lihat jadwal, seksi 14.2). Seri awal 3 dosis juga harus diberikan untuk semua orang dewasa yang belum diimunisasi; tidak boleh ada orang dewasa yang tidak terimunisasi terhadap polio.

Dosis booster vaksin poliomielitis dianjurkan pada saat masuk sekolah ketika anak juga harus menerima dosis booster vaksin difteri dan tetanus, serta MMR. Vaksin poliomielitis oral juga dianjurkan saat meningggalkan sekolah. Dosis booster untuk orang dewasa tidak diperlukan kecuali untuk mereka yang memiliki risiko tambahan seperti bepergian ke daerah endemik, atau staf laboratorium yang mungkin terpapar virus, atau petugas kesehatan yang mungkin berkontak dengan kasus; dosis booster harus diberikan untuk individu demikian tiap 10 tahun.

Vaksin poliomielitis yang diinaktivasi dapat digunakan sebagai tambahan untuk melengkapi rangkaian imunisasi yang dimulai dengan vaksin hidup (oral) poliomielitis. Vaksin hidup oral tersebut biasanya digunakan bila terjadi wabah. Vaksin hidup oral memiliki risiko yang sangat jarang untuk terjadinya polio paralisis. Dengan demikian vaksin hidup oral tidak dapat diberikan kepada individu dengan imunosupresi atau yang menjadi kontaknya. Penggunaan vaksin poliomielitis yang diinaktivasi dapat menghilangkan risiko terjadinya polio paralisis yang disebabkan vaksin. Poliomielitis yang disebabkan oleh vaksin dan poliomielitis karena berkontak dengan orang yang telah diimunisasi jarang. Kebersihan pribadi harus ditekankan; kontak dengan bayi yang baru diimunisasi harus hati-hati terutama diharuskan mencuci tangan setelah mengganti popok bayi.

Kontraindikasi terhadap penggunaan vaksin poliomielitis oral termasuk muntah dan diare, dan gangguan imunodefisiensi (atau orang serumah yang berhubungan dengan pasien gangguan imunodefisiensi). Lihat seksi 14.1 untuk kontraindikasi lebih lanjut.

Vaksin poliomielitis yang diinaktivasi dapat digunakan bagi mereka yang tidak boleh menerima vaksin poliomielitis oral karena penyakit imunosupresif (untuk anjuran mengenai AIDS lihat seksi 14.1).

Baik vaksin hidup (oral) atau vaksin yang diinaktivasi dapat digunakan untuk menyelesaikan seri yang dimulai dengan vaksin lain, tetapi vaksin hidup (oral) tidak boleh digunakan untuk individu dengan gangguan sistem imun atau mereka yang kontak dalam rumah (lihat juga kontraindikasi).

WISATAWAN. Mereka yang bepergian ke daerah dengan kejadian poliomielitis yang tinggi harus diberi vaksin poliomielitis yang diinaktivasi secara penuh bila dulu belum diimunisasi. Mereka yang belum diimunisasi dalam 10 tahun terakhir harus diberi dosis booster vaksin poliomielitis yang diinaktivasi.