VAKSIN PNEUMOKOKUS

Vaksin pneumokokus, ditujukan kepada Streptococcus pneumoniae, dimana vaksin ini mengandung bentuk polisakarida dari kapsul pneumokokus. Vaksin polisakarida pneumokokus mengandung polisakarida yang dimurnikan dari 23 tipe kapsul pneumokokus, sedangkan vaksin konyugasi polisakarida pneumokokus mengandung polisakarida dari 7 tipe kapsul dimana polisakarida tersebut terkonyugasi ke protein.

Imunisasi pneumokokus dianjurkan bagi individu yang memiliki risiko sbb: penyakit sickle cell homozygous; Asplenia atau disfungsi berat dari limpa; Penyakit ginjal kronis atau sindrom nefrotik; Sindrom coeliac; imunodefisiensi atau imunosupresi karena penyakit atau pengobatan, termasuk infeksi HIV; penyakit jantung kronis; penyakit pernafasan kronis; penyakit hati kronis termasuk sirosis; diabetes mellitus; implantasi cohlear; adanya CFS shunt atau kondisi lain yang dapat menyebabkan kebocoran cairan serebrospinal, anak usia di bawah 5 tahun dengan riwayat penyakit pneumokokus invasif.

Bila mungkin, vaksin harus diberi paling sedikit 2 minggu sebelum splenektomi, pembedahan untuk pemasangan CSF shunt, bedah untuk implantasi cochlear, dan sebelum kemoterapi, dan perlu disertai informasi mengenai kemungkinan peningkatan risiko infeksi pneumokokus. Terapi antibakterial untuk profilaksis terhadap infeksi pneumokokus tidak boleh dihentikan setelah imunisasi.

PEMILIHAN VAKSIN: Dosis tunggal vaksin polisakarida pneumokokus yang tidak terkonyugasi digunakan untuk imunisasi anak usia lebih dari 5 tahun yang berisiko terkena penyakit pneumokokus. Anak usia di bawah 5 tahun yang memiliki risiko harus mendapatkan vaksin polisakarida pneumokokus terkonjugasi 7 valent sebagai berikut:

  • Bayi usia 2 bulan sampai 6 bulan sebaiknya menerima 3 dosis (dengan interval pemberian 1 bulan) vaksin polisakarida pneumokokus terkonjugasi, dimulai pada usia 2 bulan; dosis selanjutnya diberikan sesaat setelah berusia 1 tahun;
  • Bayi usia 6-11 bulan yang belum diimunisasi sebaiknya menerima 2 dosis (dengan interval pemberian 1 bulan) vaksin polisakarida pneumokokus terkonjugasi; dosis selanjutnya diberikan sesaat setelah berusia 1 tahun;
  • Anak usia 1-5 tahun sebaiknya menerima 2 dosis (dengan interval pemberian 2 bulan) vaksin polisakarida pneumokokus terkonjugasi.

Semua anak yang telah menerima vaksin polisakarida pneumokokus terkonjugasi sebaiknya menerima dosis tunggal vaksin polisakarida pneumokokus 23 valent sesaat setelah berusia 2 tahun dan sekitar 2 bulan setelah pemberian dosis terakhir vaksin polisakarida pneumokokus terkonjugasi 7 valent.

REIMUNISASI. Reimunisasi dengan vaksin 23 valent (Pneumovax II) pada individu dengan level antibodi polisakarida pneumokokus yang tinggi tidak dianjurkan karena kemungkinan bertambahnya efek samping bertambah. Reimunisasi dianjurkan setiap 5 tahun untuk individu yang menunjukkan penurunan cepat kadar antibodi pneumokokus (contohnya mereka dengan sindrom nefrotik, gagal ginjal, asplenia, disfungsi asplenia, sindrom nefrotik). Kebutuhan akan reimunisasi harus dikonsultasikan dengan ahli hematologi, immunologi atau mikrobiologi.

Lihat seksi 14.1 untuk kontraindikasi umum.

Monografi: 

VAKSIN PNEUMOKOKUS PENTAVALEN

Indikasi: 

imunisasi aktif untuk bayi dan anak usia 2 bulan sampai 9 tahun, melawan penyakit invasif, pneumonia dan otitis media yang disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae serotipe 4, 6B, 9V, 14, 18C, 19F dan 23F.

Peringatan: 

Vaksin tidak dapat mencegah infeksi yang disebabkan oleh serotipe atau mikroorganisme berbeda; pemberian vaksin harus ditunda pada pasien demam berat akut; sebagaimana semua vaksin injeksi, terapi medis dan supervisi harus disiapkan untuk mengantisipasi reaksi anafilaksis yang mungkin terjadi pasca imunisasi; tidak dapat menggantikan imunisasi difteri rutin; penggunaan vaksin pneumokokus konjugat tidak menggantikan penggunaan vaksin pneumokokus polisakarida 23-valent pada anak > 24 bulan yang menderita penyakit sickle cell, asplenia, infeksi HIV, penyakit kronis atau pasien dengan gangguan sistem imun, yang membuat mereka memiliki risiko tinggi untuk menderita penyakit invasif akibat S.pneumoniae; anak dengan respon imun yang terganggu akibat terapi imunosupresan (iradiasi, kortikosteroid, antimetabolit, zat pengalkilasi, dan zat sitotoksik), cacat genetik, infeksi HIV atau penyebab lain dapat mengurangi respons antibodi terhadap imunisasi aktif; vaksin ini tidak melindungi 100% individu yang menerima vaksin; pemberian bersama dengan vaksin pertusis whole cell pada anak berisiko seizure harus mempertimbangkan pemberian antipiretik; vaksin ini tidak direkomendasikan pada orang dewasa sehingga keamanannya pada wanita hamil dan menyusui belum establish; efektifitas dan keamanan pada anak usia di bawah 6 minggu atau usia sama dengan atau lebih dari 10 tahun belum tersedia.

Kontraindikasi: 

Hipersensitivitas terhadap latex atau komponen vaksin termasuk toksoid difteri; imunisasi harus ditunda jika demam atau adanya penyakit akut/kronis.

Efek Samping: 

eritema, pembengkakan, sakit pada tempat penyuntikan; mual, muntah, demam, penurunan nafsu makan; mengantuk, tidur yang tidak nyenyak; iritabilitas.

Dosis: 

Injeksi intramuskular, diberikan dengan hati-hati agar tidak mengenai saraf atau pembuluh darah. Lokasi suntik yang disarankan untuk bayi, pada bagian anterolateral panggul atau untuk anak, pada otot deltoid di lengan bagian atas. Jangan disuntikan pada area gluteal. Jangan disuntikan secara intradermal, subkutan atau intravena karena keamanan dan imunogenitas melalui rute ini belum diketahui dengan pasti.
Imunisasi primer: Untuk bayi, imunisasi terdiri dari empat dosis sediaan 0,5 mL. Dosis pertama diberikan pada usia 2 bulan. Interval pemberian yang direkomendasikan adalah 4-8 minggu. Dosis keempat harus diberikan pada usia 12-15 bulan dan sekurang-kurangnya 2 bulan setelah dosis ketiga.
Untuk anak yang lebih tua, yang sebelumnya belum diimunisasi:
Untuk bayi dan anak-anak yang sebelumnya belum diimunisasi, yang usianya di atas jadwal rutin, jadwal berikut sebaiknya diikuti :

Usia pada dosis pertama

Total jumlah Dosis
0,5 mL

7 - 11 bulan

3   (2     dosis    terpisah sekurang-kurangnya    4 minggu); dosis ketiga setelah usia 1 tahun, dipisah dari dosis kedua sekurang-kurangnya         2 bulan)

12 – 23 bulan

2   (2     dosis    terpisah sekurang-kurangnya    2 bulan)

>24         bulan hingga 9 tahun

1