VAKSIN MMR (Measles Mumps Rubela)

Kombinasi vaksin measles mumps rubela (vaksin MMR) ditujukan untuk mengeliminasi rubela (dan sindrom rubela kongenital), campak, dan gondong. Tiap anak harus mendapat 2 dosis vaksin MMR sejak saat memasuki sekolah dasar, kecuali bila ada hal- hal pasti yang dikontraindikasikan (lihat di bawah) atau ada penolakan dari orangtua.

Vaksin MMR harus diberikan tanpa menghiraukan infeksi measles, mumps, rubela sebelumnya.

Dosis pertama vaksin MMR diberikan pada anak usia 12-15 bulan. Dosis kedua (booster) diberikan pada usia 3-5 tahun.

Anak pada masa prasekolah yang belum mendapat dosis pertama MMR harus diberi 1 (satu) dosis MMR dilanjutkan dengan dosis kedua 3 bulan kemudian.

Pada usia lulus sekolah (dasar) atau saat mereka masuk ke jenjang pendidikan yang lebih lanjut, anak lelaki atau perempuan yang belum mendapat kedua dosis vaksin MMR harus ditawarkan imunisasi MMR. Dewasa muda yang baru menerima dosis MMR pada waktu anak-anak, direkomendasikan diberi dosis kedua untuk proteksi lengkap. Wanita usia produktif dengan rubela sero negatif harus diimunisasi vaksin MMR, begitu juga staf pelayanan kesehatan yang belum diimunisasi sehingga berrisiko pada wanita hamil. 

Vaksin MMR dapat ditawarkan pada wanita yang baru melahirkan yang belum diimunisasi dan seronegatif. Imunisasi beberapa hari setelah melahirkan adalah penting karena, sekitar 60% abnormalitas congenital akibat infeksi rubela pada bayi dari wanita yang melahirkan lebih dari satu kali. Imigran yang datang setelah usia sekolah memerlukan imunisasi.

KONTAK. Vaksin MMR juga dapat digunakan dalam pengendalian wabah campak dan direkomendasikan pada anak yang rentan termasuk anak usia lebih dari 6 bulan yang memiliki kontak kasus, dalam 3 hari paparan infeksi; anak-anak ini harus tetap menerima imunisasi MMR rutin sesuai usianya. Anggota keluarga usia 6-9 tahun yang kontak dengan kasus campak dapat menerima imunoglobulin normal.

Vaksin MMR tidak cocok untuk profilaksis menyusul adanya paparan mumps atau rubela, disebabkan respons antibodi terhadap komponen mumps dan rubela terlalu lemah untuk profilaksis yang efektif.

Anak dengan gangguan respons imun tidak boleh diberi vaksin hidup (saran untuk penderita AIDS lihat seksi 14.1). Bila mereka terpapar oleh infeksi measles, mereka harus diberi imunoglobulin normal (seksi 14.5).

Efek Samping: Malaise, demam, atau gatal dapat timbul 1 minggu setelah imunisasi dan berlangsung hingga 2-3 hari. Informasi dalam brosur (leaflet) membantu orangtua bagaimana menurunkan demam (termasuk penggunaan parasetamol). Pembengkakan parotis kadang- kadang terjadi, biasanya dalam minggu ke-3. Efek samping biasanya lebih jarang timbul pada dosis kedua MMR dibandingkan pada dosis pertama.

Idiopathic thrombocytopenic purpura (jarang) dapat terjadi pada 6 minggu setelah dosis pertama. Tetapi risiko terjadinya efek samping ini, jauh lebih kecil yang disebabkan karena vaksin MMR bila dibandingkan dengan yang disebabkan oleh infeksi virus liar campak, mumps atau rubela. Anak yang mengalami efek samping ini harus menjalani uji serologi sebelum jadwal dosis kedua; sehingga jika hasil vaksin dosis pertama menunjukkan kekebalan terhadap campak, mumps, dan rubela yang tidak sempurna, maka direkomendasikan pemberian dosis kedua.

Meningoensefalitis pasca imunisasi pernah dilaporkan (jarang dan dengan penyembuhan total) setelah imunisasi MMR yang mengandung vaksin mumps Urabe yang sekarang telah dihentikan produksinya; tidak ada kasus yang telah dipastikan berhubungan dengan vaksin mumps Jeryl Lynn yang sekarang dipakai.

Anak dengan gejala pasca imunisasi tidak menular.

Kontraindikasi terhadap MMR diantaranya:

  • anak dengan penyakit keganasan yang tak ditangani atau yang kekebalannya berubah, dan mereka yang menerima obat imunosupresif atau radioterapi, atau kortikosteroid dosis tinggi;
  • anak yang menerima injeksi vaksin hidup lain dalam 4 minggu;
  • anak yang alergi terhadap neomisin atau gelatin;
  • anak yang demam akut (imunisasi harus ditunda);
  • bila diberikan pada wanita usia subur, kehamilan harus dihindari untuk 1 bulan (seperti pada vaksin rubela);
  • tidak boleh diberikan dalam 3 bulan setelah injeksi imunoglobulin.

Imunisasi rubela selama kehamilan harus dihindari. Tetapi jika diberikan selama kehamilan, tidak dianjurkan untuk menggugurkan kehamilan karena belum ada studi yang menunjukkan hubungan imunisasi rubela pada awal kehamilan dengan efek pada janin.

Catatan:

  • anak dengan riwayat kejang baik pada dirinya maupun keluarga dekat harus diberi vaksin MMR, dan kepada orangtuanya diinformasikan kemungkinan terjadi demam;
  • dokter umum harus merujuk ke spesialis pediatrik untuk memberikan imunisasi;
  • makin banyak bukti MMR dapat diberikan dengan aman, bahkan kepada anak yang pernah mengalami reaksi anafilaksis terhadap makanan yang mengandung telur (tidak suka atau menolak makan telur bukanlah kontraindikasi).
Monografi: