VAKSIN INFLUENZA

Meskipun kebanyakan virus stabil secara antigenik, virus influenza A dan B (khususnya A) selalu mengubah struktur antigeniknya, ditunjukkan dengan perubahan pada hemaglutin (H) dan neuraminidase (N) yang terdapat di permukaan virus. Penting diketahui bahwa vaksin influenza mengandung komponen H dan N dari strain yang ada. Setiap tahun WHO (World Health Organization) memberi rekomendasi/informasi untuk jenis strain yang harus dimasukkan. Strain tersebut kemudian dikembangbiakkan dalam rongga alantoik embrio ayam (oleh karena itu dikontraindikasikan untuk mereka yang hipersensitif terhadap telur ayam).

Karena vaksin influenza tidak dapat mengendalikan epidemi, maka imunisasi hanya dianjurkan bagi orang-orang yang berisiko tinggi. Imunisasi tahunan sangat dianjurkan untuk individu usia lebih dari 6 bulan, dengan kondisi berikut:penyakit respirasi kronik; termasuk asma; penyakit jantung kronik; penyakit hati kronik; gagal ginjal kronik; diabetes melitus; imunosupresi karena penyakit (termasuk asplenia atau disfungsi limpa) atau pengobatan (termasuk terapi kortikosteroid yang lama); infeksi HIV (tanpa mempertimbangkan status kekebalan).

Imunisasi influenza juga dianjurkan untuk orang tua usia lebih dari 65 tahun, penghuni panti jompo atau fasilitas lainnya untuk bertempat tinggal lama dan perawat panti jompo yang pendapatannya sangat tergantung dari kesehatannya.

Interaksi: lihat Lampiran 1 (vaksin influenza).

Lihat bag 14.1 untuk kontraindikasi umum.

Monografi: 

VAKSIN INFLUENZA

Indikasi: 

Profilaksis terhadap influenza pada anak di atas 6 bulan dan dewasa.

Peringatan: 

Pemberian vaksin harus ditunda pada subyek yang menderita demam; vaksin ini tidak melindungi flu-like symptoms karena penyebab lain. Vaksin influenza tidak boleh diberikan secara intravaskular. Pemberian vaksin influenza pada ibu hamil dan menyusui harus atas petunjuk dokter.

Interaksi: 

Efek imunisasi dapat terpengaruh pada pemberian bersamaan dengan terapi imunosupresan atau pada kondisi imunodefisiensi.

Kontraindikasi: 

Hipersensitivitas terhadap zat aktif dan bahan tambahannya, telur, protein yang berasal dari ayam, neomisin, formaldehid, dan oktoksinol-9. Imunisasi harus ditunda sekurangnya 2 minggu pada pasien yang mengalami demam dan infeksi akut.

Efek Samping: 

Reaksi lokal: kemerahan, nyeri, bengkak, indurasi dan tekanan, tetapi dapat hilang segera. Reaksi sistemik: malaise, fatigue, gemetar, demam, berkeringat, sakit kepala, nyeri sendi dan otot. Gejala di atas hilang dalam 1-2 hari tanpa obat. Jarang: neuralgia, paraestesia, kejang dan trombositopenia sementara, alergi yang dapat menjadi renjatan, vaskulitis, gangguan saraf seperti ensefalomielitis, neuritis dan sindrom Gulliain-Barre.

Dosis: 

Anak mulai 36 bulan dan dewasa, 1 dosis 0,5 mL. Anak 6 – 35 bulan, 1 dosis 0,25 mL. Vaksin influenza diberikan secara intramuskular atau subkutan.