14.1 Kekebalan Aktif

Vaksin dapat mengandung:

  1. Virus yang dilemahkan (misalnya vaksin rubella, campak) atau bakteri yang dilemahkan (misalnya vaksin BCG)
  2. Virus yang diinaktivasi (contohnya vaksin influenza) atau bakteri yang diinaktivasi, atau
  3. Eksotoksin yang didetoksifikasi atau ekstrak dari eksotoksin yang dihasilkan oleh mikroorganisme (contohnya vaksin tetanus).

Vaksin merangsang produksi antibodi dan komponen lain dari mekanisme kekebalan tubuh.

Vaksin yang berasal dari virus atau bakteri hidup yang dilemahkan (Live attenuated vaccine) biasanya menghasilkan kekebalan yang bertahan lama tetapi tidak selalu selama infeksi alami. Bila diperlukan dua vaksin, (dan tidak tersedia sediaan vaksin kombinasi), maka kedua vaksin tersebut dapat diberikan bersamaan di tempat yang berbeda atau dengan interval paling sedikit 4 minggu. Vaksin yang berasal dari virus atau bakteri yang diinaktivasi (Inactivated vaccine) mungkin memerlukan satu rangkaian injeksi untuk menghasilkan respons antibodi yang adekuat dan pada kebanyakan kasus diperlukan ‘booster’. Lamanya kekebalan beragam dari beberapa bulan hingga beberapa tahun. Beberapa vaksin inaktif diadsorpsi ke dalam ajuvan (contohnya aluminium hidroksida) untuk meningkatkan respons antibodi.

EFEK SAMPING. Beberapa vaksin (contohnya poliomielitis) menimbulkan hanya sedikit sekali efek samping, sedangkan lainnya (contohnya campak dan rubella) dapat menimbulkan efek samping yang sangat ringan. Beberapa vaksin dapat menyebabkan sakit pada tempat penyuntikan serta demam ringan dan malaise. Terkadang dapat timbul reaksi yang lebih serius. Reaksi efek samping pasca imunisasi sering disebut KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) atau Adverse Event Following Immunization (AEFI) yaitu semua kejadian sakit dan kematian (yang diperkirakan karena imunisasi) yang terjadi dalam kurun waktu 1 bulan setelah imunisasi, namun pada keadaan tertentu lama pengamatan dapat mencapai 42 hari atau bahkan sampai 6 bulan. Reaksi KIPI harus dilaporkan kepada Komite Nasional KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi). Beberapa contoh KIPI yang harus dilaporkan dapat dilihat pada tabel 14.1.

Tabel 14.1 Reaksi KIPI yang harus dilaporkan

Periode

Kejadian

24 jam pasca imunisasi

• Reaksi anafilaktoid (reaksi hipersensitivitas akut)
• Anafilaksis
Persistent inconsolable screaming (Menangis keras dan tidak berhenti selama lebih dari 3 jam)
Hypotonic hyporesponsive episode (pasien lemas, tidak bereaksi terhadap rangsangan namun sadar dan tidak syok)
Toxic Shock Syndrome

5 hari pasca imunisasi

• Reaksi lokal hebat
• Sepsis
• Abses pada bekas suntikan

15 hari pasca imunisasi

• Kejang, termasuk kejang demam
• Ensefalopati

3 bulan pasca imunisasi

• Lumpuh layu
• Neuritis brakialis
• Trombositopenia

1-12 bulan pasca imunisasi

• Limfadenitis
• BCG-itis Diseminata (bakteri hidup BCG menyebar ke seluruh tubuh)
• Osteitis / Osteomielitis (infeksi bakteri hidup BCG pada tulang)

Reaksi anafilaksis sangat jarang terjadi namun dapat berakibat fatal (lihat 3.4.3 untuk tatalaksananya). Informasi lebih lengkap tentang efek samping dapat dilihat pada brosur atau informasi produk dari vaksin.

Demam pasca imunisasi pada bayi
Orangtua harus diberitahu bahwa bila terjadi demam setelah imunisasi, anak dapat diberi parasetamol, dan bila perlu dosis kedua dapat diberikan 6 jam sesudahnya. Ibuprofen dapat digunakan jika parasetamol tidak dapat ditolerir. Orangtua juga perlu diberitahu untuk mencari pertolongan medis apabila demam tetap ada.
Dosis parasetamol untuk demam pasca imunisasi pada bayi usia 2-3 bulan adalah 60 mg; sedangkan dosis ibuprofen adalah 50 mg (atau sesuai petunjuk dokter). Bila diperlukan, sediaan tetes oral dapat diperoleh di apotik.

KONTRAINDIKASI. Kebanyakan vaksin memiliki beberapa kontraindikasi dasar dan brosur produk harus selalu diperhatikan. Secara umum, vaksinasi harus ditunda bila pasien sedang menderita penyakit akut. Penyakit ringan tanpa demam atau tanpa gangguan sistemik bukan merupakan kontraindikasi. Reaksi anafilaksis yang terjadi setelah pemberian satu dosis vaksin merupakan kontraindikasi dosis berikutnya. Hipersensitif terhadap telur yang terbukti dengan reaksi anafilaksis sebelumnya, adalah kontraindikasi untuk vaksin influenza, vaksin ensefalitis yang ditularkan oleh tangan dan vaksin demam kuning. Beberapa vaksin virus mengandung sejumlah kecil antibakteri; vaksin seperti ini sebaiknya dihindarkan pemberiannya kepada pasien yang sangat sensitif terhadap antibakteri. Bahan tambahan lain pada vaksin dapat juga menyebabkan reaksi alergi walaupun jarang. Berikut ini beberapa eksipien yang ditambahkan pada vaksin dan produk imunologis:
     Gelatin              Penisillin
     Gentamisin        Polimiksin B
     Kanamisin         Streptomisin
     Neomisin           Thiomersal

Vaksin hidup tidak boleh rutin diberikan kepada wanita hamil karena dapat membahayakan janin tetapi bila ada risiko yang signifikan untuk terpapar (contohnya terhadap yellow fever), maka kebutuhan akan vaksinasi mengalahkan pertimbangan risikonya pada janin. Tanpa pertimbangan dokter ahli, vaksin hidup tidak boleh diberikan kepada individu dengan gangguan respons imun, baik akibat penyakit (terutama infeksi HIV lihat bagian selanjutnya) maupun akibat pengobatan dosis tinggi kortikosteroid atau obat imunosupresif lainnya. Vaksin hidup tidak boleh diberikan kepada pasien dengan keganasan (malignant condition) yang sedang diberi kemoterapi atau generalised radiotherapy1,2. Respon terhadap vaksin dapat berkurang, dan ada resiko terinfeksi vaksin hidup.

Suntikan intramuskular tidak boleh digunakan pada pasien dengan gangguan perdarahan seperti hemofilia atau trombositopenia. Vaksin yang biasanya diberikan secara intramuskular dapat diberikan secara subkutan pada pasien dengan gangguan perdarahan.

VAKSIN dan INFEKSI HIV. Pasien positif HIV dengan atau tanpa gejala dapat menerima vaksin hidup berikut ini:

MMR (tetapi tidak diberikan pada pasien dengan imunosupresi berat), varicella zoster (hindari jika kekebalan tubuh terganggu secara signifikan)3;

dan vaksin inaktif berikut:

kolera (oral), difteri, Haemophilus influenzae tipe B, hepatitis A, hepatitis B, influenza, meningokokus, pertusis, pneumokokus, poliomielitis4, rabies, tetanus, typhoid (injeksi).

Pasien (dan pada anak dengan) HIV positif tidak boleh menerima: BCG, yellow fever5

Catatan. Petunjuk di atas berbeda dengan petunjuk untuk pasien dengan gangguan sistem imun lainnya.

 

VAKSIN DAN ASPLENIA.

Vaksin berikut ini direkomendasikan untuk pasien dewasa dan anak tanpa kelenjar limpa atau dengan gangguan kelenjar limpa: Haemophilus influenza tipe b, meningokokal grup c, pneumokokus, influenza.

  1. Pemberian vaksin hidup harus ditunda hingga paling sedikit 3 bulan setelah pemberian kortikosteroid atau obat imunosupresif lainnya dihentikan dan 6 bulan setelah kemoterapi atau generalised radiotherapy dihentikan (sedikitnya 12 bulan setelah imunosupresan dihentikan setelah transplantasi sumsum tulang).
  2. Penggunaan imunoglobulin normal harus dipertimbangkan setelah terpapar pada campak dan imunoglobulin varisela zoster dipertimbangkan setelah terpapar pada cacar air atau herpes zoster.
  3. The Royal College of Paediatrics and Child Health di Inggris tidak merekomendasikan pemberian MMR (Measles Mumps Rubela) kepada anak dengan infeksi HIV sewaktu supresi sistem imun yang berat.
  4. Vaksin poliomielitis oral digunakan untuk imunisasi rutin pada anak.
  5. Bila risiko yellow fever tidak dapat dihindari, perlu dicari saran dari spesialis.

Lihat jadwal imunisasi anak dan dewasa pada tabel 14.2 dan tabel 14.3