13.5.3 Obat Yang Mempengaruhi Respons Imun

Obat-obat yang mempengaruhi respon imun digunakan untuk pengobatan eksim dan psoriasis. Penggunaan obat sistemik yang mempengaruhi sistem imun umumnya di bawah pengawasan dokter spesialis di rumah sakit.

Siklosporin oral dapat digunakan untuk psoriasis parah dan eksim parah. Metotreksat dapat digunakan untuk psoriasis parah, dosis disesuaikan menurut tingkat keparahan dan pengukuran hematologis dan biokimia; dosis lazim metotreksat adalah 10 sampai 25 mg sekali seminggu, per oral. Asam folat dapat diberikan untuk mengurangi toksisitas metotreksat yang mungkin timbul. Untuk psoriasis parah yang tidak dapat disembuhkan dengan pengobatan sistemik lainnya dan fotokemoterapi atau jika pengobatan lain tidak dapat ditoleransi, dapat digunakan efalizumab, yang menghambat aktivasi sel-T dan diindikasikan untuk plak psoriasis kronis sedang dan parah, atau penghambat sitokin etanersep; Etanersep dan infliksimab digunakan untuk psoriatik artritis. Pimekrolimus topikal diindikasikan untuk eksim topikal ringan sampai sedang. Penggunaan jangka pendek untuk mengobati gejala sedangkan penggunaan berselang untuk mencegah kekambuhan. Takrolimus topikal diindikasikan pada eksim atopikal sedang sampai berat. Keduanya merupakan obat yang penggunaan dan keamanannya pada penggunaan jangka panjang masih dievaluasi. Obat ini biasanya bukan merupakan pilihan pertama kecuali jika ada alasan khusus untuk menghindari atau mengurangi penggunaan kortikosteroid topikal. Pimekrolimus topikal dianjurkan digunakan untuk eksim sedang di bagian leher dan muka anak usia 2-16 tahun sedangkan takrolimus topikal digunakan untuk eksim atopik sedang sampai berat pada anak di atas 2 tahun.

Monografi: 

METOTREKSAT

Indikasi: 

psoriasis berat yang tidak terkendali dan tidak responsif terhadap terapi konvensional; Crohn's disease; keganasan, lihat 8.1.3; artritis reumatoid, lihat 10.1.3.

Peringatan: 

lihat pada 10.1.3-  juga fotosensitivitas lesi psoriasis diperparah oleh radiasi UV.
Metotreksat adalah antimetabolit yang toksik terhadap darah, paru, saluran cerna, dan lainnya untuk digunakan hanya oleh spesialis (lihat juga keterangan di atas, pada 10,1.3 dan keterangan pada produk); pemeriksaan yang diperlukan sebelum memulai pengobatan termasuk analisa hematologi lengkap, tes fungsi ginjal (dikontraindikasikan bila terdapat kerusakan signifikan) tes fungsi hati (dikontraindikasikan bila abnormal, lihat di bawah) dilanjutkan dengan monitoring yang terus menerus; juga dikontraindikasikan pada kehamilan (bila diberikan, pada wanita atau pria, hindarkan konsepsi untuk paling sedikit 6 bulan setelah dihentikan) dan menyusui (lihat obat Sitotoksik) sindrom imunodefisiensi; juga dapat mengurangi kesuburan pria atau wanita (efek rupanya reversibel); harus sangat hati-hati pada ulkus peptikum, kolitis ulseratif, diare dan stomatitis ulseratif (hentikan bila stomatitis timbul mungkin tanda pertama dari toksisitas saluran cerna); fotosensitivitas lesi psoriasis diperparah oleh radiasi UV (ulserasi kulit dilaporkan);
SEL DARAH. Supresi hematopoietik dapat timbul tiba-tiba (dengan dosis yang kelihatannya aman); menurunnya sel darah putih atau trombosit memerlukan penghentian metotreksat segera dan dilakukan terapi suportif.
TOKSISITAS HATI. Perhatian harus diarahkan kepada kemungkinan timbulnya toksisitas hati dengan menjalankan tes fungsi hati sebelum memulai metotreksat dan tiap 2-4 bulan selama terapi. Pengobatan tidak boleh dimulai bila terdapat kelainan tes fungsi hati atau biopsi hati pada permulaan atau harus dihentikan bila terdapat kelainan selama terapi. Kelainan ini dapat kembali normal dalam 2 minggu dan pengobatan boleh diteruskan bila dipandang perlu.
TOKSISITAS PARU. Mungkin merupakan masalah khusus pada artritis reumatoid (pasien harus menghubungi dokter segera bila dispnea atau batuk).
ASETOSAL dan AINS lain. Pemberian bersamaan dengan asetosal atau AINS lain dapat mengurangi eksresi metotreksat dan meningkatkan toksisitasnya. Bila asetosal atau AINS lain perlu diberikan bersamaan dosis metotreksat harus dimonitor secara hati-hati. Pasien harus diberi petunjuk untuk menghindari mengobati diri sendiri dengan asetosal atau ibuprofen.

Interaksi: 

lihat di bawah dan lampiran 1 (metotreksat).

Efek Samping: 

lihat pada 10.1.3.

Dosis: 

oral, 10-25 mg sekali tiap minggu, diatur sesuai dengan respons; LANSIA: pertimbangkan pengurangan dosis (ekstra hati-hati); ANAK tidak dianjurkan.
PENTING. Perhatikan bahwa dosis di atas adalah dosis mingguan.

PIMEKROLIMUS

Indikasi: 

dermatitis atopik (eksim).

Peringatan: 

cahaya ultraviolet (hindarkan pemaparan berlebihan terhadap sinar matahari dan cahaya lampu), hindarkan pengobatan topikal lainnya kecuali pelembap (emolien) pada lokasi pengobatan, konsumsi alkohol (risiko kemerahan pada wajah dan iritasi kulit).

Kontraindikasi: 

kontak dengan mata dan membran mukosa, penggunaan pada daerah oklusi, infeksi pada daerah pengobatan; congenital epidermal barrier defects; eritroderma secara umum.

Efek Samping: 

rasa terbakar, pruritus, eritema, infeksi kulit (termasuk folikulitis, dan tidak umum impetigo, herpes simplex dan zoster, molluscum contagiosum), jarang papiloma, reaksi lokal termasuk nyeri, paraestesia, pengelupasan, kering, udem, eksim yang memburuk dilaporkan keganasan pada kulit.

Penggunaan: 

gunakan dua kali sehari hingga gejala membaik.

SIKLOSPORIN

Indikasi: 

lihat di bawah dosis; indikasi untuk transplantasi dan pencangkokan, lihat 8.2.2.

Peringatan: 

lihat 8.2.2.

Interaksi: 

Lampiran 1 (siklosporin).

Kontraindikasi: 

EKSTRA HATI-HATI PADA DERMATITIS ATOPIK DAN PSORIASIS.
Dikontraindikasikan pada fungsi ginjal abnormal, hipertensi yang tidak terkendali (lihat juga di bawah) infeksi tidak terkendali, dan keganasan (lihat juga di bawah). Pemeriksaan dermatologis dan fisik, termasuk tekanan darah dan pengukuran fungsi ginjal diperlukan paling sedikit dua kali sebelum memulai pengobatan; hentikan bila timbul hipertensi yang tidak dapat dikontrol dengan pengurangan dosis siklosporin atau dengan terapi antihipertensi; hindarkan pemaparan yang berlebihan terhadap sinar matahari dan penggunaan UVB atau PUVA; pada dermatitis atopik, usahakan herpes simplex bersih dahulu sebelum memulai pengobatan (bila timbulnya dalam masa pengobatan, hentikan bila cukup parah); infeksi kulit dengan Stafilokokus aureus bukan kontraindikasi mutlak asalkan dapat dikendalikan, hindarkan penggunaan eritromisin kecuali bila tidak ada alternatif lain lihat Interaksi: Lampiran 1 (siklosporin); pantau serum kreatinin tiap 2 minggu; pada psoriasis, juga singkirkan adanya keganasan kulit (termasuk pada kulit dan serviks) sebelum memulai (buatlah biopsi pada luka yang tidak khas psoriasis) dan obatilah pasien yang memperlihatkan kondisi malignan atau premalignan hanya setelah pengobatan yang tepat (dan bila tidak ada pilihan lain); pantau kreatinin serum tiap 2 minggu untuk 3 bulan pertama, kemudian tiap 2 bulan (tiap bulan bila dosis lebih dari 2,5 mg/kg bb tiap hari) kurangi dosis 25-50% bila kreatinin naik lebih dari 30% di atas nilai semula (walau dalam rentang normal) dan hentikan bila pengurangan dosis tidak berhasil menurunkan kreatinin dalam 1 bulan; juga hentikan bila kelainan limfoproliferatif timbul.

Efek Samping: 

lihat 8.2.2.

Dosis: 

DEWASA lebih dari 16 tahun, oral, pemberian sesuai dengan petunjuk ahli.Pengobatan jangka pendek (maksimum 8 minggu) untuk dermatitis atopik parah di mana terapi konvensional tidak lagi efektif atau sesuai, dosis awal 2,5 mg/kg bb sehari dalam 2 dosis terbagi, bila tidak dicapai respons awal yang baik dalam 2 minggu, tingkatkan dengan cepat hingga maksimum 5 mg/kg bb sehari; dosis awal 5 mg/kg bb sehari dalam 2 dosis terbaik bila sangat parah; Tidak direkomendasikan untuk ANAK kurang dari 16 tahun.
Psoriasis berat yang tidak efektif atau tidak sesuai dengan terapi konvensional, dosis awal 2,5 mg/kg bb tiap hari dalam 2 dosis terbagi; tingkatkan bertahap sampai maksimum 5 mg/kg bb sehari bila tidak ada perbaikan dalam 1 bulan (hentikan bila respons tetap tidak memadai setelah 6 minggu); dosis awal 5 mg/kg bb sehari dibenarkan bila diperlukan perbaikan yang cepat; Tidak dianjurkan untuk ANAK kurang dari 16 tahun.
PENTING. Untuk sediaan dan konseling dan petunjuk untuk mengganti sediaan, lihat 8.2.2.

TAKROLIMUS

Indikasi: 

atopic dermatitis (eksim) pada pasien yang tidak memberikan respon atau intoloreran pada pengobatan lain untuk dewasa dan anak di atas 2 tahun sebagai pengobatan jangka pendek dan sementara.

Peringatan: 

infeksi pada tempat pengobatan, sinar UV (hindari paparan berlebih sinar matahari dan sinar lampu), konsumsi alkohol (risiko facial flushing dan iritasi kulit)

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (Takrolimus).

Kontraindikasi: 

hipersensitif terhadap makrolida; hindari kontak dengan mata dan membran mukosa, pengolesan pada tempat luka, congenital epidermal barrier defects, eritroderna umum, kehamilan dan menyusui.

Efek Samping: 

reaksi pada tempat pengolesan termasuk kemerahan, iritasi, nyeri dan paraestesia; infeksi herpes simpleks, erupsi Kaposi's varicellaform; tidak umum jerawat, rosasea dan juga dilaporkan keganasan pada kulit.

Dosis: 

Dewasa dan Remaja di atas 16 tahun: pada awal pemberian gunakan salep takrolimus dengan kekuatan 0,1%. Oleskan tipis dua kali sehari sampai lesi hilang (pertimbangan pengobatan lain jika tidak terjadi perbaikan setelah 2 minggu); turunkan menjadi sekali sehari atau gunakan salep dengan kekuatan 0,03% jika kondisi klinik memungkinkan; Anak : 2-15 tahun, awali dengan salep kekuatan 0,03% dua kali sehari selama 3 minggu kemudian turunkan menjadi sekali sehari sampai lesi hilang.