13.10.2 Anti Jamur

Kebanyakan infeksi lokal diobati dengan sediaan topikal. Terapi sistemik (lihat 5.3) diperlukan untuk infeksi kuku atau kulit kepala atau infeksi kulit yang meluas dan menyebar atau sukar diatasi. Sebaiknya dilakukan uji kerok kulit bila dipertimbangkan terapi sistemik atau diagnosis masih meragukan.

DERMATOFITOSIS. Infeksi ringworn dapat mengenai kepala (tinea capitis), badan (tinea corporis), selangkangan (tinea cruris), tangan (tinea manuum), kaki (tinea pedis, athlete’s foot), atau kuku (tinea unguium). Tinea capitis sering terjadi pada masa kanak-kanak. Infeksi pada kulit kepala diobati sistemik (lihat 5.3), sebagai tambahan antijamur topikal dapat digunakan untuk mengurangi resiko penyebaran. Kebanyakan infeksi ringworn lokal lainya dapat diobati dengan sediaan antijamur (termasuk sampo). Semua antijamur imidazol seperti klotrimazol, ekonazol, ketokonazol, mikonazol, dan sulkonazol efektif. Krim terbinafin juga efektif. Antijamur topikal lain adalah amorolfin, griseofulvin dan undececonat. Salep asam benzoat (Whitfield’s salep) juga dapat digunakan untuk infeksi ringworn tetapi secara kosmetik kurang dapat diterima dibandingkan sediaan dengan nama dagang. Sampo mengandung selenium sulfida atau ketokonazol dapat digunakan pada awal terapi untuk mengurangi risiko perpindahan infeksi. Anak lain dalam keluarga yang sama sebaiknya diterapi juga dengan sampo antijamur.

Serbuk tabur anti jamur hanya sedikit memberi manfaat pada infeksi jamur pada kulit dan mengakibatkan iritasi kulit; tetapi mungkin diperlukan untuk mencegah infeksi ulang. Infeksi tinea pada kuku selalu diobati secara sistemik; penggunaan topikal amorolfine atau tiokonazol efektif untuk pengobatan onychomycosis yang masih baru, apabila infeksi masih ringan dan maksimal 2 kuku terkena. Infeksi tinea corporis dan tinea pedis pada anak memberikan respon terhadap sediaan topikal imidazol (klotrimazol,ekonazol,ket okonazol,mikonazol atau sulkonazol) atau krim terbinafin. Nistatin kurang efektif mengatasi tinea.

PITYRIASIS VERSICOLOR. Pityriasis (tinea) versicolor dapat diobati dengan sampo ketokonazol.

Antijamur topikal golongan imidazol yaitu klotrimazol, ekonazol,ketokonazol,mikonazol, dan sulkonazol serta terbinafin topikal merupakan alternatif namun memerlukan jumlah yang banyak. Jika pengobatan secara topikal gagal, atau jika infeksi semakin menyebar luas, pityriasis versicolor diobati secara sistemik dengan antijamur golongan triazol. Kekambuhan umum terjadi terutama pada keadaan immune-compromised.

KANDIDIASIS. Infeksi kandida pada kulit dapat diobati dengan antijamur imidazol seperti klotrimazol, ekonazol, ketokonazol, mikonazol, dan sulkonazol; serta terbinafin topikal sebagai alternatif. Pemakaian nistatin topikal juga efektif untuk kandidiasis tetapi tidak efektif untuk dermatofitosis. CHEILITIS ANGULAR. Salep nistatin digunakan untuk fisura cheilitis angular yang disebabkan kandida.

SEDIAAN CAMPURAN TOPIKAL. Kombinasi imidazol dan kortikosteroid ringan (1%) dapat digunakan untuk pengobatan eksim intertrigo dan dalam beberapa hari pertama pada inflamasi berat infeksi ringworn. Kombinasi kortikosterid ringan dan imidazol lain atau nistatin dapat digunakan untuk pengobatan intertrigo yang disebabkan kandida.

Perhatian: hindari kontak dengan mata dan mukosa membran.

Efek samping: ritasi lokal dan reaksi hipersensitif, sedikit rasa panas, eritema dan gatal. Pengobatan dihentikan bila efek samping bertambah berat.

Antijamur lain yang beredar di Indonesia antara lain: bifonazole (Mycospor-Bayer) oksikonazol nitrat (Oceral-Roche) haloprogin (Polik-Meiji), klotrimazol (Canesten-Bayer), mikonazol nitrat (Daktarin-Janssen).

Monografi: 

AMOROLFINE

Indikasi: 

infeksi jamur pada kulit dan kuku.

Peringatan: 

kehamilan, menyusui; hindarkan mata, telinga, dan membran mukosa.

Efek Samping: 

kadang-kadang perasaan terbakar (tidak lama) kemerahan, gatal.

Penggunaan: 

infeksi jamur di kulit, oleskan sekali tiap hari setelah dibersihkan pada malam hari untuk paling sedikit 2-3 minggu (hingga 6 minggu untuk mikosis kaki) dilanjutkan untuk 3-5 hari setelah sembuhinfeksi jamur kuku, oleskan pada kuku terinfeksi 1-2 kali seminggu setelah diamplas dan dibersihkan; biarkan mengering (kira-kira 3 menit); obati kuku jari selama 6 bulan; kuku kaki 9-12 bulan (periksalah kembali dengan interval 3 bulan).

ASAM BENZOAT

Indikasi: 

ringworm (tinea) tetapi lihat keterangan di atas.

Penggunaan: 

oleskan dua kali sehari.

ASAM SALISILAT

Indikasi: 

infeksi kulit fungal, khususnya tinea.

Efek Samping: 

reaksi hipersensitivitas.

EKONAZOL NITRAT

Indikasi: 

infeksi jamur pada kulit; vaginal kandidiasis (7.2.2).

Peringatan: 

lihat keterangan di atas.

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas.

Penggunaan: 

oleskan 2-3 kali sehari untuk 14 hari setelah lesi sembuh.

KETOKONAZOL

Indikasi: 

infeksi jamur pada kulit; infeksi jamur sistemik atau yang resisten (pada 5.2); vulval kandidiasis (pada 7.2.2).

Peringatan: 

lihat keterangan di atas.

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas.

Penggunaan: 

oleskan 1-2 kali sehari, selama beberapa hari setelah lesi sembuh, kecuali untuk dermatitis seboroik dan pityriasis versicolor.
Untuk dermatitis seboroik dan ketombe digunakan dua kali seminggu untuk 2-4 ming-gu; untuk pityriasis versicolor sekali sehari untuk maksimum 5 hari; tunggu 2 minggu setelah pengobatan kortikosteroid topikal.

Keterangan: 

Dapat dijual bebas umum untuk pencegahan dan pengobatan ketombe dan dermatitis seboroik pada kulit kepala sebagai formulasi sampo mengandung ketokonazol maksimal 2%, dalam botol maksimal 120 mL dan di label disebut penggunaan maksimal sekali tiap 3 hari.

KLOTRIMAZOL

Indikasi: 

infeksi jamur pada kulit.

Efek Samping: 

kadang-kadang iritasi kulit atau sensitivitas.

Penggunaan: 

oleskan 2-3 kali sehari selama 14 hari setelah lesi sembuh.

MIKONAZOL NITRAT

Indikasi: 

infeksi jamur pada kulit.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas.

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas.

Penggunaan: 

oleskan dua kali sehari untuk 10 hari setelah lesi sembuh; infeksi kuku, oleskan tiap hari dengan perban oklusif.

MIKONAZOL + ZINK OKSIDA

Indikasi: 

Dermatitis popok infeksi kering dan basah (diaper dermatitis), superinfeksi dengan Candida spp.

Peringatan: 

Kehamilan, menyusui, kontak dengan mata, luka terbuka.

Interaksi: 

Penggunaan secara sistemik menghambat kerja CYP3A4/CYP2C9, antikoagulan oral (warfarin): monitor efek antikoagulan, hipoglikemik oral dan fenitoin: meningkatkan risiko efek samping hipoglikemik oral dan fenitoin. 

Kontraindikasi: 

Hipersensitivitas.

Efek Samping: 

Tidak umum: kemerahan. Sangat jarang: reaksianafilaktik, hipersensitivitas, kulit rasa terbakar, eritema.

Penggunaan: 

Digunakan pada semua tempat yang terkena infeksi tiap kali ganti popok dan sesudah mandi. Sebelum penggunaan, bersihkan kulit dengan air hangat dan keringkan dengan hati-hati. Pengobatan dilanjutkan hingga semua tanda kemerahan hilang.

NISTATIN

Indikasi: 

infeksi kulit karena Candida sp.

Penggunaan: 

oleskan 2-4 kali sehari, selama 7 hari setelah lesi sembuh.

SULKONAZOL NITRAT

Indikasi: 

infeksi jamur pada kulit.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas- hindarkan kontak dengan mata (perubahan lensa pada hewan percobaan setelah dosis oral yang tinggi).

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas.

Penggunaan: 

oleskan 1-2 kali tiap hari untuk 2 - 3 minggu setelah lesi sembuh.

TERBINAFIN

Indikasi: 

infeksi jamur pada kulit.

Peringatan: 

kehamilan, menyusui; hindarkan kontak dengan mata.

Efek Samping: 

kemerahan, gatal, atau perasaan tertusuk; jarang reaksi alergis (hentikan).

Penggunaan: 

oleskan tipis 1-2 kali sehari hingga 1 minggu pada Tinea pedis; 1-2 minggu pada Tinea corporis dan Tinea kuris, 2 minggu pada kandidiasis kulit dan Pitysiaris versicolor; nilai kembali setelah dua minggu; pada ANAK tidak dianjurkan.

TIOKONAZOL

Indikasi: 

infeksi jamur pada kulit.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas.

Kontraindikasi: 

kehamilan.

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; iritasi lokal, biasanya selama minggu pertama pengobatan, hentikan bila reaksi sensitivitas timbul.

Penggunaan: 

infeksi jamur pada kuku, oleskan pada kuku dan kulit sekitar dua kali sehari hingga 6 bulan (dapat diperpanjang hingga 12 bulan).