13.10.1 Antibakteri

13.10.1.1    Antibakteri Yang Hanya Digunakan Topikal
13.10.1.2    Antibakteri Yang Juga Digunakan Sistemik

Selulitis, peradangan kulit dan jaringan sub kutan dengan letak yang dalam dan cepat menyebar, memerlukan pengobatan antibakteri sistemik, karena sering ada infeksi stafilokokus. Infeksi pada kaki bagian bawah atau infeksi yang menyebar di sekitar luka hampir selalu merupakan selulitis. Erisipelas, infeksi pada permukaan kulit dengan batas yang jelas (dan kadang mengenai wajah) juga diobati dengan antibakteri sistemik, biasanya adanya infeksi streptokokus.

Pada anak, sediaan antibakteri topikal digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri pada kulit lokal, yang disebabkan oleh organisme Gram positif (terutama stafilokokus atau streptokokus). Terapi sistemik antibakteri lebih sesuai untuk infeksi kulit yang dalam. Permasalahan akibat penggunaan antibakteri topikal meliputi resistensi bakteri dan sensitisasi akibat adanya kontak. Untuk mengurangi risiko resistensi, antibakteri yang digunakan secara sistemik (misal asam fusidat) tidak boleh digunakan untuk topikal. Neomisin yang digunakan secara topikal dapat menyebabkan sensitisasi dan sensitivitas silang dengan aminoglikosida lain seperti gentamisin. Antibakteri topikal yang digunakan secara luas dapat menyebabkan toksisitas sistemik. Ototoksisitas neomisin dan polimiksin merupakan salah satu risiko yang dapat terjadi pada anak dan neonatus, dan risikonya semakin besar dengan adanya gangguan fungsi ginjal.

Infeksi bakteri pada permukaan kulit dapat diatasi dengan antiseptik topikal seperti povidon iodin (13.11) yang juga dapat melunakkan kerak. Infeksi bakteri seperti impetigo dan folikulitis dapat diatasi dengan penggunaan jangka pendek antibakteri topikal seperti mupirosin atau asam fusidat. Impetigo akut dengan area kecil dapat diobati dengan penggunaan topikal jangka pendek asam fusidat; mupirosin hanya digunakan untuk methicillin-resisten Staphylococcus aureus (MRSA) atau bila luas, dengan pemberian oral fluklosasilin atau eritromisin (lihat 5.1 tabel 1). Antiseptik ringan seperti povidon iodin (lihat 13.11.4) digunakan untuk melunakkan krusta dan eksudasi. Walau ada banyak obat antibakteri yang dipakai dalam sediaan topikal tetapi beberapa diantaranya dapat menimbulkan bahaya dan jika tindakan higienis dapat dilakukan seringkali penggunaanya tidak diperlukan. Terlebih lagi tidak semua kondisi kulit yang berair, membentuk krusta, atau ditandai oleh pustul, benar terinfeksi. Antibiotik topikal sebaiknya dihindari pada ulkus tungkai kecuali bila digunakan untuk jangka waktu pendek untuk infeksi yang sudah ditegakkan; pengobatan untuk kolonisasi bakteri biasanya tidak tepat.

Untuk membatasi tumbuhnya organisme yang resisten dianjurkan untuk membatasi pilihan hanya pada antibiotik yang dioleskan, antibiotik yang tidak digunakan secara sistemik. Tetapi beberapa diantaranya, seperti neomisin, dapat menyebabkan sensitisasi, dan terdapat sensitivitas silang dengan antibiotik aminoglikosid seperti gentamisin. Bila daerah kulit yang akan diobati luas, antibiotik aminoglikosid (dan juga polimiksin) bisa menimbulkan ototoksisitas terutama pada anak, pasien lanjut usia, dan pada pasien dengan kerusakan ginjal. Organisme resisten biasanya terdapat di rumah sakit, dan bila mungkin swab untuk kultur bakteri sebaiknya diambil sebelum pengobatan dimulai. Mupirosin tidak berhubungan dengan antibiotika manapun; obat ini efektif untuk infeksi kulit, khususnya untuk organisme Gram positif, tetapi tidak diindikasikan untuk infeksi pseudomonas. Walau strain stafilokokus aureus dengan derajat resistensi rendah terhadap mupirosin mulai timbul, mupirosin biasanya bermanfaat bila ada infeksi yang resisten. Untuk menghindarkan timbulnya resistensi, obat tidak boleh digunakan lebih lama dari sepuluh hari dan penggunaan di rumah sakit dapat dilakukan setelah ada kajian mikrobiologi.

Salep mupirosin mengandung makrogol; absorpsi yang berlebih dari makrogol melalui membran mukosa atau melalui penggunaan pada kulit atau luka terbuka dapat menyebabkan toksisitas pada ginjal, terutama pada neonatus. Salep mupirosin nasal dengan basis parafin lebih sesuai untuk pengobatan luka terbuka pada neonatus yang terinfeksi MRSA.

Gel metronidazol digunakan secara topikal pada anak untuk mengurangi bau yang disebabkan oleh infeksi bakteri anaerob dan untuk terapi periorificial rosacea (13.6); metronidazol oral (5.5.2) digunakan untuk mengatasi luka akibat infeksi bakteri anaerob.

Perak sulfadiazin digunakan untuk pencegahan dan pengobatan luka bakar yang terinfeksi. Namun, penggunaan perban yang sesuai lebih efektif. Efek sistemik dapat terjadi pada penggunaan perak sulfadiazin secara luas. idak direkomendasikan penggunaannya pada neonatus.