12.3.1 Obat untuk Ulserasi dan Inflamasi Mulut

Ulserasi mukosa oral dapat disebabkan oleh trauma (fisik atau kimia-[sambal dan cabe di Indonesia]), afteous ulcus kambuhan, infeksi, karsinoma, gangguan dermatologis, kekurangan gizi, penyakit gastrointestinal, gangguan hematopoetik, dan penggunaan obat tertentu. Penting untuk menetapkan diagnosis dalam tiap kasus karena mayoritas kelainan ini membutuhkan penanganan yang spesifik disamping pengobatan lokal. Pasien dengan ulserasi mulut yang tak jelas selama lebih dari 3 minggu memerlukan rujukan ke rumah sakit untuk meyakinkan bukan kanker mulut. Pengobatan lokal bertujuan melindungi daerah yang terulserasi atau untuk mengurangi nyeri/radang, atau mengontrol infeksi sekunder.

PENCUCIAN MULUT SEDERHANA. Larutan garam atau pencuci mulut (mouth wash) campuran timol gliserin (lihat 12.3.4) dapat mengurangi nyeri trauma ulserasi. Pencuci mulut dicampur dalam air hangat dan digunakan sesering mungkin sampai rasa tidak enak dan bengkak berkurang. PENCUCI MULUT ANTISEPTIK. Infeksi bakteri sekunder mungkin merupakan ciri ulserasi mukosa; infeksi ini dapat meningkatkan rasa tidak enak dan menghambat penyembuhan ulcer. Penggunaan klorheksidin atau pencuci mulut povidon iodine (lihat 12.3.4) biasanya berguna dan dapat mempercepat penyembuhan afteous ulcus kambuhan, bila penyebabnya infeksi bakteri.

PERLINDUNGAN MEKANIS. Pasta karmellose gelatin dapat mengurangi rasa tidak enak yang timbul dari ulserasi dengan melindungi ulcer. Pasta melekat dengan mudah pada mukosa kering, tetapi sulit untuk mengoleskannya pada beberapa bagian lain dari mulut.

KORTIKOSTEROID. Terapi kortikosteroid topikal dapat digunakan untuk beberapa bentuk ulserasi mulut. Pada afteous ulcus, paling efektif bila diberikan dalam fase ‘prodromal’.

Jamur atau kandidiasis bentuk lain adalah komplikasi yang diketahui sebagai efek dari pengobatan kortikosteroid.

Tablet hidrokortison mukosa oral dibiarkan mencair di sekitar ulkus dan berguna dalam afteous ulcus kambuhan dan lichen planus erosif.

Pasta gigi triamsinolon dirancang untuk menjaga kortikosteroid tetap lekat pada mukosa cukup lama untuk memungkinkan penetrasi lesi, tetapi sulit bagi pasien untuk menggunakan sebagaimana mestinya.

Terapi sistemik kortikosteroid dikhususkan untuk kondisi yang berat seperti pemfigus vulgaris (lihat 6.3).

ANALGESIK LOKAL. Analgesik lokal memiliki keterbatasan dalam penatalaksanaan ulserasi mulut. Bila diberikan secara topikal kerjanya relatif singkat sehingga analgesia tak dapat dipertahankan secara terus-menerus selama sehari. Indikasi penting untuk analgesik lokal topikal adalah untuk mengurangi nyeri hebat, terutama bila afteous ulcus -nya besar. Untuk tujuan ini salep lignokain 5% atau lozenges yang mengandung anestetik lokal diberikan pada ulkus. Ketika menggunakan anestetik lokal pada mulut, dibutuhkan kehati-hatian agar tidak timbul anestesia di faring sebelum makan, karena hal ini dapat menimbulkan gangguan menelan (tersedak).

Benzidamin obat kumur atau semprot mulut berguna dalam mengurangi rasa tidak enak yang berhubungan dengan beberapa jenis ulserasi. elah pula ditemukan bahwa benzidamin efektif untuk mengurangi rasa tidak enak pada mukositis pascaradiasi. Beberapa pasien menyatakan bahwa pencuci mulut yang kental terasa menyengat, sehingga untuk mereka larutan ini sebaiknya diencerkan dengan air bervolume sama.

Kolin salisilat gel gigi memiliki daya analgesik dan dapat mengurangi nyeri afteous ulcus kambuhan, tetapi penggunaan berlebihan atau penempatan di bawah gigi palsu dapat mengiritasi mukosa dan menyebabkan ulserasi. Kegunaan dalam pertumbuhan gigi mungkin hanya disebabkan penekanan saat pengolesan (setara dengan menggigit teething ring); pemakaian berlebihan dapat menimbulkan keracunan salisilat.

Lozenges Flurbiprofen, direkomendasikan untuk mengurangi sakit tenggorokan. SEDIAAN LAIN. Gel atau pencuci mulut karbenoksolon mungkin mempunyai sedikit manfaat. Doksisiklin yang di kumur dalam mulut dapat pula berguna untuk afteous ulcus yang kambuh.

Periodontitis. Doksisiklin dosis rendah direkomendasikan sebagai terapi tambahan untuk pembersihan karang gigi dan akar gigi untuk pengobatan periodontitis; doksisiklin dosis rendah menurunkan aktifitas kolagenase tanpa menghambat bakteri yang terkait dengan periodontitis.

Monografi: 

BENZIDAMIN HIDROKLORIDA

Indikasi: 

kondisi inflamasi orofaring yang sakit.

Efek Samping: 

rasa menyengat atau kekakuan.

KARBENOKSOLON NATRIUM

Indikasi: 

lesi oral dan perioral ringan.

Penggunaan: 

gunakan setelah makan dan menjelang tidur.

KORTIKOSTEROID

Indikasi: 

luka oral dan perioral.

Kontraindikasi: 

infeksi oral yang tidak diobati.

Efek Samping: 

kadang-kadang terjadi eksaserbasi infeksi lokal; sariawan atau infeksi kandida yang lain.

Penggunaan: 

pasta oral, triamsinolon asetonid 0,1%.
DEWASA dan ANAK, oleskan lapisan tipis 2-4 kali sehari; jangan digosok; penggunaan dibatasi hingga 5 hari untuk anak dan penggunaan jangka pendek juga dianjurkan untuk pasien lansia.

ANESTETIK LOKAL

Indikasi: 

mengurangi nyeri pada luka oral.

Peringatan: 

hindari penggunaan berkepanjangan; hipersensitivitas; kehamilan (lihat Lampiran 4); hindari anestesia pada faring sebelum makan-risiko tersedak Anestetik lokal dipakai dalam beberapa sediaan ulkus mulut, untuk rinciannya lihat penjelasan di bawah. Anestetik lokal juga dipakai dalam beberapa lozenges tenggorokan dan spray, lihat 12.3.3.

SALISILAT

Indikasi: 

luka oral ringan dan perioral.

Peringatan: 

tidak boleh mengenai gigi palsu- beri interval waktu 30 menit sebelum gigi palsu digunakan kembali; penggunaan yang sering, terutama pada anak, dapat menimbulkan keracunan salisilat.

Penggunaan: 

beri 3-4 kali sehari; tidak dianjurkan penggunaannya pada ANAK di bawah 12 tahun.

TETRASIKLIN

Indikasi: 

ulserasi kambuhan afte yang berat; herpes oral ( Lihat 12.3.2).

Efek Samping: 

superinfeksi jamur.