12.1.2 Otitis Media

OTITIS MEDIA AKUT. Otitis media akut adalah penyebab yang paling sering dari nyeri hebat pada sebagian kecil anak dan dapat terjadi bersamaan dengan infeksi saluran nafas atas derajad ringan. Beberapa infeksi khususnya yang berkaitan dengan coryza disebabkan oleh virus. Kasus yang tidak parah dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pemberian antibakteri dan mungkin sudah cukup dengan pemberian seperti parasetamol. Pada anak-anak tanpa gejala sistemik, pemberian antibakteri sistemik dapat diberikan setelah 72 jam jika tidak ada perbaikan atau dapat lebih awal jika tidak ada kerusakan. Pengobatan lokal otitis media akut tidak efektif dan penggunaan tetes telinga berisi anestetika lokal tidak dianjurkan sama sekali. Perforasi pada membran timpani yang dialami oleh pasien otitis media akut dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan. Jika tidak ada perbaikan, misalnya rasa nyeri atau serumen tetap ada, dapat diberikan antibakteri secara sistemik.

Pada dewasa, pada otitis media akut berulang, dapat diberikan antibakteri sistemik pada saat pertama kali muncul gejala infeksi saluran nafas atas. Pemberian antibakteri sistemik secara penuh diperlukan jika otitis media kambuh.

OTITIS MEDIA DENGAN EFUSI. Otitis media dengan efusi (‘glue ear ’, conge) terjadi pada 10% populasi anak dan pada 90% anak dengan celah palatum (cleft palates). Antibakteri sistemik, kortikosteroid, dekongestan dan antihistamin biasanya tidak dianjurkan untuk otitis media dengan efusi. Jika glue ear tetap terjadi selama lebih dari satu atau dua bulan, sebaiknya dikonsultasikan ke dokter; karena adanya risiko kerusakan permanen terhadap fungsi telinga yang dapat menyebabkan terhambatnya perkembangan kemampuan bicara. Otitis media dengan efusi (‘glue ear’) yang tidak ditangani atau pada kasus resisten dapat menyebabkan beberapa jenis otitis media kronis.

OTITIS MEDIA KRONIS. Mikroorganisme yang didapat dari pasien otitis media kronis sering disebabkan oleh kuman oportunis yang hidup dalam debris, keratin, dan tulang nekrotik yang ada dalam telinga tengah dan mastoid. Pengobatan utama adalah pembersihan dengan aural suction tube yang dapat mengendalikan infeksi yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Pembersihan secara lokal dari meatus dan telinga tengah dapat dilanjutkan dengan pengobatan dengan kain kasa yang dibasahi tetes telinga kortikosteroid atau dengan astringent seperti larutan aluminium asetat, yang bermanfaat untuk pengobatan telinga pada infeksi caviti mastoid. Salep antibakteri telinga juga dapat digunakan.

Eksaserbasi akut infeksi kronis mungkin memerlukan pengobatan sistemik dengan amoksisilin (atau eritromisin jika alergi terhadap penicillin) dan metronidazol (lihat 5.1). Pengobatan disesuaikan dengan hasil uji sensitivitas. Anti bakteri injeksi diperlukan jika disebabkan oleh Pseudomonas aeruginosa dan Proteus spp.

Penggunaan secara topikal dari antibakteri yang menyebabkan ototoksik dikontraindikasikan pada kasus yang disertai perforasi.

Namun, bila ada perforasi, banyak spesialis menggunakan tetes telinga yang mengandung aminoglikosida (seperti neomisin dan polimiksin) ketika otitis media gagal diobati dengan antibiotik sistemik; hal ini karena pus dalam telinga tengah pada otitis media menyebabkan risiko ototoksisitas yang lebih tinggi daripada obat tetesnya sendiri.