11.3 Midriatik dan Sikloplegik

Antimuskarinik melebarkan pupil dan melumpuhkan otot siliaris; keduanya berbeda dalam potensi dan lama kerja.

Midriatik yang relatif lebih lemah, kerja singkat, seperti tropikamid 0,5%, digunakan untuk funduskopi. Siklopentolat 1% atau atropin lebih disukai untuk memberikan sikloplegia untuk refraksi pada anak. Atropin 1% (dalam bentuk salep) kadang- kadang lebih disukai untuk anak di bawah usia 5 tahun karena absorbsi sistemiknya berkurang. Atropin yang kerjanya lebih lama (sampai dengan 7 hari) juga digunakan untuk pengobatan uveitis anterior terutama untuk mencegah posterior synechiae. Sering digunakan dengan tetes mata fenilefrin 10% (2,5% pada anak, pasien lansia, dan mereka yang berpenyakit jantung).

Homatropin 1% juga digunakan untuk pengobatan inflamasi segmen interior dan dianjurkan karena mula kerjanya lebih pendek.

PERINGATAN. Iris berpigmen gelap lebih resisten terhadap dilatasi pupil oleh karena itu perlu kehati-hatian untuk mencegah overdosis. Midriasis dapat menimbulkan glaukoma sudut sempit akut pada beberapa pasien, biasanya mereka berusia lebih dari 60 tahun dan hipermetropik (long-sighted) yang merupakan faktor predisposisi untuk glaukoma karena kamar anterior yang dangkal. Fenilefrin dapat berinteraksi dengan inhibitor monoamine-oksidase yang digunakan secara sistemik; lihat juga Lampiran 1 (simpatomimetik).

MENGEMUDI. Pasien sebaiknya diingatkan untuk tidak mengemudikan kendaraan selama 1-2 jam setelah mendapat midriatikum. EFEK SAMPING. Efek samping okular dari midriasis dan sikloplegik termasuk rasa pedih sementara dan peningkatan tekanan intraokular; pada pemberian jangka panjang dapat terjadi iritasi lokal, hiperaemia, udem, dan konjungtivitis. Dermatitis kontak cukup sering terjadi dengan obat midriatik antimuskarinik, khususnya atropin.

Selain itu, reaksi toksik sistemik pada atropin dan siklopentolat dapat terjadi pada pasien yang sangat muda dan sangat tua.