10.2.2 Pelemas Otot Skelet

Kelompok obat di bawah ini digunakan untuk mengatasi spasme otot atau kaku otot kronis yang disebabkan oleh multipel sklerosis atau kerusakan neurologik lain, tidak diindikasikan untuk mengatasi spasme karena luka atau cidera ringan. Obat ini bekerjanya di sistem saraf pusat (kecuali dantrolen), tidak seperti kelompok pelemas otot yang digunakan dalam anestesi yang bekerja dengan menghambat transmisi di simpul neuromuskular. Penyebab kejang sebaiknya diatasi dan faktor yang dapat memperburuk (misalnya infeksi atau beban tekanan) diobati. Pelemas otot yang bekerja sentral efektif untuk kebanyakan jenis kejang kecuali jenis alfa yang jarang. Salah satu kekurangan obat ini adalah hilangnya daya bidai otot dari otot-otot tulang belakang atau tungkai sehingga kadang menimbulkan kelumpuhan.

Dantrolen bekerja secara langsung pada otot rangka dan menghasilkan efek yang tidak diinginkan pada sistem saraf pusat lebih ringan, sehingga lebih dipilih. Dosis sebaiknya dinaikkan perlahan.

Baklofen menghambat transmisi di tingkat spinal dan menekan SSP. Peningkatan dosis sebaiknya dilakukan bertahap untuk menghindari efek samping sedasi dan hipotonia.

Diazepam juga digunakan sebagai pelemas otot rangka. Efek yang tidak diinginkan diantaranya sedasi dan ekstentor hipotonus (jarang terjadi). Benzodiazepin lain juga mempunyai aktivitas pelemas otot. Dosis pelemas otot benzodiazepin ini sama dengan dosis sebagai ansiolitik. Pada beberapa anak, efektivitas diazepam tidak diragukan lagi.

Tizanidin merupakan agonis alfa-2 adrenoreseptor yang digunakan untuk kekakuan yang berhubungan dengan multipel sklerosis atau cidera simpul saraf.

Monografi: 

BAKLOFEN

Indikasi: 

kaku otot kronis akibat kelainan sumsum tulang belakang seperti multiple sclerosis atau trauma tulang belakang.

Peringatan: 

gangguan fungsi ginjal (lihat Lampiran 3); kelainan psikiatris, penyakit serebrovaskuler, penyakit parkinson, lansia; gangguan pernafasan, epilepsi; riwayat tukak lambung; diabetes melitus; hipertonia sfingter kandung kemih; gangguan fungsi hati atau ginjal; kehamilan (lihat Lampiran 4); porfiria; hindari penghentian tiba-tiba.

Interaksi: 

lihat Lampiran 1.

Kontraindikasi: 

tukak peptik.

Efek Samping: 

sedasi, kantuk, mual; kepala terasa ringan; rasa malas, bingung, pusing, ataksia, halusinasi, sakit kepala, insomnia, euforia, depresi, tremor, nistagmus, paraestesia, kejang, nyeri dan lemah otot, depresi napas dan kardiovaskuler; hipotensi, mulut kering; gangguan saluran cerna dan saluran kemih; kadang-kadang gangguan penglihatan, berkeringat, perubahan rasa kecap, ruam, perubahan kadar gula darah, perubahan angka uji fungsi hati, kaku otot paradoks.

Dosis: 

oral, 5 mg 3 kali sehari, sebaiknya sesudah makan dan dinaikkan bertahap; maksimum 100 mg/hari.
ANAK: 0,75 - 2 mg/kg bb/hari; (anak di atas 10 th. 2,5 mg/kg bb/hari); atau untuk pemeliharaan 4 kali sehari 2,5 mg dinaikkan sesuai dengan usia: 1-2 tahun 10-20 mg/hari, 2-6 th 20-30 mg/hari, dan 6-10 th. 30-60 mg/hari.

DIAZEPAM

Indikasi: 

kejang otot oleh berbagai sebab.

Peringatan: 

lihat 4.1.2.

Efek Samping: 

lihat 4.1.2; juga hipotonia.

Dosis: 

oral: 2-15 mg/hari dalam dosis terbagi; dapat ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan sampai maksimal 60 mg/hari. Spastisitas serebral pada kasus tertentu. ANAK: 2-40 mg/hari dalam dosis terbagiInjeksi intramuskular atau injeksi intravena lambat: (ke dalam vena besar dengan kecepatan tidak lebih dari 5 mg/menit) pada spasmus otot akut 10 mg dapat diulang setiap 4 jam. Tetanus, ANAK dan DEWASA: 100-300 mcg/kg bb injeksi intravena diulang tiap 1-4 jam; atau infus intravena 3-10 mg/kg bb selama 24 jam.