PELEMAS OTOT LAIN

Beberapa obat di bawah ini digunakan sebagai pelemas otot. Walaupun khasiatnya sebagai pelemas otot belum diketahui pasti, obat-obat ini termasuk dalam kelompok analgesik.

Klorzoksazon secara kimia berbeda dari pelemas otot lainnya, tetapi berguna sebagai terapi tambahan pada terapi fisik dan upaya lain dalam penanganan spasme otot.

Monografi: 

KLORZOKSAZON

Indikasi: 

spasme otot rangka.

Peringatan: 

kegiatan yang memerlukan kewaspadaan; kehamilan; tak ada data untuk anak di bawah usia 12 tahun.

Kontraindikasi: 

porfiria.

Efek Samping: 

kantuk, pusing, kepala terasa ringan; lesu, kejang paradoks, sakit kepala, iritasi saluran cerna, kadang: perdarahan saluran cena dan reaksi hipersensitivitas.

Dosis: 

DEWASA: 3-4 kali 250-750 mg/hari; ANAK: 3-4 kali 125-500 mg/hari.

TIOKOLKISIDA

Indikasi: 

mengatasi gejala kejang otot pada punggung.

Peringatan: 

Tidak disarankan untuk digunakan pada anak; lakukan penyesuaian dosis jika terjadi diare.

Kontraindikasi: 

hipersensitif, kehamilan, menyusui.

Efek Samping: 

diare, gastralgia, mual, muntah, reaksi alergi (termasuk angioedema), reaksi anafilaktik setelah pemberian injeksi intramuskular, mengantuk.

Dosis: 

Oral: 2 kali sehari 8 mg (2 kapsul) selama 5-7 hari, Injeksi intramuskular 4 mg (1 ampul) 2 kali sehari, selama 3-5 hari.

TIZANIDIN

Indikasi: 

spastisitas yang berhubungan dengan multiple sclerosis atau cedera maupun penyakit pada sumsum tulang belakang.

Peringatan: 

lansia, gangguan fungsi ginjal (lihat Lampiran 3), kehamilan (lihat Lampiran 4), menyusui (lihat Lampiran 5), pantau fungsi ginjal setiap bulan selama 4 bulan pertama dan pada pasien yang mengalami mual yang tidak diketahui penyebabnya, anoreksia, lelah, penggunaan bersama dengan obat-obat yang dapat memperpanjang interval QT.

Interaksi: 

lihat Lampiran 1.

Kontraindikasi: 

gangguan fungsi hati berat.

Efek Samping: 

mengantuk, lelah, pusing, mulut kering, mual, gangguan saluran cerna, hipotensi, juga dilaporkan, bradikardi, insomnia, halusinasi dan perubahan enzim hati (hentikan pemakaian apabila gejala tersebut semakin sering terjadi).

Dosis: 

dosis awal 2 mg sehari sebagai dosis tunggal kemudian naikkan sesuai dengan respon yang didapat dengan interval kurang lebih 3-4 hari naikkan 2 mg per hari (diberikan dalam dosis terbagi) biasanya sampai dengan 24 mg sehari dalam dosis terbagi 3-4; dosis maksimum 36 mg sehari; ANAK tidak direkomendasikan.