ASETOSAL

Asetosal sejak lama digunakan sebagai analgesik anti inflamasi pilihan pertama namun kebanyakan dokter saat ini lebih memilih memulai pengobatan dengan AINS lain yang mungkin dapat ditoleransi dengan baik dan lebih nyaman bagi pasien.

Pada dosis tinggi, asetosal mempunyai aktivitas anti inflamasi yang setara dengan AINS lainnya. Dosis yang diperlukan untuk inflamasi sendi adalah setidaknya 3,6 g sehari. Untuk dosis di bawah 3 g sehari, efek anti inflamasinya hanya sedikit. Efek samping saluran cerna seperti mual, dispepsia, dan perdarahan saluran cerna dapat terjadi dengan asetosal dosis berapapun. Dosis sebagai anti inflamasi dikaitkan dengan kejadian efek samping yang lebih besar. Dosis anti inflamasi dari asetosal juga dapat menyebabkan intoksikasi salisilat kronik ringan (salisilisme), yang ditandai dengan pusing, tinnitus, dan ketulian. Gejala ini dapat diatasi dengan penurunan dosis.

Monografi: 

ASETOSAL (ASAM ASETILSALISILAT)

Indikasi: 

nyeri dan radang pada penyakit reumatik dan penyakit pada otot skelet lainnya (termasuk juvenil arthritis); lihat juga 4.7.1; antiplatelet, lihat 2.7.

Peringatan: 

asma, penyakit alergi, hipertensi tidak terkendali, gangguan fungsi hati (lihat Lampiran 2), gangguan fungsi ginjal (hindari jika berat) (lihat juga Lampiran 3), dehidrasi, kehamilan (khususnya pada trimester akhir) (lihat juga Lampiran 4), lansia; disarankan untuk dihindari selama demam atau terjadi infeksi virus pada pasien dewasa (berisiko menyebabkan sindrom Reye, lihat keterangan di bawah); defisiensi enzim G6PD (lihat 9.1.5).
SINDROM REYE. Karena hubungannya dengan sindrom Reye, direkomendasikan agar sediaan yang mengandung asetosal sebaiknya tidak diberikan kepada anak-anak di bawah usia 12 tahun, kecuali untuk indikasi khusus. Misalnya untuk juvenil arthritis (penyakit Still). Masyarakat perlu diinformasikan bahwa asetosal bukanlah obat yang cocok untuk anak-anak dengan (gejala) penyakit ringan.

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (Asetosal).

Kontraindikasi: 

tukak saluran cerna; anak-anak di bawah 12 tahun (kecuali untuk juvenil arthritis) dan ibu menyusui (berhubungan dengan sindrom Reye, lihat di atas) (lihat juga Lampiran 5); hemofilia dan kelainan perdarahan yang lain; bukan untuk pengobatan goutHIPERSENSITIVITAS. Asetosal dan AINS lain dikontraindikasikan pada pasien yang mempunyai riwayat hipersensitivitas kepada asetosal atau AINS lainnya-termasuk mereka yang terserang asma, angioedema, urtikaria atau rinitisnya dipicu oleh asetosal atau AINS yang lain.

Efek Samping: 

sebagaimana dengan dosis antiinflamasi; rasa tidak enak pada saluran cerna atau mual, tukak dengan perdarahan samar (terkadang perdarahan nyata), juga perdarahan lainnya (seperti perdarahan sub-konjungtiva); gangguan pendengaran seperti tinnitus (jarang yang mengarah kepada ketulian) vertigo, gangguan mental, reaksi hipersensitivitas (angioedema, bronkospasme dan ruam); memperpanjang waktu pendarahan; udem jarang, miokarditis, gangguan darah, terutama trombositopenia; overdosis: lihat penanganan darurat pada keracunan

Dosis: 

0,3-1 g setiap 4 jam; maksimum dalam kondisi akut 8 g sehari; ANAK, juvenil artritis, sampai 80 mg/kg bb/hari dalam 5-6 dosis terbagi, tingkatkan pada kambuhan akut sampai 130 mg/kg bb. Obat harus diminum sesudah makan. Catatan. Asetosal dosis tinggi jarang diperlukan dan sekarang hanya diberikan di bawah pengawasan spesialis, dan dengan pemantauan plasma (khususnya pada anak-anak).

Keterangan: 

Sediaan: Lihat 4.7.1.