10.1 Obat Reumatik dan Gout

10.1.1    Anti inflamasi nonsteroid (AINS)
10.1.2    Kortikosteroid
10.1.2.1 Kortikosteroid sistemik
10.1.2.2 Injeksi kortikosteroid lokal
10.1.3    Obat yang menekan proses penyakit reumatik
10.1.4    Obat gout dan hiperurisemia karena induksi sitotoksik
10.1.5    Golongan lain

Reumatik artritis dan penyakit inflamasi lainnya
Antiinflamasi non-steroid (AINS) diindikasikan untuk mengatasi nyeri dan kekakuan yang timbul akibat penyakit reumatik yang meradang.

Tersedia juga obat yang dapat mempengaruhi proses penyakit itu sendiri. Untuk reumatik artritis, Disease Modifying Anti Rheumatic Drugs (DMARDs) meliputi penisilamin, garam emas, antimalaria (klorokuin dan hidroksiklorokuin), obat-obat yang mempengaruhi respon imun, dan sulfasalazin. Selain itu kortikosteroid dapat juga bermanfaat. Obat yang dapat mempengaruhi proses penyakit pada psoriatic arthritis meliputi sulfasalazin, garam emas, azatioprin, metotreksat dan etanersep. Untuk pengendalian jangka panjang penyakit gout, dapat digunakan obat urikosurik dan alopurinol.

Juvenile idiopathic arthritis dan gangguan inflamasi lain pada anak. 
Penyakit rematik pada umumnya memerlukan penanganan simtomatik untuk mengatasi rasa nyeri, pembengkakan, kekakuan, bersamaan dengan pengobatan untuk menjaga dan menekan aktivitas penyakit. Penanganan juvenile idiopathic arthritis dapat melibatkan AINS, DMARDS (biasanya metotreksat atau etanersep), dan kortikosteroid oral, intravena, atau intraartikular.

Osteoartritis dan gangguan jaringan lunak
Pada osteoartritis (disebut juga penyakit sendi degeneratif pada dewasa dan anak) pendekatan non obat seperti penurunan berat badan dan upaya olahraga sebaiknya dilakukan. Penanganan kelainan pada persendian, luka atau ketegangan pada jaringan lunak meliputi istirahat sementara yang disertai dengan pemberian pemanas atau pendingin di sekitar jaringan yang sakit, pemijatan di sekitar jaringan dan fisioterapi. Untuk meredakan nyeri pada osteoartritis dan gangguan jaringan lunak, parasetamol umumnya mencukupi dan sebaiknya dipilih terlebih dahulu. Sebagai pilihan berikutnya dapat digunakan AINS dosis terapetik terendah (contohnya ibuprofen sampai dengan 1,2 g/hari). Jika nyeri tidak dapat diatasi secara memadai dengan kedua golongan obat tersebut, mungkin diperlukan parasetamol (dalam dosis dewasa maksimal 4 g/hari dan dosis anak maksimal 240 mg – 2 g/ hari tergantung usia) dan AINS dosis rendah. Pada dewasa, jika diperlukan dosis AINS dapat ditingkatkan atau diberikan analgesik opioid dosis rendah bersama parasetamol. Pemberian sediaan AINS topikal atau kapsaisin 0,025% dapat mengatasi nyeri pada osteoartritis.

Injeksi intraartikular kortikosteroid dapat memberikan manfaat sementara dalam penanganan osteoartritis terutama jika penyebabnya adalah inflamasi jaringan lunak.

Asam hialuronat dan turunannya tersedia untuk osteoartritis pada lutut. Natrium hialuronat dapat diinjeksikan secara intra artikular sebagai suplemen asam hialuronat alami dalam cairan sinovial. Injeksi ini dapat mengurangi nyeri selama 1-6 bulan namun hal ini dapat menyebabkan peningkatan inflamasi lutut jangka pendek.