1.8.1 Obat yang Mempengaruhi Komposisi dan Aliran Empedu

Batu empedu merupakan penyakit yang terjadi di saluran atau kandung empedu. Faktor pencetusnya meliputi hiperkolesterolemia, penyumbatan saluran empedu, dan radang saluran empedu. Berdasarkan komposisi kimianya, batu empedu dibedakan menjadi batu kolesterol atau batu kalsium bilirubinat.

Penggunaan teknik laparoskopi dan endoskopi telah membatasi penggunaan obat pada penyakit batu empedu. Terapi obat sesuai untuk pasien yang tidak dapat diobati dengan cara lain, yang gejalanya ringan, fungsi kandung empedu tidak terganggu dan ukuran batu empedu radiolusen kecil sampai sedang. Terapi obat tidak sesuai untuk batu yang radio-opak, yang tidak dapat larut. Pasien sebaiknya diberi nasehat tentang upaya diet yang sesuai (termasuk menghindari kolesterol dan kalori berlebihan) dan mereka memerlukan pemantauan radiologi. Pencegahan jangka panjang mungkin diperlukan setelah batu empedunya larut dengan sempurna, karena batu empedu dapat terbentuk kembali sampai dengan 25% pasien dalam satu tahun setelah obat dihentikan.

Obat yang sering digunakan untuk membantu melarutkan batu empedu adalah asam kenodeoksikolat dan asam ursodeoksikolat, yang bekerja mengurangi penjenuhan kolesterol empedu dengan cara mengurangi sekresi kolesterol dan meningkatkan sekresi asam empedu.

Asam ursodeoksikolat juga digunakan pada sirosis empedu primer, pemeriksaan hepar membaik pada kebanyakan pasien namun manfaat secara keseluruhan belum dapat dipastikan.

Monografi: 

ASAM KENODEOKSIKOLAT

Indikasi: 

pelarutan batu empedu

Peringatan: 

lihat keterangan di atas

Kontraindikasi: 

batu radio-opak, kehamilan (lihat Lampiran 2: kontrasepsi bukan hormonal harus digunakan oleh perempuan usia produktif), kandung empedu tidak berfungsi, penyakit hati kronik, penyakit radang dan kondisi lain dari usus halus dan kolon yang mengganggu entero-hepatik garam-garam empedu.

Efek Samping: 

diare terutama pada dosis awal yang tinggi (kurangi dosis selama beberapa hari), gatal-gatal, gangguan hati ringan dan transaminase serum naik sementara.

Dosis: 

10-15 mg/kg bb/hari sebagai dosis tunggal menjelang tidur malam dan dalam dosis terbagi selama 3-24 bulan (bergantung pada besarnya batu). Pengobatan diteruskan paling tidak selama 3 bulan setelah batunya melarut. Dianjurkan melakukan diet kolesterol rendah (meningkatkan laju pelarutan batu empedu sampai 2 kali lipat).

ASAM URSODEOKSIKOLAT

Indikasi: 

pelarutan batu empedu, sirosis empedu primer

Peringatan: 

lihat keterangan di atas

Interaksi: 

Lampiran 1 (Asam Ursodeoksikolat)

Kontraindikasi: 

batu radio-opak, batu kolesterol yang mengalami kalsifikasi, batu radiolusen, pigmen empedu; kolesistitis akut yang tidak mengalami remisi, kolangitis, obstruksi biliar batu pankreas atau fistula biliar gastrointestinal; kehamilan (lihat Lampiran 4), kandung empedu tidak berfungsi; penyakit radang dan kondisi lain dari usus halus; kolon yang menganggu sirkulasi enterohepatik garam-garam empedu; penderita dengan kalsifikasi batu empedu

Efek Samping: 

mual, muntah, diare, kalsifikasi batu empedu; pruritus, ruam kulit, kulit kering, keringat dingin, rambut rontok, gangguan pencernaan makanan, rasa logam, nyeri abdominal, kolesistitis, konstipasi, stomatitis, flatulen, pusing, lelah, ansietas, depresi, gangguan tidur, atralgia, mialgia, nyeri punggung, batuk, rinitis.

Dosis: 

pelarutan batu empedu, 8-12 mg/kg bb sehari dalam dosis tunggal menjelang tidur atau dalam 2 dosis terbagi sampai selama 2 tahun, obat diminum bersama dengan susu atau makanan; pengobatan dilanjutkan selama 3-4 bulan setelah batunya melarut.
Sirosis empedu primer: 10-15 mg/kg bb sehari dalam 2-4 dosis terbagi.
Pemutusan pemberian asam ursodeoksikolat selama 4 minggu berarti pengobatan harus dimulai lagi dari awal